Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menjelang dan Setelah NU Berdiri

Samsudin Adlawi • Rabu, 7 Januari 2026 | 07:00 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

SYUKRON. Terima kasih kepada KH R Ahmad Azaim Ibrahimy. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, itu telah mengingatkan kita.

Bangsa Indonesia. Wabil-khusus keluarga besar nahdliyin. Tentang sejarah besar yang terjadi satu abad silam.

Kiai Azaim melakukan tapak tilas sejarah pada Ahad (4/1/26). Ia berjalan dari Bangkalan, Madura menuju Jombang.

Seperti dilakukan KH Raden As'ad Syamsul Arifin, pendiri Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, 100 tahun silam. Ketika itu, Kiai As’ad sedang menjalankan misi khusus.

Menjadi wasilah (perantara) ketika Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari meminta restu kepada gurunya, KH Cholil Bangkalan, untuk mendirikan jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Sekadar mengingatkan, NU berdiri pada 16 Rajab 1344 H. Bertepatan dengan 31 Januari 1926 kalender masehi.

Berarti bulan ini, Rajab yang juga Januari, NU sudah berusia seabad. Sejarah berdirinya NU tidak lepas dari peran penting para pendirinya.

Trio kiai. Selain KH Hasyim Asy’ari, juga ada dua nama kiai besar lainnya. Yakni KH Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri.  

Sebelum NU resmi berdiri pada 31 Januari 1926, ada peristiwa penting yang mengawalinya. Peristiwa itu melibatkan peran krusial Kiai As’ad di dalamnya.

Singkat kisah, saat itu, Kiai As’ad masih menjadi santri. Santri Kiai Hasyim Asy’ari di Ponpes Tebuireng. Ia diutus menemui Kiai Cholil di Bangkalan.

Kebetulan, sebelumnya, As’ad juga nyantri di Pesantren Kademangan, Bangkalan, asuhan Kiai Cholil.

Santri As’ad menyampaikan hasil istikharah gurunya, Kiai Hasyim Asy’ari, kepada Kiai Cholil. Bahwa petunjuk untuk mengambil keputusan tidak jatuh kepadanya.

Melainkan diterima Kiai Cholil yang juga guru Kiai Hasyim Asy’ari.

Bisa juga dimaknai, hal itu merupakan komitmen dan bentuk takzim santri kepada gurunya. Apalagi menyangkut persoalan penting dan strategis.

Petunjuknya ada dua. Disampaikan dalam tahun yang berbeda. Meski begitu, sebagai wasilah (penghubung), santri As’ad tetap menyampaikan kedua petunjuk itu kepada Kiai Hasyim Asy’ari dengan penuh tawaduk.

Meski situasinya tidak mudah. Di tengah situasi penjajahan, bolak-balik dari Bangkalan ke Jombang tidaklah mudah.

Petunjuk pertama disampaikan pada akhir 1924. Kiai Cholil minta santri As’ad mengantarkan sebuah tongkat ke Kiai Hasyim di Tebuireng, Jombang.

Berikut seperangkat ayat Al-Qur’an surat Thaha ayat 17-23 yang mengisahkan mukjizat nabi Musa AS.

Petunjuk kedua disampaikan setahun berikutnya. Pada akhir 1925. Kali ini, satri As’ad diutus Kiai Cholil mengantarkan seuntai tasbih, lengkap dengan bacaan asmaul husna: Ya Jabbar, Ya Qahhar, kepada Kiai Hasyim.

Begitu tiba di Tebungireng, santri As’ad menghaturkan tasbih yang dikalungkan Kiai Cholis di lehernya.

Namun, ia tidak berani menyentuh tasbih tersebut di sepanjang perjalanan Bangkalan – Tebuireng.

Seperti diamanatkan Kiai Cholil. As’ad menyilakan Kiai Hasyim mengambilnya langsung dari lehernya.

Kiai Hasyim segera meraih tasbih dari leher As’ad.

“Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?” tanya Kiai Hasyim.

“Ya Jabbar, Ya Qahhar,” jawab As’ad, diulangnya sampai tiga kali. Sesuai pesan sang guru Kiai Cholil. Kiai Hasyim lantas menyimpulkan, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyah”.

Kisah itu sudah lama ditulis Choirul Anam (Petumbuhan dan Perkembangan NU, 2010: 72). Tapi, tetap relevan hingga kini.

Warga nahdliyin harus terus mengingatnya. Apalagi, para pemimpin NU. Di semua level struktur kelembagaannya.

Mulai dari daerah hingga pusat. Bahwa, Kiai Cholil dan Kiai Hasyim tidak akan sembarangan memilih orang/santri sebagai wasilah pendirian NU.

Boleh dibilang, Raden As’ad Syamsul Arifin muda merupakan “santri khos” KH Cholil Bangkalan dan Kiai Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Menghayati Perjuangan

Tampaknya Kiai Azaim ingin menghayati perjuangan Kiai As’ad—pendiri pesantren yang dipimpinnya sekarang. Ia menduplikasi peran wasilah Kiai As’ad.

Berjalan kaki, naik kapal, dan naik kereta dari Bangkalan sampai Jombang. Tentu saja, sambil membawa tongkat dan berkalung tasbih.

Kiai Azaim yang cucu Kiai As’ad menerima kedua benda itu dari KH Imam Buchori Kholil, dzuriyah Syaikhona Mohammad Cholil Bangkalan.  

Sambil berjalan Kiai Azaim terus membaca zikir Ya Jabbar, Ya Qahhar. Diikuti ribuan pengikutnya: peserta aktif ikatan alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS), santri, dan warga NU.

Wa ba’du. Menghayati perjuangan seorang tokoh itu penting. Apalagi tokoh tersebut menjadi panutan hingga sekarang.

Seberapa besar perjuangan dan pengorbanan generasi saat ini, tidak sebanding dengan yang dilakukan oleh tokoh panutan umat.

Itu tidak bisa dibantah. Kecuali jika bisa menjawab pertanyaan: jika santri As’ad ketika itu tidak amanah sebagai wasilah, akankah NU akan eksis seperti sekarang?

Sejak berdiri, NU sudah berganti-ganti pimpinan. Mereka saling melengkapi program. Menyempurnakannya hingga NU menjadi organisasi keagamaan beranggota terbesar di dunia seperti sekarang?

Di masa kini dan mendatang, siapa pun memang boleh dan bisa memimpin NU. Pada semua tingkatan. Mulai pusat sampai daerah.

Asal qualified. Memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan oleh organisasi. Mumpuni. Punya ghirah menghidup-hidupkan NU. Bukan sebaliknya, mencari hidup di NU.

Pesan KH Abdul Muchith Muzadi patut menjadi renungan. Mengutip buku Indonesia di Mata Seorang Kiai NU (Ayu Sutarto 2010), orang yang memimpin NU seharusnya tokoh-tokoh yang punya kepedulian kepada masyarakat kecil, pengembangan pendidikan, dan tata organisasi yang tertib.

Mbah Muchith –panggilan karib KH Abdul Muchith Muzadi mengingatkan, NU harus benar-benar bersih dari sosok yang hendak menggunakan NU sebagai kendaraan politik.

“Perlu diingat, NU menjadi besar dan bertahan karena diterima secara luas oleh masyarakat. Apabila tetap ingin besar dan bertahan, NU tidak boleh mengabaikan kepentingan masyarakat,” petuahnya.

Peringatan kakak mantan Ketua PB NU Hasyim Muzadi itu ditambah perjuangan Kiai As’ad sebagai wasilah pendirian NU, seyogianya menjadi bahan renungan memperingati satu abad NU (1926 – 2026).

Terutama bagi para pemimpin NU. Baik yang sedang menjabat maupun sedang berjuang meraih tampuk pimpinan organisasi bintang sembilan.

Termasuk bagi para kandidat yang maju dalam Konfercab XIV NU Banyuwangi, hari ini (7/1/25), di kampus UIMSYA (Universitas Islam Muchtar Syafa’at), Desa Karangmulyo, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#KH Hasyim Asy ari #man nahnu #KH Kholil Bangkalan #KHR As'ad Syamsul Arifin #nu