RADARBANYUWANGI.ID - Kita sepakat. Bandara Internasional Banyuwangi (BIB) adalah wajah kita. Ketika rautnya tampak kusam, kita resah. Gelisah. Begitu seharusnya. Semua harus tergerak, mencari solusi menyingkirkan mendung yang bergelayut di BIB. Mendung tebal itu berupa penurunan okupansi penumpang pesawat di BIB.
Angka penurunannya cukup signifikan. Layak mendapat perhatian khusus. Seperti dikatakan General Manager BIB Holik Muardi. “Dua bulan menurun 25 persen sampai 35 persen,” katanya dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (4/6/26).
Persentase itu tecermin dalam bulan April dan Mei 2026. Total penumpang di April sebanyak 7.420 orang. Bukannya tambah naik, pada Mei jumlah penumpang malah menurun. Yakni, menjadi 6.780 orang. Padahal, sebelumnya jumlah penumpang di Bandara Internasional Banyuwangi sangat bagus. Tidak pernah kurang dari 10 ribu orang!
Tandang bareng memecahkan persoalan penumpang itu sudah dilakukan (baca: Man Nahnu 427, 10 Juni). Pengelola BIB tidak berpikir dan bekerja sendiri. Pemkab Banyuwangi sudah bergerak cepat. Guna mencegah penurunan lebih parah. Berupa insentif khusus bagi penumpang. Bentuknya diskon spesial menginap di hotel dan makan di resto. Bagi penumpang terpilih.
Itu program jangka pendek. Untuk menarik kembali banyak penumpang datang ke Bumi Blambangan. Selama harga tiket pesawat masih melambung tinggi. Sebab, ada tengarah penurunan penumpang pesawat ke/dari BIB gegara harga tiketnya naik ugal-ugalan. Saat catatan ini diketik, saya menengok sebentar harga tiket di HP. Wow…, masih diangkat Rp 1,7 sekian juta. Masih jauh di atas harga sebelum avtur melonjak tinggi, yakni di kisaran Rp 1 juta – 1,2 juta.
Berhasilkah program diskon penginapan dan makan di resto?
Sambil menunggu datanya, sebaiknya kita memikirkan solusi yang lain. Baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang. Solusi jitu lebih permanen. Yang bisa menjadi fondasi kuat mobilitas penumpang di BIB. Solusi yang membuat BIB tahan terhadap guncangan berbentuk apa pun. Bukan hanya kenaikan avtur. Seperti saat ini.
Solusi terukur dari Pemkab Banyuwangi disampaikan Suratno. Dalam podcast Heng Ono Tunggale di BIB (11 Juni 2026, pekan lalu), Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Banyuwangi mengutarakan, pemkab akan menggencarkan program MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibiton). Bukan barang baru, memang. Tapi keputusan membumi(ng)kan MICE adalah keputusan jitu.
Dalam industri pariwisata dan bisnis, MICE sangat populer. Pada kegiatan pariwisata, MICE dikelola secara terencana. Sekelompok orang yang punya kesamaan pandangan dan tujuan membuat rencana bersama. Berupa aktivitas pertemuan profesional, perjalanan (sebagai) penghargaan karyawan, konvensi, hingga pameran.
Sesuai namanya, empat kegiatan bisa dilaksanakan dalam waktu bersamaan. Tidak terpaku pada satu waktu tertentu. Pastinya, tidak mungkin digelar dalam sehari. Keuntungannya. Peserta MICE bisa datang secara bergelombang. Tidak dalam waktu bersamaan. Tergantung program yang ditawarkan oleh panitia.
Dan, itu sangat cocok bagi daerah seperti Banyuwangi. Yang sangat agresif mengembangkan daerahnya. Wabil-khusus, membangun pariwisata. Dengan memperbanyak MICE, sesungguhnya Banyuwangi tidak semata menggelar acara pertemuan. Melainkan juga mengundanghadirkan banyak orang. Bukan hanya peserta MICE. Tapi lebih banyak lagi. Bisa dua atau tiga kali lipat dari jumlah peserta. Tambahan rombongan itu berasal dari keluarga peserta. Bukan hanya istri/suami, tapi juga anak-anak mereka. Itu sebabnya, MICE juga sering disebut sebagai forum pertemuan resmi “berbonus” liburan.
“Saya sudah minta kepada dinas-dinas dan OPD agar berusaha merayu kementerian terkait dengan kedinasannya masing-masing. Usulkan menggelarkan rapat nasional di Banyuwangi. Semakin banyak MICE digelar di Banyuwangi tambah bagus,” kata Suratno.
Mantan kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi itu mengakui, selama ini sebenarnya Banyuwangi sudah beberapa kali menjadi tuan rumah MICE. Tapi, musti diperbanyak. Dia yakin, MICE merupakan salah satu solusi bagus untuk meningkatkan kembali jumlah penumpang pesawat ke kota The Sunrise of Java.
Lebih menarik lagi bila MICE-nya tidak sebatas kelas lokal-nasional. Tapi global. Mengangkat tema-tema terkait perkembangan isu yang mendunia. Menghadirkan narasumber dan peserta dari Indonesia dan banyak negara. Ya, bila itu dilakukan akan sekaligus bisa menghidupkan Bandara Banyuwangi sebagai bandara internasional. Akan ada maskapai yang melayani penerbangan dari dan ke negara asal peserta. Sebut saja, untuk sementara, penerbangan direct Banyuwangi – Malaysia PP dan Banyuwangi – Singapura PP. Peserta dari luar Malaysia dan Singapura bisa terbang ke Banyuwangi via Kuala Lumpur International Airport di Malaysia dan Bandara Changi di Singapura.
Itu pasti keren.
Wa ba’du. Semangat menghidupkan penerbangan internasional di BIB harus terus dikobarkan. Prinsip nyepak nyandung bisa dipakai pemkab dalam mengembangkan MICE. Bila MICE global sukses digelar sesering mungkin, sangat mudah mewujudkan perjalanan umrah dari Banyuwangi menuju Arab Saudi transit Malaysia atau Singapura. Pihak maskapai akan mudah mengatur slot penerbangannya. Rombongan jemaah umrah bisa berangkat dan pulang bersama peserta MICE. Dengan begitu, kita tidak akan dipusingkan lagi oleh penurunan penumpang di BIB. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin