Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tandang Bareng Bangun Pariwisata

Samsudin Adlawi • Rabu, 14 Januari 2026 | 01:30 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

RIUH hari jadi Banyuwangi (Harjaba) boleh berlalu: 18 Desember 2025 lalu. Tapi tidak dengan temanya. Yang hanya dua kata: Tandang Bareng. Meski hanya satu frasa, tema itu cukup nendang. Cocok untuk peringatan Harjaba ke-254. Buktinya masih menggaung, hingga kini. Terus mengingang di daun telinga.

Kelihatan dan kedengarannya bersahaja. Padahal pesan yang dikandungnya sangat kuat. Begitu mendalam. Secara kontekstual, Tandang Bareng setarikan nafas dengan gotong royong. Yang intinya: bergerak bersama-sama. Holopis kuntul baris. Menuju ‘’berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’’.

Dengan Tandang Bareng, yang berat jadi ringan, yang sulit jadi mudah, yang rumit jadi terurai, yang berselisih jadi berteman, dst dlsb.

Tandang Bareng bisa diklaim milik bahasa Jawa dan Oseng. Orang Jawa menyebut bekerja (melakukan sesuatu) bersama-sama dengan Tandang Bareng. Pun orang Oseng. Ma muskilah. Tidak masalah. Justru itu baik. Senafas dengan makna frasa Tandang Bareng.

Dalam Tandang Bareng ada semangat kebersamaan. Kekompakan. Itu tecermin dalam syukuran Harjaba, 18 Desember 2025 lalu, di halaman tengah kantor pemkab Banyuwangi. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas dan Forkopimda makan bersama petugas kebersihan, ojek online, tukang becak, hingga perwakilan masyarakat yang lain. Mereka duduk bersama. Lesehan.  Tak ada jarak. Sebaliknya, sangat akrab. Tak ada perbedaan kelas. Mereka menyantap suguhan yang sama: nasi bungkus.

Suasana kekariban itu sangat dibutuhkan. Terutama dalam membangun kota The Sunrise of Java. ‘’Mari bersama-sama tandang bareng membangun dan memajukan daerah kita tercinta ini dengan semangat gotong royong,’’ seru Bupati Ipuk.

Selain punya nilai-nilai fundamental, kata Koentjaraningrat dan Soerjono Soekanto, gotong royong juga punya karakteristik. Sehingga mudah dikenali. Diantaranya, adanya kesadaran kolektif. Gotong royong tidak jatuh dari langit. Tapi muncul dari kesadaran bersama. Yakni, orang hidup berdampingan. Dalam suatu komunitas. Mereka saling membutuhkan satu sama lainnya. Solidaritas sosial. Berikutnya adalah kesadaran akan tujuan bersama. Aktivitas (apapun) dilakukan untuk mencapai tujuan (kepentingan) bersama. Bukan untuk kepentingan pribadi. Bukan juga untuk kelompok tertentu.

Dalam gotong royong, ego harus dikubur dalam-dalam. Karena gotong royong membutuhkan sifat sukarela dan ikhlas. Bila masih ada pamrih, gotong royong tidak akan berjalan baik. Bahkan, sangat mungkin, akan gagal total. Karakteristik gotong royong lainnya: hubungan timbal balik, berwujud kegiatan bersama, serta mengacu pada norma dan nilai yang sama.

Inti dari segala inti makna gotong royong disampaikan Bung Karno. ‘’Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua,’’ ujar Ir Soekarno, saat berpidato di

di BPUPKI (Bada Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada 1 Juni 1945.

Tandang Bareng, Kini

Tandang Bareng dalam gotong royong punya syarat. Yakni tiga ada: adanya ikatan sosial yang kuat, adanya kesadaran untuk saling membantu, dan adanya tujuan/kepentingan bersama dalam komunal. Bisa dalam keluarga, lingkungan tempat tinggal, daerah, hingga negara.

Mari kita flash back. Memutar waktu setahun ke belakang. Apa yang sudah kita perbuat. Sudahkah kita melakukan Tandang Bareng, memajukan Kota Gandrung Banyuwangi. Ah, rasa-rasanya kok belum ya. Ikatan sosialnya sih sudah terasa. Kebanggaan menjadi orang Blambangan sudah lumayan mengemuka. Tapi untuk kesadaran saling membantu dan (demi) kepentingan bersama belum terasa betul.

Ini contoh sederhananya. Dalam memajukan pariwisata, para stake holder terkesan masih berjalan sendiri-sendiri. Belum tampak relasi harmoni antara pengelola destinasi dan pelaku seni budaya. Padahal, Tandang Bareng diantara mereka bisa mengakselerasi pemajuan pariwisata Banyuwangi.

Kesan yang tampak, selama ini, wisatawan ngeloyor ke destinasi wisata begitu saja. Setelah puas berwisata, mereka langsung kembali ke penginapan. Padahal, di sepanjang jalan menuju destinasi mereka bisa mampir di sanggar-sanggar seni.

Jumlah sanggar seni di kota The Sunrise of Java bejibun. Yang teregister di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi mencapai 300-an sanggar. Dan, tersebar di seluruh wilayah kecamatan. Misal, wisatawan yang berkunjung ke Pulau Merah dan sekitarnya, mereka bisa mampir di sanggar tari Gandrung Arum. Lokasinya di Dusun Tembelang, Desa Cluring, Kecamatan Cluring. Ratusan anak setiap hari belajar menari di sanggar milik Suko Prayitno itu. Wisatawan juga bisa belajar bertanya banyak hal tentang gandrung kepada sosok penting di balik pergelaran kolosal Gandrung Sewu.

‘’Mestinya, wisatawan yang ke Pulau Merah atau sekitarnya kan bisa diajak ke sanggar Saya, atau sanggar seni-sanggar seni lainnya. Di wisalayah selatan banyak sekali sekali sanggar yang aktif berkegiatan setiap hari,’’ keluh Suko, saat rapat bersama DKB (Dewan Kesenian Blambangan) dan Majelis Kehormatan DKB (MK-DKB), Sabtu kemarin (10/1/26).

Kondisi yang dialami Suko membuat para pemilik sanggar mbengok. Mereka merasa dianggap bukan bagian dari pengembangan pariwisata Banyuwangi. Padahal, keinginannya untuk berpartisipasi dalam mengembangkan wisata sangat kuat.

Wa ba’du. Potensi pariwisata Banyuwangi bukan hanya objek wisata alam. Tapi juga seni dan budaya. Bahkan, ritual. Andai potensi-potensi itu terintegrasi menjadi satu kesatuan, pariwisata Banyuwangi akan bertambah maju. Dan, untuk menjadikan bisa berjalan beriringan tak perlu dana besar. Cukup membuang ego. Tidak boleh ada yang merasa lebih penting dari lainnya.

Memang, selama ini setiap tahun ada banyak event seni. Tapi itu tentatif. Tidak cukup untuk membuktikan bahwa pariwisata Banyuwangi sudah melingkupi objek wisata alam dan atraksi budaya. Sekali lagi, masih berjalan sendiri-sendiri.

Itu pekerjaan rumah di 2026. PR besar untuk mewujudkan Tandang Bareng yang sesungguhnya dalam membangun pariwisata Banyuwangi. Para pemangku kepentingan harus duduk bareng. Mulai ASITA, Pokdarwis, HPI, Disbudpar, dan DKB. Segara papat bersama. Mmecahkan masalah yang sebenarnya sangat sepele. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #banyuwangi #samsudin adlawi