Kapal Jumbo PCNU

Samsudin Adlawi • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 00:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

AKHIRNYA, kapal jumbo NU Banyuwangi bisa berlayar. Setelah perwakilan PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) melantik seluruh awak kapal bernama PCNU Banyuwangi dengan nomor lambung 2026 –2031 itu. Pelantikan digelar di “dermaga” dekat Teluk Pangpang. Tepatnya di GOR Ponpes Minhajut Thullab, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jatim. Pada 4 April 2026.

Pemilihan lokasi pelantikan patut diapresiasi. Wilayah sekitar lokasi pelantikan cukup bersejarah. Tiga abad silam, Teluk Pangpang dikenal dengan sebutan Ulupampang. Salah satu pusat pelabuhan yang ramai di ujung paling timur Pulau Jawa. Penduduknya multietnik. Selaras dengan semangat NU yang mengakui, menghargai, dan menghormati nilai-nilai humanisme-multikulturalisme.

Nilai historis Teluk Pangpang lainnya adalah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Blambangan. Margana (2007: 153) menjelaskan, di Teluk Pangpang pula Mas Alit dilantik sebagai Bupati Blambangan. Pelantikannya pada Selasa pagi, awal Februari 1774. Ditandai 111 dentuman senjata. Mas Alit didampingi pejabat Eropa. Mereka berdiri menghadap ke Teluk Pangpang. Yang konon, ketika itu, sangat indah. Keindahannya masih tersisa, saat kini. Berupa hamparan tanaman mangrove sebagai tanaman konservasi lahan basah.

Apakah panitia pelantikan mempertimbangkan nilai kesejarahan itu, entahlah.

Kalau tidak, misalnya, setidaknya seluruh awak kapal besar PCNU mudah-mudahan tetap mendapat berkah. Yakni, mewarisi semangat sejarah kebesaran Teluk Pangpang. Dan, sadar sesadar-sadarnya, kalau mereka secara tidak langsung telah menapaktilasi prosesi pelantikan bupati pertama Bumi Blambangan: Mas Alit alias Tumenggung Wiroguno I.

Untuk ukuran organisasi sosial-keagamaan, personel PCNU Banyuwangi masa khidmat 2026–2031 sangat banyak. terbilang jumbo. Total 105 orang. Rinciannya: enam orang pengurus Mustasyar, Syuriyah 27 orang, Katib 15 personel, A’wan 9 orang, dan Tanfidziyah 48 orang. Bila ditambah pengurus di lembaga dan banom PCNU, jumlah makin bejibun.

Harapan besar dikalungkan di pundak duet nakhoda KH Fachruddin Mannan (Rais Syuriyah) dan H Ahmad Turmudzi (Ketua Tanfidziyah). Mereka harus gaspol. Menekan pedal gas secara maksimal. Agar roda organisasinya melaju secepat mungkin. Kecepatan maksimal bisa dicapai bila semangat dan tenaga seluruh pengurus dikelola secara optimal. Semangat saja tidak cukup. Pun tenaga. Keduanya saling melengkapi sebagai pendorong akselerasi.

Setidaknya, ada dua tugas utama yang harus segera diberesi duo Mbah Pukul—panggilan karib Mbah KH Fachruddin Mannan dan Gus Tur—sapaan akrab H Ahmad Turmudzi. Yang pertama, mereka harus mengaudit total organisasi PCNU. Memeriksa secara seksama seluruh perangkatnya. Mulai roda penggerak sampai minyak pelumas dan tangki bahan bakarnya (baca: buku rekening). Langkah itu sangat diperlukan. Sebab, sudah sekitar dua tahun kapal besar PCNU Banyuwangi lego jangkar. Tak ada kepastian untuk berlayar. Tersebab tidak  punya nakhoda definitif.

Yang kedua, Mbah Pukul–Gus Tur perlu segera melakukan konsolidasi menyeluruh. Sebab, sempat terjadi polemik yang panas selama menjelang hingga pelaksanaan Konfercab PCNU Banyuwangi, 8 Januari 2026 lalu. Semula, Konfercab direncanakan pada 2024 di Ponpes Minjahut Thullab—tempat pelantikan PCNU masa khidmat 2026–2031. Namun, rencana itu berantakan disebabkan polemik yang lumayan rumit. Nah, duet Mbah Pukul–Gus Tur harus memastikan polemik tersebut benar-benar sudah tidak ada.

Tanpa adanya kepastian penyelesaian polemik tersebut, jalannya kapal besar PCNU Kota Gandrung tidak akan mulus. Bahkan, sangat mungkin akan terseok-seok. Akibat ketidakkompakan para awak kapalnya. Akibat tidak berfungsinya salah satu atau bahkan salah tiga organ dalam organisasi.

Wa ba’du. Tidak mudah memimpin organisasi sebesar NU. Apalagi, mengorganisasi ratusan pengurusnya. Dalam posisi seperti demikian, teladan dari pucuk pimpinan menjadi kunci. Seperti halnya kapal jumbo membutuhkan nakhoda yang mahir. Punya kemampuan membaca arah navigasi. Menguasai semua perangkat kapal yang dikemudikannya. Punya insting kuat membaca ancaman gelombang besar. Bahkan, badai sekalipun. 

Dan, yang tidak kalah penting adalah punya kemampuan menyatukan beragam latar belakang dalam organisasinya menjadi kekuatan yang besar. Berbeda pandangan itu manusiawi. Tinggal bagaimana mengelolanya menjadi kekuatan yang dahsyat bernama “persatuan dalam perbedaan”.

Kuncinya adalah menyatukan frekuensi. Semua awak kapal tidak boleh berlayar menggunakan frekuensi yang berbeda. Harus berada dalam satu frekuensi yang ditetapkan oleh nakhoda. Duet Mbah Pukul–Gus Tur bisa menjadikan nasihat KH Munasir kepada KH Abdul Muchith Muzadi (Mbah Muchith) sebagai frekuensi tunggal dalam memimpin PCNU Banyuwangi. “Saya ingin menjadi orang baik-baik. Menjadi (pengurus) NU bukan sekadar menjadi anggota sebuah organisasi biasa, tetapi seperti dinasihatkan KH Munasir Ali kepada saya, niate ndandakno awak (berniat memperbaiki diri),” kata Mbah Muchith dalam buku “Menjadi NU Menjadi Indonesia’’ karya Ayu Sutarto (2005: 16).

Dengan niat seperti itu, lanjut Mbah Muchith, seseorang akan merasa bahwa kualitas dirinya belum baik. Belum baik ibadahnya. Belum baik perjuangannya. Dan beberapa kekurangan lainnya. Lalu masuk NU. Harapannya, ibadah menjadi semakin baik. Makin khusyuk. Ukhuwah Islamiyah makin bagus. Ukhuwah insaniyah makin teruji. Ukhuwah wathaniyah makin mengristal. Dan, akhlak makin baik.

Frasa ndandakno awak terasa sangat sederhana. Padahal maknanya indah dan mulia. Mbah Muchith sangat yakin, bahwa ke depan kunci keberhasilan NU bukan terletak pada kehebatan SDM-nya. Melainkan kemuliaan akhlak para warganya. Meski memiliki SDM hebat, suatu organisasi tak akan punya manfaat dan martabat apabila para anggotanya bermental bejat. Akhlak yang baik menjadi kunci keberhasilan NU dalam memberi sumbangsih paling luhur. Bukan hanya kepada Islam dan NU. Melainkan juga kepada sesama manusia dan kemanusiaan. (Pekolom Banyuwangi) 

Editor : Ali Sodiqin
man nahnu samsudin adlawi pcnu banyuwangi