RADARBANYUWANGI.ID - Yuk merenung sejenak. Merefleksikan diri lewat sejarah. Coba ingat-ingat dengan baik. Coba pikirkan baik-baik pertanyaan ini: apakah para pendiri bangsa punya medsos, Instragram, Facebook, X, dan TikTok? sangat mudah menjawabnya: Tidak!
Tapi kenapa para Bapak Bangsa alias Founding Fathers dan para tokoh bangsa lainnya meninggalkan gagasan yang bertahan puluhan tahun. Bahkan ratusan tahun. Padahal, bukankah mereka tidak hidup di era digital. Kebangkitan Nasional—salah satu karya mereka—lahir bukan dari kebisingan digital. Melainkan dari tulisan, pemikiran, dan keberanian mencatat zaman.
Refleksi seperti itu sangat penting. Terutama untuk memikirkan ulang kebiasaan di era serba cepat seperti sekarang. Yakni kebiasaan melakukan unggahan cepat, komentar cepat, kemarahan cepat, dan lupa yang juga cepat terhadap unggahan buah karya dua jempol pada tuts gadget kita.
Sudah saatnya memikir ulang posisi kita di era algoritma. Zaman pertempuran antara kecepatan jempol tangan versus kedalaman pikiran. Kita tahu, algoritma demen pada hal yang cepat, sensasional, emosional, dan instan. Sebaliknya, peradaban yang identik dengan pemikiran membutuhkan ketekunan, kedalaman, refleksi, dan konsistensi.
Viral. Ya, algoritma dengan sifat yang menyertainya menghasilkan selalu ingin menjadi viral. Tak peduli apakah bernilai atau tidak. Pokoknya kudu viral. Sesuatu yang bernilai sering kali tidak cepat dan instan. Walakin tumbuh perlahan. Butuh kesabaran. Buku besar (babon ilmu pengetahuan), pemikiran besar, dan bahkan perubahan besar hampir selalu lahir dari kesabaran intelektual. Jauh dari sensasi dan (apalagi) emosi.
Tapi mau gimana lagi. Sekarang kita hidup di era konten. Celakanya kita tidak bisa menghindar. Setiap hari jutaan konten lahir, hadir, dan menghilang. Dengan begitu cepatnya. Setiap hari kita hanyut dalam banjir bandang informasi. Di tengah kepungan fenomena itu, sadar atau tidak, refleksi semakin langka. Bahkan, makin pudar dan buram. Yang kita rasakan dunia semakin ramai. Namun keramaiannya cenderung seperti buih. Hanya di permukaan samudera. Bukan ramai yang sunyi. Yang mendalam.
Analogi dari Prof Agus Trihartono sangat bagus. Katanya: konten digital seperti hujan deras di lautan padang pasir. Hujan itu hanya membasahi permukaan. Tidak sampai menjadi air tanah. Sangat mungkin, kita saat ini menjadi generasi paling berisik dalam sejarah kehidupan manusia. Dan, akibatnya, belum tentu kita menjadi generasi yang paling diingat oleh sejarah. Justru sebaliknya, tak meninggalkan jejak dalam catatan sejarah bangsa. Sama sekali.
Pemikiran di atas saya rangkum dari materi Prof Agus Trihartono. Materinya sangat menginspirasi. Saat membedah buku saya, Man Nahnu 6: Dari Banyuwangi Menyala Api Harapan Ibu Pertiwi. Di hadapan ratusan guru dan kepala SMP se-Banyuwangi.
Dalam forum yang juga menghadirkan narasumber Dr Alfian (Plt Kadispendik Banyuwangi), Prof Agus mengingatkan para guru-kepala sekolah. Bahwa mereka merupakan penjaga peradaban. Lebih dari sekadar pengajar. Guru bukan hanya penyampai materi. Harusnya lebih dari itu. Karena sejatinya guru adalah penjaga memori, penyemai nilai, dan arsitek masa depan. Masa depan siswa dan sekaligus bangsanya.
Maka tidak bisa tidak, guru harus mulai menulis. Sebab, ketika guru sudah mulai menulis, secara otomatis sekolah mulai punya jiwa. Institusi mulai punya refleksi. Dan, bangsa mulai punya arsip pemikiran.
Bila peradaban tersusun dari tumpukan batu bata, maka batu batanya adalah menulis. Menulis apa pun. Tentang sesuatu yang besar atau pun yang kecil. Yang remeh temeh pun akan menjadi “sesuatu”. Ketika tiba saatnya. Banyak karya besar dibangun dari catatan-catatan kecil, bukan.
Wa ba’du. Kita mengenang Hamka, Pramoedya, dan Goenawan Mohamad bukan karena viral. Bukan pula karena algoritma. Tetapi lebih dari itu. Mereka punya ketekunan, keberanian, dan konsistensi mencatat zaman. Memberi penanda zaman.
Terima kasih, Prof Agus. Yang sudah memberi pencerahan. Bekal penting bagi para penyusun batu bata peradaban Banyuwangi. Saya bersama para guru-kepala SMP se-Bumi Blambangan. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin