RADARBANYUWANGI.ID - 4.888 itu sedikit. Bahkan, sangat sedikit. Dibanding 30.000 bibit pohon! Yang disiapkan pemkab Banyuwangi. Untuk program reboisasi lahan pada 2026.
Tapi, 4.888 itu tidak bisa dilihat dari kuantitas semata. Melainkan lebih ke soal sejarahnya. Latar belakang yang menyertai munculnya angka cantik itu. Juga motivasi yang mendorong kelahiran idenya.
Ya. 4.888 itu terkait dengan nasib pegawai honorer Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Hati mereka sedang berbunga-bunga.
Setelah menerima SK (Surat Keputusan) pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paro Waktu Banyuwangi.
Hati mereka makin mekar. Haru dan bangga. Tersebab, SK PPPK Paro Waktunya diserahkan langsung oleh atasan tertinggi mereka.
Yaitu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Di GOR (Gedung Olah Raga) Tawang Alun, Banyuwangi (28/12/25). SK itu diterima oleh beberapa wakil mereka yang sudah ditunjuk.
Jadi, boleh dibilang, 4.888 menjadi bukan angka istimewa. Karena berkaitan dengan orang-orang yang sedang bahagia. Setelah menerima jawaban atas doa-doanya.
Mengalami momentum yang, bisa jadi, sudah lama ditunggu-tunggu. Dalam waktu sangat lama. Bukan hanya bertahun-tahun.
Tapi, bahkan, puluhan tahun. Malah, konon, sebagian dari mereka ada yang menunggu sampai separo dari umurnya.
Tentu, sebagai orang beriman, mereka langsung mengucap syukur: Alhamdulillah, puji Tuhan. Malah ada yang langsung membayar nazar.
Lari sejauh 52 Km. Dari GOR Tawang Alun di Banyuwangi ke rumahnya di Kecamatan Glenmore. Padahal, usianya sudah tidak muda, 45 tahun. Abdurahman, namanya.
Saat berlari ia berlari memakai baju dan celana acara penyerahan SK: baju putih-celana hitam.
Tangannya memegang stop-map warna merah. Tas ransel berbentuk rompi bergelayut di punggungnya.
Kontan, aksi Abdurraman menjadi pusat perhatian. Jadilah ia terkenal. Dalam sekejap, IG dan FB Jawa Pos Radar Banyuwangi yang terus meng-up date saat ia lari, langsung dibanjiri ratusan ribu penonton.
Kebahagiaan mengalahkan segala-galanya. Saat sampai finish di rumahnya, Abdurahman tak tampak kelelahan. Senyumnya masih mengembang. Bahagia hatinya.
Karena bisa melunasi nazar. Dan, sekaligus, sebagai ungkapan terima kasih kepada pemkab Banyuwangi.
SK PPPK Paro Waktu telah mengakhiri status tenaga honorer yang disandangnya selama 17 tahun.
Sebagai penjaga sekolah di SDN 3 Sepanjang, Dusun Sidomulyo, Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore.
Donasi Unik
Abdurahman dkk punya cara unik. Dalam menyukuri nikmat yang diterima. Yakni, kebahagiaan setelah menyandang status ASN.
Dari jalur PPPK. Mereka tidak merayakan status baru yang diidam-idamkan dalam waktu lama dengan berhura-hura. Tapi memilih menyumbang bibit pohon.
Donasi bibit pohon berbatang keras itu diserahkan kepada pemkab Banyuwangi. c.q. Dinas Pertanian Banyuwangi.
Tentu, donasi mereka sangat bermanfaat. Sebagai dukungan konkret program reboisasi kawasan hulu.
Seperti diketahui bersama, kondisi sejumlah lokasi di Bumi Blambangan sangat kritis. Rawan longsor ketika curah hujan melampaui ambang batas yang ditetapkan.
Donasi bibit pohon ASN baru itu diapresiasi Bupati Ipuk. Sebab, gerakan donasi bibit tersebut sangat mendukung program lingkungan yang terus digalakkan pemkab Banyuwangi. Dijelaskan, pemkab rutin melakukan konservasi lahan.
Menanam puluhan ribu pohon di sejumlah lahan kritis. Khususnya di kawasan hulu. Untuk menjaga vegetasi hutan. Juga lahan-lahan kosong di pedesaan. Sebagai salah satu upaya mitigasi bencana.
“Tentu pemkab tidak bisa bergerak sendiri. Konservasi lingkungan harus dilakukan bersama-sama dengan banyak pihak. Donasi dari teman-teman PPPK Paro Waktu akan mendukung penghijauan di Banyuwangi. Selain mitigasi bencana, penghijauan juga menjamin lingkungan kita tetap sehat karena oksigennya cukup, ” ujar Ipuk, dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (30/12/25).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispertan Banyuwangi Ilham Juanda mengatakan, 4.888 bibit pohon hasil donasi PPPK Paro Waktu akan digunakan untuk reboisasi.
Terutama di lahan-lahan kritis maupun kawasan hulu. Bersama 30.000 bibit pohon yang disiapkan pemkab untuk reboisasi pada 2026.
“Januari bisa mulai kita lakukan penanaman. Ada tiga daerah yang menjadi sasaran prioritas. Yakni Kecamatan Songgon, Kalibaru, dan Glenmore,” tegasnya.
Wa ba’du. Ide donasi pohon itu sangat brilian. Sebagai wujud empati terhadap kerusakan alam di sebagian wilayah Banyuwangi.
Namun, akan lebih keren bila tidak berhenti pada saat penyerahan donasi. Lebih sempurna bila 4.888 penerima SK PPPK Paro Waktu diajak ke lokasi reboisasi.
Menanam pohon donasinya secara langsung. Akan elok bila pohon yang ditanamnya dikasih label namanya.
Kelak, sewaktu-waktu, mereka diajak kembali ke lokasi reboisasi. Ngendangi pohon yang ditanamnya. Tumbuh atau mati.
Akan menjadi indah, bila itu terwujud. Setidaknya, bisa menggerus pemeo: mayoritas niat baik selesai bersamaan dengan selesainya acara seremoni.
Kalau itu yang terjadi, sungguh kasihan nasib 4.888 bibit pohon yang sudah didonasikan. Merana dalam kesepian. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin