TAK ada matinya. Selalu ada yang baru. Selalu melahirkan ide baru. Tak salah bila Banyuwangi masih menjadi daerah paling inovatif di Indonesia. Prestasi paling prestisius.
Ketika daerah lain—kabupaten, kota, dan bahkan provinsi—mengidanmkannya setiap tahun, Banyuwangi sudah meraih predikat kabupaten terinovatif se-Indonesia delapan kali berturut-turut. Sejak 2018 hingga yang paling baru: 2025.
Sekadar informasi, setiap tahun Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menerbitkan Hasil Pengukuran Indeks Inovasi Daerah (HPIID). Pengumuman HPIID dilakukan dalam ajang Indonesia Government Award (IGA), sekaligus penganugerahan piala dan sertifikat bagi para pemenangnya.
Sebagai pemegang predikat paling inovatif terbanyak, kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini menularkan success story-nya di internal.
Pemkab Bumi Blambangan membumikan kebiasaan inovatif kepada seluruh jajaran di dalam organisasi besarnya. Lewat Koinwangi (Kompetisi Inovasi Kabupaten Banyuwangi).
Nama yang indah. Terdengar enak di telinga. Tapi Koinwangi bukan jenama biasa. Malah, bila ditelisik dari niat awal idenya, Koinwangi merupakan kegiatan yang luar biasa. Yakni, untuk menjaring talenta-talenta inovatif yang unggul. Menginjeksi inovasi ke dalam darah dan otak semua bagian di lingkungan pemkab. Mulai OPD (Organisasi Perangkat Daerah) sampai BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Juga bagian lain dari pemkab.
Koinwangi sudah dimulai. Begitu diumumkan secara resmi oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Dalam pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027. Di pendapa Sabha Swagata Blambangan (4/3/26).
Mengembangkan kebiasaan inovatif kini menjadi tuntutan. Seiring perkembangan zaman. Kini, tidak bisa lagi pasrah ing pandum. Pasrah terhadap keadaan. Siapa yang tak mau berubah (atau mengikuti perubahan) akan tertinggal di landasan. Maka, penting bagi pemerintah, c.q. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, untuk membudayakan kegiatan inovatif kepada segenap jajarannya.
Sebagai pelayan masyarakat, segenap jajaran pemkab dituntut lebih kreatif. Tidak hanya dituntut cekatan, tapi juga dengan brilian. Prinsipnya, masyarakat modern tidak akan mau dilayani dengan pelayanan yang jadul. Serba konvensional. Dan, membutuhkan banyak waktu.
Maka dibutuhkan kerja-kerja inovatif. Untuk membongkar model pelayanan lama. Tidak sulit membuat inovasi, sebenarnya. Asal tahu semangat inovasi. Sebelum menelisik roh inovasi, sebaiknya lebih dulu mengenal apa itu “inovasi”.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam jaringan memberi dua makna inovasi. Pertama, pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru; pembaharuan. Kedua, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya.
Jadi, inovasi yang dilakukan seseorang, baik sebagai individu maupun dalam komunal, harus menghasilkan hal yang baru. Benar-benar baru. Dan, orisinal. Misal, KBBI memberi contoh, yang paling drastis dalam dasawarsa terakhir ialah pembangunan jaringan satelit komunikasi.
Inovasi juga bisa dilakukan terhadap hal yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya. Alias menemukan hal baru terhadap hal lama. Dengan catatan, hal baru itu benar-benar berbeda dengan hal yang lama. Biasanya, ruang lingkup inovasi jenis ini terkait dengan gagasan, metode, atau alat.
Selain memahami dengan benar definisinya, inovator juga harus menghayati tujuan melakukan inovasi. Yang lebih kurangnya ada tiga: mempermudah aktivitas, memecahkan masalah, dan meningkatkan kualitas. Dalam konteks pelayanan, inovasi yang dilakukan individu/kelompok harus mampu meningkatkan pelayanan. Dan, lebih bagus lagi, membuat kerja lebih efisien.
Sementara terkait gagasan dan atau metode, inovasi tidak hanya menonjolkan kebaruan. Percuma gagasan atau idenya baru. Namun, minim sekali kemanfaatannya. Bahkan, sulit sekali diterapkan secara praktis. Karena salah satu karakter inovasi adalah tidak hanya teoritis.
Perlu diketahui juga, sekadar tambahan, secara umum inovasi terbagi menjadi dua. Yakni, inovasi radikal dan inovasi inkremental. Disebut radikal karena inovasi yang dilahirkan memberi dampak berupa perubahan besar-besaran. Dalam bisnis, inovasi radikal berupa terobosan fundamental. Inovasinya menciptakan pasar baru. Mengubah perilaku konsumen secara drastis. Menggantikan teknologi lama dengan solusi yang revolusioner. Internet dan telepon cerdas adalah dua contoh inovasi radikal di bidang telekomunikasi. Sementara kendaraan listrik, Ojol (ojek online), Gojek, Uber, Grab, Maxim, Ok Jek, dll merupakan inovasi radikal bidang transportasi.
Adapun inovasi inkremental menekankan pada penyesuaian dan peningkatan dalam skala kecil. Dan, secara bertahap dan berkelanjutan. Biasanya dilakukan pada produk dan layanan. Tujuannya untuk meningkatkan kinerja. Juga efisiensi. Perubahan yang terjadi dalam inovasi ini sangat minor. Risikonya juga rendah. Misal, merevisi desain dan fitur.
Wa ba’du. Patut ditunggu. Akankah Koinwangi akan menjadi jenama yang luar biasa atau sebaliknya. Tak lebih dan tak kurang hanyalah jenama yang biasa-biasa saja. Waktu yang akan menjawabnya. Minimal dalam setahun ke depan. Bisa saja, Koinwangi akan menjelma menjadi kawah cadradimuka. Melahirkan inovasi-inovasi ekselen. Yang makin mengukuhkan jati diri Banyuwangi sebagai kabupaten terinovatif se-Indonesia. Semoga! (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin