RADARBANYUWANGI.ID - Naik mobil dinas kinyis-kinyis. Lengkap dengan pengawalan. Biasanya begitu. Kebanyakan pejabat ketika turun ke lapangan. Melakukan inspeksi. Di kantor-kantor di wilayah kerjanya.
Jarang ada yang naik kendaraan biasa. Diantara yang sedikit dan langka itu adalah Kombes Pol Dr Rofiq Ripto Himawan SIK SH MH. Kapolresta Banyuwangi. Sejak resmi menerima tongkat komando dari pendahulunya, Kombes Pol Dr Rama Samtama Putra, pada awal Januari 2026, Gus Iwan—panggilan karib Rofiq Ripto Himawan—rajin turba.
Ketika keliling ke kantor-kantor Mapolsek di wilayah Bumi Blambangan, Gus Iwan tidak mengendarai mobil dinas. Tapi naik vespa. Bukan vespa baru. Melainkan vespa butut: Vespa VBB 1962. Disebut butut karena usia kendaraan Italia itu.
Tua, memang. Tapi jangan ditanya kondisinya. Suaranya masih halus. Semriwing. Menunjukkan ia dirawat dengan sangat baik. Layaknya menjadi barang klangenan bagi pemiliknya. Gus Iwan menyebutnya vespa jaman perjuangan. Karena menjadi tunggangan kesayangannya sejak SMA.
Silakan hitung sendiri. Sudah berapa tahun vespa tersebut mendampingi juragannya. Pastinya, vespa unik itu sudah mengantarkan seorang Gus Iwan sampai di posisinya saat ini. Bahkan, akan terus mendampinginya. Menapaki posisi lebih tinggi lagi. Insyaallah. Aamiin….
Gus Iwan mengakui, vespa miliknya memang unik. ‘’Terkenal dengan nama Vespa Ndok. Vespa Telur,’’ ujarnya via WA ke HP saya, kemarin. Tentu, itu bukan sebutan biasa. Pasti yang memberi sebutan punya alasan khusus. Tapi, menilik warna catnya, vespa tersebut memang mirip warna telur. Abu-abu telur.
Sedangkan bodinya malah mirip lebah. Tawon. Itu sebabnya, kendaraan idola tahun 1980-an itu dinamakan vespa. Dalam bahasa Italia dan Latin, vespa berarti ‘’tawon alias lebah’’. Nama itu (vespa) diberikan oleh pemimpin perusahaan Piaggio, Enrico Piaggio.
Putra pendiri perusahaan induk Piaggio, Rinaldo Piaggio, itu bertanggung jawab penuh atas peluncuran vespa pertama (Vespa 98) pada April 1946. Selain suanya yang khas, bodi sekuternya juga unik. Bagian belakang lebar. Menggelembung. Terhubung dengam bagian depan (pijakan kaki yang sempit). Menyerupai pinggang tawon.
Yang perlu dicatat, Gus Iwan bervespa ke kantor-kantor polsek tidak untuk gaya-gayaan. Mengenang masa-masa SMA memang iya. Tapi, dia punya prinsip, kenangan indah itu harus berdampak positif bagi kehidupan. Sebut saja, kenangan saat SMA itu sebagai masa ia mulai membangun peradaban. Maka, batu peradaban yang sudah disusunnya itu tidak boleh berhenti. Sebaliknya, harus terus disempurnakan.
Sebab, peradaban itu dinamis. Tidak salah bila dikatakan peradaban selalu berkelindan dengan masa lalu. Sudah ribuan bahkan jutaan tahun manusia membangun peradaban. Lahirlah bangunan megah, teknologi canggih, infrastruktur kota yang memukau, dan sistem kemasyarakatan yang berkembang.
Tapi, Gus Iwan memilih membangun peradaban dari yang sangat sederhana. Bahkan, mungkin orang mengatakan itu remeh temeh. Bayangkan, jauh-jauh mengunggangi vespa, seorang Kapolresta datang ke mapolsek hanya untuk melihat kamar mandi. Toilet. WC yang ada di mapolsek bawahannya.
Sepintas itu serasa buang-buang waktu saja. Oh tidak. Apa yang dilakukan Gus Iwan itu pekerjaan besar dari upayannya memperbaiki (untuk tidak menyebut membangun) peradaban yang sudah ada di lingkungan kerja kedinasannya. ‘’Kamar mandi, toilet, WC adalah wajah kita. Bagian dari peradaban manusia,’’ katanya singkat, saat melihat-lihat kamar mandi sanggar Genjah Arum di Kemiren, beberapa waktu lalu.
Dari kamar mandi, lanjutnya, orang bisa menilai seperti apa kondisi dan lingkungan kantor atau bangunan secara keseluruhan. Seperti apa sikap dan kepedulian para penghuninya. ‘’Kamar mandi atau toilet adalah wajah kita,’’ tandas Gus Iwan.
Kamar mandi kelihatan sepele. Karenanya banyak yang menganggap fasilitas yang satu itu bukan merupakan bagian yang penting. Sehingga kurang mendapat perhatian khusus. Padahal, kebersihan kamar mandi mencerminkan seberapa peduli pemiliknya terhadap kebersihan sekaligus keindahan. Meski banyak orang hafal di luar kepala al-nadhafatul min al-iman, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, tapi masih saja mereka abai.
Gus Iwan tak mau bawahannya seperti itu. Dimulai dari anggota yang bertugas di struktur organisasi paling bawah (mapolsek), ia gemakan membersihkan ‘’wajah polri’’. Yakni, membuat kamar mandi kantor selalu bersih. Pun rumah tinggalnya, kalau bisa. Agar kebiasaan baik di rumah menular di kantornya.
Wa ba’du. setelah sempurna memarkirkan vespa bututnya di halaman mapolsek, Gus Iwan buru-buru menuju kamar mandinya. Melihat kondisi kebersihan bagian dari fasilitas layanan umum. Lalu, menanyai warga yang sedang mengurus sesuatu di mapolsek: ‘’gimana fasilitas umumnya, kamar mandinya, Pak?’’ Sebelum pamitan, ia hadiahkan seperangkat alat mengepel berikut pewanginya kepada para kapolsek yang dikunjunginya. Sepele. Iya,. Tapi itu pemandangan indah menuju lingkungan yang beradab. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin