JANGAN memaknai kata ‘’wangi’’ pada judul catatan ini secara denotatif! Itu bisa bahaya. Bisa dicap macam-macam. Yang kurafat. Syirik lah. Dan tuduhan-tuduhan sebangsanya.
Maka, sebelum salah paham, artikan ‘’wangi’’ itu secara konotatif. Kiasan. Sebab sejatinya rasa air itu hambar. Kalau ada air berasa sedap, wangi, dan atau harum patut dicurigai. Diberi parfum, misalnya. Atau, malah dikasih bunga segar. Sudah jadi rahasia umum, ritual tertentu memang menggunakan media nunga tujuh rupa yang direndam air.
Ketika ‘’wangi’’ pada ‘’Air Wangi’’ dikiaskan jadi lain maknanya. ‘’Air Wangi’’ tidak lagi bermakna air berisi bunga. Melainkan air yang sangat segar, sejuk, dan bahkan tidak ada duanya. Heng ono tunggale. Kesegaran dan kesejukan airnya tidak ada di tempat lain. Hanya ada di Banyuwangi.
Secara konotatif, frasa ‘’Air Wangi’’ menggambarkan keunggulan mineral Bumi Blambangan. ‘’Air Wangi’’ memancar langsung dari mata air di kaki pegunungan. DISCLAIMER: tidak seperti air yang mengalir ke pegunungan seperti dalam iklan dari perusahaan air mineral di televisi! Juga bukan air yang disedot dari dasar tanah, seperti air mineral yang diproduk oleh sejumlah pabrik air mineral di Banyuwangi maupun di luar Banyuwangi.
‘’Air Wangi’’ juga bukan air olahan kayak di beberapa kota. Katakan Surabaya dan sekitarnya. Warga di sana mengonsumsi air olahan. Air yang diproduksi dengan sistem olahan. Setelah diolah baru didistribusikan kepada para pelanggan.
‘’Air Wangi’’ berasal dari sumber aslinya. Yang mengalir deras dari sumber mata air langsung. Tanpa dibor dari bawah tanah. ‘’Air Wangi’’ yang dinikmati masyarakat Kota Gandrung Banyuwangi memancar dari, setidaknya, enam sumber besar. Sumber mata air Gedor, salah satu yang terbesar.
Saya bersyukur bisa melihat langsung bagaimana besarnya debit air di Gendor. Dalam bangunan khusus bikinan Belanda. Yang dibangun pada 1927. Airnya memancar kencang sekali. Sampai bergemuruh. Alirannya mirip sungai. Sangat deras. Bersih. Dan, jernih. Setelah teperanjat sejenak, saya langsung sadar, seraya mengucap alhamdulillah.
Sangat wajar bila aliran airnya begitu besar. ‘’Karena mata air Gedor berada di tengah hutan alami seluas kurang lebih 15 hektar. Hutan di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro itu dijaga kealamiannya,’’ tutur Dirut PUDAM Banyuwangi Abd Rahman, saat silaturahim ke kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi, suatu ketika.
Wis Eka Sik Adi
Sumber mata air Gedor sangat istimewa. Debitnya sangat besar. Mengalir sampai ke kota dan sekitarnya. Hebatnya, masih menggunakan instalasi mayoritas peninggalan Belanda. Mulai dari Gedor sampai ke tandon penampungan di Penataban. Sangat layak dicatat sebagai Cagar Cudaya. Setidaknya terdaftar dulu sebagai Objek Diduga Cagar Budaya.
Pengakuan itu penting. Untuk menunjang program Wis Eka Sik Adi. Nama yang bagus dan indah. Arti aslinya adalah ‘’sudah dapat satu masih berusaha mendapatkan yang utama’’. Menggambarkan semangat pantang menyerah. Terus berusaha menjadi yang terbaik. Sangat bagus ditularkan ke anak-anak. Siswa. Pelajar. Bahkan, mahasiswa. Maka, sejatinya nama yang diusulkan Pak Firman dari Dinkes (Dinas Kesehatan), itu juga menjelma jadi sebuah akronim. Kepanjangan Wis Eka Sik Adi pun menjadi Wisata Edukasi Siswa Sejak Usia Dini.
Sumber mata air Gedor memang layak menjadi Wis Eka Sik Adi. Mata air yang dikelola oleh PUDAM (Perusahaan Umum Air Minum) Banyuwangi itu sangat tepat dijadikan program inovatif pembelajaran berdampak. Di Gedor siswa bisa mengenal mutu air baku. Selain itu, siswa juga bisa melihat langsung vegetasi berupa tumbuh-tumbuhan penyerap dan penyimpan air baku. Diantaranya, bambu, pohon bendo, aren, dan beringin.
Setelah mendapat ilmu tentang sistem kerja brondcaptering (penangkap air), giliran berikutnya siswa dikenalkan dengan sistem distribusi air. Maka, mereka juga akan mendapat penjelasan tentang fungsi bak penampungan untuk pelepasan air ke pelanggan yang lingkungannya harus selalu terjaga. Terbebas dari bakteri ecoli. Untuk membunuh bakteri ecoli dan yang lainnya, dilakukan proses pemberian gas chlorine di tandon penampungan Kalipuro. Air yang mengalir sampai ke kran-kran di rumah pelanggan pun terbebas dari bakteri ecoli. Dan, sebenarnya sudah layak diminum langsung.
Maka, wa ba’du, para siswa peserta program inovatif Wis Eka Sik Adi diharapkan membawa tumbler atau botol air yang lain. Setelah mendapat kesempatan meneguk ‘’Air wangi’’ dari sumber Gedor, anak-anak disilakan mengisi botol airnya sampai penuh. Sebagai oleh-oleh dari Wis Eka Sik Adi. Juga untuk meyakinkan orang tua dan keluarga di rumah: bahwa air PUDAM yang memgalir dari sumber Gedor bisa diteguk langsung. Tanpa harus dimasak lebih dulu.
Awalnya saya ragu mendapat penjelasan itu dari Pak Dirut PUDAM. Tapi, akhirnya berbalik menjadi yakin. Setelah diberi tahu bahwa PUDAM harus mengeluarkan ratusan juta rupiah/bulan untuk mengikuti prosedur pengujian mutu air baku di Labkesda (Laboratorium Kesehatan Daerah). Lab milik Dinas Kesehatan itu merupakan unit pelaksana teknis (UPT). Khusus melayani pemeriksaan kesehatan manusia, kimia/fisikia air, dan makanan. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin