MBREBES mili. Penyebab orang menangis macam-macam. Karena kesakitan. Karena gembira. Karena ditinggal orang tercinta. Karena tim jagoannya kalah. Karena tidak naik kelas. Dan masih banyak karena yang lain.
Tapi, tangis yang terjadi di pendapa Sabha Swagata Blambangan, Senin (22/12/25), beda. Air mata membulir begitu saja. Bukan air mata satu orang. Tapi, air mata itu jatuh dari ratusan pasang mata. Mata semua hadirin yang memenuhi pendapa.
Hati mereka trenyuh. Mendengar ungkapan hati finalis lomba Nulis Surat Kanggo Bupati.Yang digelar oleh Jawa Pos Radar Banyuwangi. Hadiah spesial perayaan Hari Ibu. Hati mereka bertambah remuk ketika menyaksikan finalis lomba Wawarah (presentasi inspiratif) bergiliran tampil.
Beberapa finalis lomba Nulis Surat Kanggo Bupati dan Wawarah memilih kisah tentang pengalaman pribadinya. Mereka ungkapkan secara jujur. Apa adanya. Tanpa ada yang ditutupi-tutupi. Pengalaman mereka sangat menyentuh. Menyobek-nyobek hati.
Reina Nabila Izzati, misalnya. Siswa SMPN 3 Kalipuro. Dalam suratnya kanggo Bupati Ipuk, dia mengisahkan kondisi ibunya. “Ibu saya mengalami sakit di bagian kepala dan paru-paru yang mengharuskan untuk operasi. Operasinya dilakukan di daerah Surabaya,” tulisnya polos.
Kisah Reina mengharu biru. Hadirin mulai menyeka pipinya. Mengusap matanya yang sembab. Menahan air mata agar tidak menetes lebih banyak. Tak terkecuali Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Dia tampak tercekat. Beberapa kali mengusap kelopak matanya dengan selampai. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dwi Handayani malah lebih sering mengusap bagian bawah matanya.
Saya yang duduk di sebelah kiri bupati, segera menengok ke kanan, kiri, dan belakang. Ternyata pemandangannya sama. Hampir semua hadirin yang mayoritas ibu-ibu juga trenyuh. Terutama di deretan kursi undangan bagian depan.
Selama sang ibu sakit, Reina dan kakaknya diurus oleh budenya. “Saya juga membantu melakukan semua, dengan cara membersihkan rumah dan lain-lain. Saya harus rajin sekolah karena saya harus membalas semua kebaikan Bude. Semoga ibu lekas sembuh dan kembali ceria seperti dulu lagi,” lanjut Reina, yang lagi-lagi memaksa hadiri kembali mengambil tisu dan sapu tangan untuk menyeka air mata.
Dalam suratnya, Reina melaporkan ke bupati bahwa ibuanya mendapat banyak bantuan. Antara lain kursi roda. Uang untuk berobat. Juga biaya operasi gratis. Dan, Mobil Kanggo Riko (program kesehatan pemkab) untuk mengantar ibunya kontrol.
Materi peserta Wawarah juga tak kalah menyayat hati. Terutama peserta SMP/MTs. Mereka menempatkan ibunya sebagai pahlawan tanpa tanding. Menurut versinya. Novita Rahmawati, misalnya. Siswi SMPN 1 Muncar itu mempresentasikan perjuangan ibunya menyetrika. Setiap hari, dia melihat ibunya menyetrika. Bukan hanya baju milik keluarganya. Melainkan juga tumpukan baju orang lain. Begitu cara berjuang ibunya memenuhi kebutuhan keluarga. Yakni, rela menjadi buruh setrika. Presentasinya yang penuh penghayatan dan kejujuran, membuat juri memilihnya sebagai juara 2.
Beda lagi presentasi juara 1: Karasya (SMPN 2 Banyuwangi). Karasya tidak tinggal bersama keluarga di rumah. Dia tinggal di Yayasan Yatim Piatu Budi Mulya. Ibu asuh di panti sudah seperti ibunya. Pahlawan idolanya. Setiap hari dia melihat perjuangan ibu asuhnya. Terutama pada malam hari: menyiapkan kebutuhan anak-anak panti, seperti baju untuk esok pagi, menyiapkan makan, dan mendoakan “anak-anaknya”. “Saya melihat meski sudah larut malam, ibu asuh masih terus bekerja, menyiapkan semua kebutuhan kami. Lalu saat tengah malam beliau sudah bangun. Salat malam dan mendoakan kami,” kisah Karasya dalam presentasinya.
Presentasi Karasya sangat menyentuh hati kepala kantor Kementerian Agama Banyuwangi Chaironi Hidayat. “Saya sangat trenyuh. Saya lihat dua ibu di kanan kiri saya tak kuasa menahan air matanya. Mereka terus mengusap air matanya,” paparnya.
Bupati Ipuk mengaku sempat membaca karya surat para peserta lomba Nulis Surat Kanggo Bupati. Seluruhnya menunjukkan kecintaan mendalam kepada ibu. “Berbanggalah para ibu yang mendapat tulisan dari anak-anaknya. Berbanggalah yang masih disayangi oleh anak-anaknya. Itulah ibu sebagai cahaya bagi anak,’’ tandasnya.
Wa ba’du. Jika pada 2024 hanya lomba Nulis Surat Kanggo Bupati. Tahun ini ada dua lomba baru. Yakni, lomba Wawarah dan lomba Poster. Poster karya para peserta sangat memukau. Mereka menampilkan poster dengan pesan-pesan mendalam tentang sosok ibu.
Sosok ibu tak pernah habis dijadikan materi lomba. Karya para peserta (SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA) Lomba Kreatif Hari Ibu tahun ini sangat membanggakan. Isinya kritis, detail, inspiratif, solutif, dan lucu. Dan menguras empati.
Penasaran? Tengok di https://bit.ly/KadoPengurasAirMata (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin