RADARBANYUWANGI.ID - Diskon penginapan dan resto. Voucher itu menunggu siapa saja. Yang mau ke Banyuwangi. Via kendaraan burung besi. Insentif khusus itu dikeluarkan sebagai respons. Mereaksi penurunan okupansi penumpang pesawat ke Bandara Internasional Banyuwangi.
Angka penurunannya cukup signifikan. Bahkan, sudah masuk level sangat mengkhawatirkan. “Dua bulan menurun 25 persen sampai 35 persen,” mengutip General Manager Bandara Internasional Banyuwangi (BIB) Holik Muardi, dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (4/6/26).
Angka itu tecermin dari data penumpang di bulan April dan Mei 2026 saja. Total penumpang di April sebanyak 7.420 orang. Bukannya tambah naik, pada Mei jumlah penumpang malah menurun. Yakni, menjadi 6.780 orang. Padahal, sebelumnya jumlah penumpang di Bandara Internasional Banyuwangi sangat bagus. Tidak pernah kurang dari 10 ribu orang!
Fakta dalam data itu tak bisa didiamkan. Musti disikapi secara bijak. Dan, cepat. Sebelum merembet ke mana-mana. Mengganggu program lain yang sudah diproyeksikan tumbuh. Maka, disiapkanlah special promo. Berupa diskon menginap di hotel. Juga makan di resto. “Keberadaan program diskon diharapkan dapat mendorong minat masyarakat untuk datang ke Banyuwangi, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat,” papar Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi I Komang Sudira Atmaja.
Sejatinya, penurunan penumpang pesawat terjadi di hampir seluruh bandara di Indonesia. Penyebabnya perkembangan geopolitik global. Yakni, terimbas dampak perang di kawasan Timur Tengah. Antara Iran yang dikeroyok Amerika Serikat dan Israel.
Sekadar mengingatkan ulang, perang Iran versus Amerika-Israel mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Selat tersebut selama ini menjadi jalur penting pengiriman energi. Yakni minyak mentah. Konsekuensinya harga bahan bakar minyak (BBM) dunia melambung. Termasuk avtur. Kenaikan signifikan bahan bakar pesawat itu mengerek harga tiket pesawat.
Kenaikan tiket pesawat terbilang gila-gilaan. Tiket pesawat rute dari dan ke Banyuwangi naik hingga lebih kurang 40 persen. Dibandingkan harga normal sebelumnya. GM BIB Muardi menjelentrehkan, tarif tiket penerbangan rute Banyuwangi – Jakarta yang semula di kisaran Rp 1,2 juta, kini naik ke angka Rp 1,7 juta hingga Rp 2 juta per penumpang.
Penurunan drastis penumpang pesawat di BIB patut dicermati secara seksama. Selama ini, bandara juara dunia itu melayani tiga rute penerbangan. Selain Jakarta, juga ada rute Banyuwangi – Surabaya (Juanda) dan Banyuwangi – Lombok, NTB. Penumpang dari dan ke tiga tujuan itu punya karakter sendiri-sendiri.
Penumpang dari Jakarta biasanya datang ke kota The Sunrise of Java dengan tiga tujuan. Ada yang sengaja berwisata. Ada yang perjalanan dinas sekaligus berwisata. Dan, untuk keperluan bisnis. Sementara yang dari Surabaya dan Lombok lebih ke tujuan berwisata.
Perlu disurvei lebih jauh, penurunan penumpang di BIB itu terjadi di kelompok penumpang yang mana. Kalau yang bertujuan pariwisata kayaknya tidak mungkin. Sebab, penurunannya tidak tecermin pada data angka kunjungan wisata ke Banyuwangi periode pekan keempat Mei.
Selama 27 Mei hingga 1 Juni 2026, wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi mencapai 90.968 orang. Rinciannya: wisatawan nusantara sebanyak 89.790 orang, sedangkan wisatawan mancanegara mencapai 1.098 orang. Tentu, di antara hampir 100 ribu wisatawan itu ada yang dari Jakarta, Surabaya, dan Lombok. Pertanyaannya: apakah mereka naik pesawat semua. Jawabannya pasti tidak.
Boleh jadi, tiket pesawat yang naik drastis membuat wisatawan beralih ke moda transportasi lain. Bisa saja mereka memilih naik kereta langsung Jakarta – Banyuwangi PP. Kereta Surabaya – Banyuwangi PP. Atau naik mobil. Tol dari Jakarta yang sudah nyambung sampai Probolinggo menjadi pilihan alternatif. Bisa lebih irit dari pada naik pesawat. Pun yang dari Surabaya dan Lombok.
Tapi, sekali lagi, itu masih ira-ira. Harus dilakukan riset mendalam. Untuk mengetahui penyebab pastinya. Fakta dalam riset itu penting. Sebagai rujukan tunggal. Bagi siapa pun. Sebelum membuat dan mengeluarkan kebijakan terkait penurunan jumlah penumpang pesawat ke dan dari Banyuwangi.
Kesimpulan sementara, penurunan drastis jumlah penumpang pesawat tujuan Kota Gandrung bisa dibaca sebagai semakin sedikitnya orang datang ke Banyuwangi. Itu tidak boleh terjadi. Apalagi sampai berlarut-larut. Harus segera dicegah. Caranya, ya dengan menyiapkan diskon penginapan dan makan di restoran.
Untuk menyiapkan voucher menginap dan potongan harga makan di resto tentu membutuhkan effort khusus. Paling tidak pemkab mengajak pengelola hotel dan restoran. Berembug bersama. Bagaimana enaknya agar program insentif bagi penumpang berjalan. Dan, bisa menarik orang untuk ramai-ramai berkunjung ke Banyuwangi.
Bila itu terjadi, hotel dan restoran tentu juga diuntungkan. Sementara pemkab hanya dapat angka kunjungan yang meningkat. Walakin dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Tersebab perputaran ekonomi ikut terkerek. Di situlah kepuasan pemkab sesungguhnya. Sebagai pelayan masyarakat.
Wa ba’du. Apa yang dilakukan Pemkab Banyuwangi itu baik. Tapi, kebaikan jangan hanya jadi tontonan. Apalagi, yang menonton adalah pihak yang seharusnya ikut terlibat di dalamnya. Sebab, ia juga ikut menikmati “kue” kenaikan jumlah penumpang. Pihak tersebut adalah maskapai. Ke mana manajemen Super Air Jet dan Wings Air.
Kebijakan mereka menaikkan harga tiket pesawat nyata-nyata telah menurunkan jumlah penumpang. Kompensasi kenaikan tiketnya untuk penumpang apa. Ditunggu (tanggung) jawab(-an) mereka. Kalau tidak mau ikut berpartisipasi dalam program diskon penginapan dan restoran, apakah mereka juga tidak mau menyumbang ide atau pikiran. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin