BANYUWANGI sedang panen raya. Tapi bukan panen padi dan palawija. Juga bukan hortikultura. Melainkan panen prestasi. Panen apresiasi. Panen anugerah. Panen penghargaan. Sama seperti tahun yang sudah-sudah. Panen raya prestasi itu terjadi setiap menjelang akhir tahun.
Sama seperti sawah dan ladang, panen raya prestasi kota the Sunrise of Java tidak jatuh dari langit. Namun buah dari kerja keras. Sudah ditanam sejak lama. Dipelihara dan terus dikembangkan dalam beberapa bulan. Bahkan, Sebagian sudah sejak lama. Sejak tahun sebelumnya.
Begitu banyak penghargaan yang diperoleh Kota Gandrung, Banyuwangi. menghitung-hitungnya pun sampai kerepotan. Saya bahas saja penghargaan untuk Bumi Blambangan dalam dua bulan mutakhir: November – Desember 2025. Baik penghargaan atas nama lembaga, maupun penghargaan individual/personal.
Saya mulai yang paling gres. Masih kinyis-kinyis. Yakni, penghargaan Most Inspiring Tourism Leader (MITL) 2025. Ini bukan penghargaan kaleng-kaleng. Tapi, sebaliknya, sangat prestisius. Hanya tiga kepala daerah se-Indonesia yang menerimanya. Dengan kategori yang berbeda: gubernur, bupati, dan wali kota. Gubernur penerima MITL adalah Al Haris (Gubernur Provinsi Jambi). MITL untuk wali kota diraih Respati Achmad Ardianto (Wali Kota Solo). Dan, MITL untuk bupati dianugerahkan kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas.
Boleh dibilang, Bupati Ipuk menjadi bupati terbaik di Indonesia dalam program pengembangan pariwisata. Sama halnya dengan Respati Achmad Ardianto dan Al Haris. Masing-masing tercatat sebagai wali kota dan gubernur terbaik di Indonesia dalam pengembangan pariwisata. Mereka bertiga dinilai mampu menggerakkan pariwisata di wilayahnya. Juga dirasakan kontribusinya dalam memanjukan pariwisata Indonesia.
Penghargaan MITL 2025 diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana. Momentum itu terjadi di ajang Wonderful Indonesia Award 2025, di Gedung Sapta Pesona kantor Kemenpar, Jakarta, Jumat pekan lalu (5/12/25).
Menpar Widiyanti mengatakan, penghargaan MITL diberikan kepada kepala daerah yang telah berkontribusi nyata dalam tiga hal. Yakni, pengembangan destinasi, peningkatan pelayanan, dan penguatan ekosistem pariwisata berkelanjutan. Tiga hal itu, selama ini, menjadi concern Bupati Ipuk. Dalam banyak kesempatan, dia terus mengingatkan kepada para pimpinan OPD, c.q. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Juga para stakeholder. Ipuk selalu menekankan pentingnya inovasi, kolaborasi, dan keberanian mengambil keputusan dalam waktu cepat. Karena, “Kami telah menegaskan visi pariwisata Banyuwangi dalam lima tahun menjadi pariwisata unggul berdaya saing dan memberi manfaat besar bagi masyarakat,’’ tandasnya (Jawa Pos Radar Banyuwangi, 8/12/25).
Ketika Banyuwangi sudah punya road map pembangunan dan pengembangan pariwisata unggul, daerah yang lain masih sibuk mencari, membuat, dan mencari cara mengenalkan destinasi pariwisata yang dimilikinya. Beberapa upaya sudah dilakukannya. Namun, hasilnya tak semudah yang direncanakan.
Sangat mudah mengukur keberhasilan pembangunan pariwisata di sebuah daerah. Cukup melihat angka kunjungan wisatanya. Dan, meski sebenarnya bertetangga dengan Bali, tapi belum merasakan limpahan wisatawan dari Pulau Dewata itu. Banyuwangi bekerja sendiri. Berkreasi sendiri. Melakukan inovasi sendiri. Dan, hasilnya justru malah berkibar. Angka kunjungan wisata ke Banyuwangi terus meningkat. Pada 2024, total kunjungan wisatawan ke Banyuwangi tercatat 3.405.145 orang. Naik 7% dibanding 2023.
Rinciannya: wisatawan domestik yang berwisata ke Kota Nasi Tempong sebanyak 3.282.241 orang. Sedangkan wisatawan mancanegaranya tercatat 122.904 orang. Secara otomatis, peningkatan angka kunjungan wisatawan itu mendongkrak peningkatan ekonomi. Perputaran uang di tengah masyarakat kian bejibun. “Pendapatan per kapita dari Rp 58,08 juta pada 2023 meningkat menjadi Rp 62,09 juta pada 2024. PDRB meningkat dari Rp 101,29 triliun pada 2023 menjadi Rp 108,92 triliun pada 2024,’’ papar Ipuk.
Penghargaan lainnya, Banyuwangi dinobatkan sebagai salah satu kota sehat oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Banyuwangi meraih predikat terbaik kedua dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Banyuwangi juga meraih penghargaan kabupaten sehat Swasti Saba (tingkat kesehatan sebuah kota) kategori Padapa. Menkes Budi Gunadi Sadikin menyerahkan langsung dua penghargaan kepada Bupati Ipuk, Jumat (28/11/25) di Jakarta.
Prestasi membanggakan berikutnya didapat Banyuwangi dari Kemendagri. Berkat tata kelola pemerintahan Banyuwangi yang dinilai terbaik di Indonesia. Dengan skor 82,92. Penghargaan diserahkan Mendagri Tito Karnavian kepada Bupati Ipuk di Jakarta, Senin (1/12/25) malam. Tito mengatakan, penghargaan yang diberikan kementeriannya bukan sekadar sebagai motivasi dan pengukuran kinerja. Melainkan juga untuk membagi insentif sesuai prestasi yang telah diraih. ‘’Daerah harus berlomba-lomba untuk menunjukkan kinerja terbaiknya,’’ katanya, dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (3/12/25).
Bukan hanya dari Kemendagri. Banyuwangi juga mendapat penghargaan dari Kemenag (Kementerian Agama) RI. Yakni, anugerah Tanda Cinta Pendidikan Agama Islam 2025. Penghargaan diterima Bupati Ipuk dari Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin di Jakarta, Selasa (2/12/25). “Alhamdulillah, kami berterima kasih atas apresiasi Kemenag atas upaya daerah mendukung penguatan pendidikan agama,” tutur Ipuk kepada koran ini (5/12/25).
DNA Juara
Prestasi yang diraih Banyuwangi dan maupun Bupati Ipuk makin meneguhkan DNA Banyuwangi sebagai kota juara. DNA itu menular dan mengalir ke darah semua pimpinan dan warga Bumi Blambangan. Sebelumnya, Oktober lalu, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra juga mengukir prestasi gemilang. Ia menerima penghargaan bergengsi: Inspiring Professional & Leadership Award 2025. Kategorinya cukup mentereng: Best Innovator and Visionary Leader 2025. Penyerahan piala dan sertifikat dilakukan pada 11 Oktober 2025. Di hadapan para tokoh nasional, akademisi, serta pimpinan lembaga pemerintahan dan swasta. Mereka adalah orang-orang berprestasi dalam bidang kepemimpinan dan inovasi.
Kombes Rama sendiri dinilai punya komitmen dan inovasi mewujudkan pelayanan kepolisian yang modern. Juga humanis dan berbasis teknologi yang diejawantahkan dalam berbagai program unggulan Polresta Banyuwangi. “Penghargaan ini bukan hanya bentuk pengakuan pribadi, tetapi juga hasil kerja keras seluruh jajaran Polresta Banyuwangi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata Rama merendah, saat menyampaikan sambutan.
Sebulan berikutnya, Polresta Banyuwangi juga meraih penghargaan orisinalitas dan ide cerita menarik di ajang Video Pamapta Polri 2025 (26/11/25). Kombes Rama menerima penghargaan tersebut dari Irwasum Polri Komjen Pol Wahyu Widada.
Juri menilai video hasil kreativitas Polresta Banyuwangi menyajikan narasi visual yang kuat dan segar. Kelebihan lainnya: videonya memiliki kedalaman pesan humanis terkait pengabdian anggota Polri di tengah masyarakat. Saya sudah menonton video itu. Menampilkan bagaimana anggota Polri bekerja dengan empati. Mengutamakan kedekatan emosional dan inovasi dalam menjaga keamanan serta membantu penyelesaian persoalan warga.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Banyuwangi tak mau kalah. Video “Rindu Bulan: Mengembalikan yang Hilang dan Menemukan Harapan” karya dinas yang dipimpin Suratno itu meraih juara 1 di ajang Apresiasi Video Inspiratif (AVI). Penghargaan diserahkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di Jakarta, Selasa (2/12/25).
Bukan hanya tingkat nasional, tapi panen raya prestasi Banyuwangi juga sampai ke tingkat internasional. Siswa MTsN 3 Banyuwangi Reyno Felix Altair Hidayat berhasil meraih medali perak lomba International Junior Science Olympiad (IJSO) 2025. Hebatnya, dari lima wakil Indonesia di IJSO yang diselenggarakan di Rusia itu, hanya Reyno seorang yang membawa pulang medali perak. Dan, tentu saja, mengharumkan nama Indonesia di event yang berlangsung 23 November sampai 2 Desember 2025 tersebut.
Prestasi global lainnya diraih Desa Adat Oseng Kemiren, Kecamatan Glagah. Yang ditetapkan menjadi bagian dari Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia. Kemiren memenangkan penghargaan The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 dari Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Tourism). Penghargaan diserahkan di Huzhou, Tiongkok, pada 17 Oktober lalu.
Wa ba’du. Meski kita tinggal di daerah ber-DNA juara, tidak serta merta kita akan menjadi juara. Butuh proses untuk bisa mengangkat trofi. Proses itu membutuhkan waktu. Terutama dalam merumuskan dan mengembangkan inovasi. Itu pun belum cukup. Masih butuh kesungguhan dan kesabaran! (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin