Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Renjana pada ASRI

Samsudin Adlawi • Rabu, 18 Februari 2026 | 05:00 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

RESONANSI Tandang Bareng begitu kuat. Tak dinyana nyambung juga ke hati Presiden Prabowo Subianto. Dari mulut Presiden Prabowo telah meluncur Tandang Bareng dalam versi yang beda. Pernyataan orang nomor satu di Indonesia itu lebih tepat disebut sebagai implementasi dari Tandang Bareng versi Banyuwangi.

Tandang Bareng versi Presiden itu bernama ASRI. Singkatan dari Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Instruksi tentang program ASRI disampaikan Prabowo di pengujung taklimat Presiden pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor. Pada 2 Februari 2026 lalu.

ASRI merupakan program lintas sektoral. Semangatnya sama seperti Tandang Bareng. Semua pihak, para stakeholder, diajak bergandeng tangan. Buang jauh ego masing-masing sektoral. Melangkah bersama. Menuju tujuan yang satu. Dan, di-tandangi secara bersama-sama.

Keamanan, misalnya, merupakan domain kepolisian. Tapi, tanpa dukungan dan keterlibatan masyarakat, aparat kepolisian akan kewalahan. Programnya memang berjalan. Tapi, hasilnya tak secemerlang bila tugas itu disinergikan bersama masyarakat. 

Ketika terjadi gangguan kamtibmas, dengan kesadaran sendiri masyarakat langsung lapor ke call center Polri, di nomor 110. Bahkan, masyarakat malah bisa menjadi “polisi bagi diri sendiri”. Seperti arahan pertama Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rofiq Ripto Himawan saat mengawali tugasnya di Bumi Blambangan, Januari kemarin.

“Polisi bagi diri sendiri”, tandas Rofiq, merupakan strategi utama menciptakan kamtibmas yang kondusif. Menekankan pada pentingnya disiplin pribadi, pengendalian diri, dan kesadaran menjaga keamanan lingkungan. Tidak hanya mengandalkan aparat kepolisian. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu. Yang membutuhkan keahlian khusus yang hanya dimiliki oleh polisi.

Pun menciptakan kesehatan masyarakat. Program Dinas Kesehatan atau bahkan Kementerian Kesehatan tidak bisa berjalan optimal tanpa keterlibatan para pihak. Terutama yang terkait dengan presentasi kesehatan masyarakat. Kemenkes dan atau Dinas Kesehatan tidak bisa meninggalkan tokoh masyarakat, sesepuh kampung, kiai/ustadz, pastur, pendeta, dan tokoh adat. Kedudukan mereka di tengah masyarakat, bisa ‘dimanfaatkan’ untuk sosialisasi program terkait kesehatan. Juga para aktivis peduli kesehatan. Kehadiran mereka dibutuhkan dalam penyadaran akan pentingnya mencegah serangan virus berbahaya. Seperti ketika Corona Virus Disease alias Covid mengganas, beberapa tahun lalu, misalnya.

Tandang Bareng sangat dibutuhkan dalam mewujudkan Resik sebagai bagian dari ASRI. Setelah Presiden Prabowo meriakkan korve dari podium, esoknya ribuan anggota TNI dan Polri langsung ‘menyerbu’ sejumlah pantai di Bali. Mulai Kuta sampai Jimbaran. Mereka Tandang Bareng bersama para ASN, swasta, dan pelajar. Bahu membahu membersihkan serakan sampah di destinasi wisata yang kondang itu. Walhasil, dalam dua hari, pantai-pantai destinasi wisata langsung bersih.

Pertanyaannya, kegiatan Tandang Bareng itu akan dilakukan secara berkala atau hanya sporadis. Bergerak kembali setelah Presiden meneriakkan korve lagi. Kita tahu, fenomena sampah melimpah di Bali bukan hal baru. Selalu terjadi setiap tahun. Pada bulan-bulan tertentu.

Sampah kiriman di pantai-pantai Bali, khususnya di area Kuta, Legian, dan Jimbaran disebabkan oleh fenomena alam. Yakni munculnya angin musim barat. Lebih populer dengan muson barat. Ditambah cuaca ekstrem. Yang terjadi sejak Desember hingga April. Selama lima bulan, angin dan arus laut membawa sampah organik, seperti kayu dan bambu. Juga plastik dan bahkan barang-barang rumah tangga. Sampah aneka rupa itu berasal dari muara sungai di Bali dan pulau lain ke pesisir. Fenomena yang sama juga terjadi di Banyuwangi. Seperti di pantai Pulau Santen dan Lampon.

Kita tunggu bersama. Apakah semangat korve itu akan terus dilakukan.

Pastinya, penanganan sampah tidak bisa dilakukan secara sporadis. Tapi harus melalui perencanaan yang matang. Perencanaan itu lalu diterjemahkan dalam program berkualitas. Apa yang dilakukan dalam jangka pendek, jangan menengah, dan jangka panjang. Sebab, sampah terus ‘mengalir’ tanpa henti. Walau sehari.

Jika tidak dikelola dengan baik, sampah bisa mengubur manusia. Sampah harus dikendalikan. Agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Syukur bila sudah disiapkan strategi untuk mengelolanya. Menjadi produk tertentu sehingga menghasilkan cuan.

Banyuwangi punya komitmen kuat menyulap sampah sebagai berkah. Lewat pengelolaan sampah sirkular. Langkah cemerlang itu mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Bahkan, dukungannya dari luar negeri. Yakni, dari Clean Rivers (CR). Salah satu organisasi nirlaba global yang berbasis di Uni Emirat Arab. 

Support CR nyata. Berupa pembangunan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R). Dua pabrik sekaligus. Yakni di Banyuwangi Kota dan Genteng. Berkapasitas 50 ton. Menyerap sampah dari 850 ribu warga. Komitmen itu ditegaskan langsung oleh CEO CR Deborah Beccus kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas di pendapa Sabha Swagata Blambangan (12/2/26).

TPS3R adalah peradaban baru. Dengan TPS3R, TPS di Kota Gandrung Banyuwangi tidak lagi menjadi Tempat Penampungan Sampah. Melainkan menjelma menjadi Tempat Pengolahan Sampah. Perubahan kata “penampungan” menjadi “pengolahan” membuat TPS berubah drastis. Yang semula identik dengan bau menyengat—sehingga keberadaannya banyak ditolak masyarakat, dipastikan tidak ada lagi bau di TPS3R. Sebab, sampah (terutama organik) yang menjadi sumber bau berasal langsung diolah: direduce-reuse-recycle (didaur ulang). Tanpa sisa. Tanpa residu.

Kehadiran dua TPS3R—di Banyuwangi dan Genteng, mengutip Bupati Ipuk, sangat penting untuk membangun sistem persampahan yang lebih kuat. Dan, ini yang lebih penting, sustainable alias berkelanjutan atawa tidak sporadis. Dukungan dari CR bisa mempercepat transformasi sistem pengolahan sampah di kota The Sunrise of Java. Lebih penting lagi, alih alih berdampak pada penyediaan akses penanganan sampah terintegrasi untuk ratusan ribu warga. “Tetapi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru. Utamanya bagi masyarakat sekitar lokasi TPS3R,’’ tegas Ipuk, dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (15/2/26).

TPS3R di Kecamatan Banyuwangi dan Genteng membawa tiga dampak sekaligus: ekonomi, lingkungan, dan sosial. Bahkan, ungkap Deborah, TPS3R yang akan beroperasi November mendatang tidak hanya berdampak pada Banyuwangi. Namun, akan memancarkan semangat global.

Wa ba’du. Tidak salah jika Presiden Prabowo datang ke Banyuwangi pada November mendatang. Menyaksikan secara langsung bagaimana Banyuwangi membangun peradaban baru di bidang sampah. Jika benar-benar datang, Prabowo bisa melihat langsung proses pengolahan sampah di TPS3R. Agar setelahnya, Presiden Prabowo bilang: Banyuwangi tidak ASRI. Tapi sangat sangat-sangat ASRI.

Ah, lupakan. Itu hanya ilusi. Mana mungkin Presiden Prabowo mau datang ke Bumi Blambangan…. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #samsudin adlawi