RADARBANYUWANGI.ID - Tiga partai politik besar di Bumi Blambangan melakukan penyegaran pengurus. Partai Golkar dan PDI Perjuangan mendahului. Mereka sudah punya ketua DPC (Dewan Pimpinan Cabang) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) baru. Sementara PKB dipastikan segera menyusul. Saat ini, pemilihan pucuk pimpinan partai berlambang bola dunia diikat sembilan bintang itu sedang berproses.
Mekanisme pemilihan ketua DPC PKB berbeda. Tidak secepat dan sesimpel di Golkar maupun PDI Perjuangan. Proses politik di PKB diawali dengan Muscab (Musyawarah Cabang). DPC PKB Banyuwangi sudah menggelar Muscab VI di Hotel Santika Kota Gandrung (5/4/26). Tugas peserta Muscab hanya menjaring calon ketua DPC. Tidak lebih tidak kurang. Pemilihan ketua menjadi kewenangan penuh DPP (Pewan Pimpinan Pusat). Sekaligus menetapkannya.
Bukan hanya itu, sebenarnya, DPP juga ikut campur sejak penjaringan para calon. Namun dengan istilah yang diperhalus: melakukan pemetaan strategis. Maka delapan nama yang ditetapkan dalam Muscab DPC PKB Banyuwangi, beberapa waktu lalu, merupakan hasil pemetaan yang dilakukan DPP. Ditambah aspirasi yang berkembang di forum Muscab.
Lain ladang lain ilalang. Setiap parpol punya mekanisme sendiri-sendiri. Dan, itu hak penuh mereka. Karena sudah diatur dalam AD-ART. Pun perangkat peraturan pendukung lainnya. Jadi, tak perlu dikritisi. Kecuali ada pihak internal yang ingin melakukannya.
Lebih baik membaca arah parpol yang lahir dari rahim NU itu. Rupanya PKB juga mengikuti dinamika politik mutakhir. Terutama terkait penentuan siapa yang bakal dipercaya memimpin DPC PKB Banyuwangi. Itu terlihat jelas dari deretan sosok yang diapungkan dalam Muscab.
Secara garis besar, dari pembacaan terhadap delapan nama calon, PKB punya dua strategi khusus. Strategi tersebut terkait erat dengan trend yang terjadi secara nasional. Untuk memenangkan pertarungan politik di kota The Sunrise of Java, ini strategi pertama, PKB mempertimbangkan untuk mempercayakan tampuk pimpinan tertinggi DPC Banyuwangi kepada figur muda. Empat dari delapan calon berasal dari Generasi Y alias Milenial. Usia mereka sangat muda. Masih di bawah 50 tahun!
Untuk menjawab tantangan zaman (khususnya politik), PKB membutuhkan anak muda. Kita tahu, anak-anak milenial merupakan generasi yang tumbuh bersama internet. Mereka melek teknologi. Dan, ini yang dibutuhkan ke depan, generasi milenial punya kepedulian terhadap isu sosial. Kepedulian semacam itu sangat penting dimiliki oleh pemimpin.
Empat milenial calon ketua DPC PKB Banyuwangi adalah Zaki Al Mubarok 38 tahun (Juni 1988), Arvy Rizaldy 39 tahun (juni 1987), Muhammad Ali Mahrus 42 tahun (November 1984), dan Inayanti Kusumasari, 44 tahun (Agustus 1982). Mereka, boleh dibilang, kader muda terbaik PKB Banyuwangi, saat ini. Itu bisa dilihat dari kiprahnya. Arvy dan Zaki adalah pendatang baru di parlemen. Mereka masuk ke gedung dewan dengan background mentereng. Arvy tercatat sebagai ketua GP Ansor Banyuwangi. Sedangkan Zaki ketua BMPS (Badan Musyawarah Perguruan Swasta) Banyuwangi. Sementara Mahrus dan Inayanti sudah menjabat anggota dewan sejak periode sebelumnya. Jadi, keduanya punya pengalaman mumpuni di politik. Selain menjabat Wakil Ketua DPRD periode 2019—2024, Mahrus juga pernah menjadi sekretaris DPC PKB Banyuwangi. Tentu, pengalaman itu menjadi modal signifikan baginya untuk merebut kursi ketua DPC PKB yang baru.
Inayanti juga bukan legislator biasa. Dia tercatat sebagai sekretaris Fraksi PKB DPRD Banyuwangi. Dia juga punya peluang mengisi strategi kedua DKB. Yakni, ketika DPP PKB memilih strategi yang diterapkan PDI Perjuangan dan Golkar. Kedua parpol memilih perempuan sebagai pucuk pimpinan DPC-nya. PDI Perjuangan mempercayakan posisi ketua DPC Banyuwangi kepada Ana Aniati. Sedangkan Eva Hestiyawati dipercaya oleh Golkar sebagai ketua DPD Partai Golkar Banyuwangi.
Sangat mungkin, sekali lagi, PKB akan mengikuti langkah PDI Perjuangan dan Golkar. Sebab, PKB juga punya kader perempuan yang hebat. Bahkan, bukan hanya Inayanti. Dari delapan calon ketua yang ditetapkan dalam Muscab VI, juga terdapat dua perempuan yang lain. Yakni Ma’mulah Harun dan Siti Mafrochatin Ni’mah. Keduanya tokoh perempuan PKB senior. Punya nama besar di Banyuwangi.
Ma’mulah kini menjadi legislator Fraksi PKB di DPRD Jatim. Setiap kali pileg, dia selalu mendulang suara bejibun. Bahkan, banyak yang bilang, suara yang dia kumpulan bisa mengantarkannya ke Senayan: DPR RI. Sebagai tokoh senior, pengalaman organisasi Ma’mulah terbilang moncer. Dia memimpin PC Muslimat NU Banyuwangi dalam beberapa periode.
Ni’mah juga punya pengalaman organisasi yang mumpuni di lingkungan Nahdliyin Banyuwangi. Politisi PKB itu, kini, tercatat sebagai Wakil Ketua DPRD Banyuwangi (2024—2029). Jabatan itu menjadikannya sebagai pimpinan perempuan pertama dari PKB di DPRD Banyuwangi. Dia juga aktif memimpin organisasi sayap partai. Sebagai Ketua DPC Perempuan Bangsa Banyuwangi (2024—2029).
Inayatin, Ma’mulah, dan Ni’mah layak diberi mandat memimpin DPC PKB Banyuwangi. Dan, andai satu di antara mereka benar-benar diberi kepercayaan, akan memberi warna baru di kancah perpolitikan Bumi Blambangan. Nama mereka tidak hanya akan tercatat dalam sejarah PKB sebagai ketua DPC perempuan pertama. Melainkan juga akan tercantum dalam pahatan sejarah politik Banyuwangi. Bahwa tiga partai besar di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa dipimpin oleh trio Srikandi.
Akankah sejarah itu menjadi kenyataan, masih harus menunggu keputusan PKB Pusat.
Wa ba’du. Sangat mungkin juga, DPP PKB tidak akan menyerahkan tampuk ketua Dewan Tanfidz DPC PKB Banyuwangi kepada kader milenial dan atau perempuan. Melainkan akan tetap mempercayakan tampuk pimpinan DPC PKB Banyuwangi kepada figur berlatar belakang kiai. Seperti di kepengurusan sebelumnya, yang dipimpin oleh KH Abdul Malik Syafa’at. Gelagat seperti itu akan menemui kebenarannya. Sebab, dari delapan nama calon yang sudah ditetapkan oleh Muscab, terdapat nama KH Ali Makki Zaini. Mantan Ketua Tanfidz PCNU Banyuwangi.
Delapan nama yang ditetapkan peserta Muscab punya peluang yang sama pemimpin DPC PKB Banyuwangi. Lalu siapa yang akan dipilih-tetapkan sebagai ketua pada Mei atau Juni mendatang, keputusan ada di tangan “Big Boss” PKB di Jakarta. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin