Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Salah Dengar

Samsudin Adlawi • Rabu, 4 Maret 2026 | 00:00 WIB

Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

NASIHAT macam-macam bentuknya. Ada yang berupa cerita. Seperti yang didapat oleh Kang Maman. Seorang pesohor. Maman Suherman, nama lengkapnya. Masyarakat mengenalnya sebagai penulis, pegiat literasi, dan tokoh televisi. Dikenal luas karena kariernya di dunia jurnalistik dan perannya sebagai ‘’notulen’’ di acara Indonesia Lawak Klub.

Cerita inspiratif diterima Kang Maman dari Gus Nadir. Yang memunggah ulang di bulan Ramadan ini. Ada fase dalam ketika perhatian ia terhadap bacaan Al-qur’an begitu tajam. Bahkan, mungkin, terlalu tajam. Ia tahu salah harakat bisa mengubah makna. Salah i’rab bisa menggeser pesan ayat. ‘’Maka setiap kali ada yang membaca, telinga saya siaga,’’ tutur Gus Nadir yang dibaca ulang dalam video Kang Maman.

Photo
Photo

Bukan tenggelam untuk makna, lanjut Gus Nadir. Juga bukan untuk meresapi getarannya. Walakin untuk mengaudit tajwidnya, benar atau tidak. Juga mahrajnya tepat atau tidak. Nahwunya rapi atau berantakan.

Sekadar informasi, i’rab adalah perubahan bunyi harakat atau huruf terakhir pada kata benda (isim) dan atau kata kerja (fi’il mudharari’) dalam bahasa Arab. Perubahan itu disebabkan oleh perbedaan amil (kata sebelumnya) yang masuk. Perubahan tersebut penting untuk menentukan makna dan fungsi kata. Seperti subjek, objek, atau keterangan dalam suatu kalimat.

I’rab meliputi rafa (dhommah), nasab (fathah), jar/khafad (kasrah), dan jazm (sukun). Bagi generasi seangkatkan Saya (lahir 1970-an), ilmu dasar membaca Al-Qur’an itu hanya diperoleh saat mengaji di surau-surau desa. Juga diperkaya di pesantren. Generasi sekarang memperolehnya di banyak sekolah. Mulai dari TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) hingga sekolah agama.

Suatu Maghrib, kenang Gus Nadir, ia menumpang salat di sebuah masjid. Tapi, saat itu, imam tetapnya tidak ada. Tiba-tiba seorang bapak berdiri ke depan dan salat pun dimulai. Dan bacaannya tidak sempurna. Ada yang kurang tepat. Ada yang terasa janggal di telinga Gus Nadir.

‘’Sepanjang jadi makmum, hati saya ngedumel, fokus saya bukan pada Allah, bukan ada salat saya, bukan pada makna ayat, tapi pada ‘’kesalahan’’ sang imam,’’ kata Gus Nadir seraya menambahkan, begitu salam kanan kiri selesai, ia mengaku langsung bangkit ke pojok masjid. Mengulangi salatnya.  

Sampai di rumah, dengan sedikit rasa bangga ia cerita kepada Abah (ayahnya). Bahkan membumbui ceritanya sambil menirukan bacaan imam tadi, dengan nada meremehkan. Abah hanya tersenyum. ‘’Lain kali gak usah kamu ulangi salat kamu,’’ kata Abah.

‘’Tapi bacaannya kan gak benar, Abah, salatnya gak sah,’’ Gus Nadir berusaha membenarkan apa yang didengar dan dialaminya secara langsung.

Lalu, Abah menjawab pelan—hampir setengah berbisik, ‘’Anggap saja kamu yang salah dengar tadi’’.

Makjleb. Telak. Jawaban Abah itu sederhana. ‘’Namun menampar halus ego Saya,’’ tandas Gus Nadir.

Sejak itu, ia belajar satu hal. Bahwa tidak semua yang terdengar salah, tidak harus segera dihakimi. Tidak semua yang terasa kurang tepat, harus langsung dikoreksi dengan rasa lebih suci. Gus Nadir mulai fokus pada bacaannya  sendiri. Pada kekhusukannya sendiri. Pada makna salat yang justru sering hilang karena sibuk menjadi hakim bagi orang lain!

Kini prinsip itu, ia bawa ke banyak ruang-ruang kehidupan. Kalau melihat orang lain salah, anggap saja mungkin kita yang salah lihat. Kalau mendengar orang lain keliru, anggap saja mungkin kita yang salah dengar. Bukan untuk membenarkan kesalahan. Bukan untuk menormalisasi kekeliruan. Tapi untuk melatih hati agar tidak tergesa-gesa menghakimi. Untuk menjaga diri dari merasa lebih benar. Dan, untuk mengingat bahwa memperbaiki diri sendiri jauh lebih mendesak daripada sibuk mengaudit orang lain.

Kadang yang perlu kita luruskan bukan bacaan imam. Tapi cara pandang kita sendiri. Bukankah cara setan meggoda itu seperti ini: ketika ia gagal membuat kita melakukan kesalahan, ia akan sukses membuat kita merasa paling benar sendiri.

Kisah yang sangat keren. Sangat kontekstual. Sangat dibutuhkan untuk mengarungi kondisi masa kini. Ketika sejumlah orang terus mencari-cari kekeliruan liyan. Mereka berjingkrak-jingkrak riang ketika orang lain melakukan kesalahan. Masih banyak orang sibuk mengaudit orang lain dengan berbagai cara. Tanpa melakukan tabayun lebih dulu, belum mengonfirmasi kebenaran tuduhannya, langsung mengudal-udal tuduhan tak berdasar di media digital. Terutama di media daringnya sendiri.

Wa ba’du. Bagi saya, cerita penuh nasihat dari Gus Nadir itu sangat inspiratif. Sangat baik untuk melatih hati. Agar tidak tergesa-gesa menghakimi. Melakukan penghakiman terhadap sesuatu yang masih abu-abu. Juga untuk menjaga diri dari merasa lebih benar. Merasa paling benar. Paling hebat. Dan, ini yang terpenting, untuk pengingat: bahwa memperbaiki diri sendiri jauh lebih mendesak daripada sibuk mengaudit orang lain.

Saya melihat dan mendengar Kang Maman membaca ulang cerita Gus Nadir di videonya, rasa penasaran terhadap gerangan sosok dalam cerita itu. Saya segera berselancar ke situs internet. Saya ketik sebuah nama yang disebut Kang Maman di akhir videonya: Nadirsyah Hosen.

Ternyata ia bukan sosok biasa. Prof Nadir adalah akademisi Indonesia. Mengajar di Fakultas Hukum. Di dua kampus top Australia. Universitas Monash (2015-2024) dan Universitas Melbourne (sejak 1 Juli 2024). Sebagai kiai, Gus Nadir tercatat sebagai Rais Syuriah Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (NU) Australia dan Selandia Baru.

Sungguh beruntungnya saya, bisa berkenalan dengan Gus Nadir. Walau hanya dalam cerita. Yang divisualkan dalam video oleh Kang Maman. Semoga begitu pula dengan pembaca…. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #samsudin adlawi