MENGERIKAN. Satu kata itu cukup menggambarkan kedahsyatan bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Tiga provinsi itu dihembalang banjir bandang dan tanah longsor, akhir November lalu. Bukan hanya menyebabkan kerusakan masif rumah dan infrastruktur. Tapi juga menelan korban jiwa begitu banyak.
Laporan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (1 Desember 2025) mengungkap: korban meninggal sebanyak 604 orang! Paling banyak ditemukan di Sumatera Utara. Sebanyak 283 jiwa. Disusul Sumatera Barat dengan 165 orang. Dan, Aceh 156 orang. Masih mungkin korban meninggal akan terus bertambah. Sebab, hingga kini masih banyak korban hilang. Mereka masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan. Di bawah koordinasi BNPB. Setidaknya, menurut data BNPB, masih terdapat 464 korban hilang di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh!
Muncul banyak analisa penyebab bencana menggemparkan itu. secara teknis, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut faktor utama banjir adalah hujan deras tiga hari tanpa henti: 25-27 November 2025. Akibat munculnya fenomena siklon tropis senyar di sekitar Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Tanah di wilayah setempat tidak mampu menadah tumpahan air hujan ekstrem tersebut.
Itu fakta. Tidak bisa dibantah. Memang seperti itu kondisi hujannya. Tapi, fakta lain juga mencengangkan. Air bah di sana tidak lagi berupa air hujan yang bening. Tapi berwarna cokelat tua. Tanah yang berbentuk lumpur. Bukan hanya lumpur. Dari air bah juga membawa batang-batang kayu dan balok kayu hasil penebangan dari hulu. Seperti kita saksikan di video-video dan foto-foto yang beredar di jagat maya.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut kegiatan usaha yang menyebabkan deforestasi, berkontribusi besar pada bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Penyebabnya, akumulasi kerusakan ekologis. Yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Lain lagi amatan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas (Unand) Prof Marzuki. Menurutnya, kerusakan signifikan yang terlihat di lapangan menunjukkan adanya masalah serius pada tata kelola lingkungan. Ditegaskannya, jembatan putus, kayu gelondongan hanyut, hingga perubahan aliran sungai tidak murni akibat iklim. “Ada kerusakan lingkungan yang ikut berperan,” ujarnya di Padang, Senin (1/12/25), dikutip dari Antara.
Ia tidak menampik bahwa bencana yang terjadi saat ini termasuk dalam kategori bencana hidrometeorologi. Bencana yang dipicu langsung oleh dinamika atmosfer atau cuaca. Namun, fakta lain menunjukkan kerusakan lingkungan turut memperparah kondisi. Memperburuk dampak bencana hidrometeorologi. “Alam itu selalu mencari jalannya. Apa pun yang kita lakukan terhadap alam akan memengaruhi bagaimana ia mengalir,” ujarnya.
Dampaknya kompleks
Bukan hanya korban jiwa. Banjir bandang dan tanah longsor juga merusak fasilitas umum. Banyak warga kehilangan tempat tinggal. Mereka kini tinggal di tempat pengungsian. Data Pusdatin BNPB pada Senin (1 Desember 2025) menyebut, setidaknya 3.500 rumah warga mengalami rusak berat. Sebanyak 4.100 rumah rusak sedang. Dan, 20.500 rumah rusak ringan.
Puluhan ribu rumah itu rusak akibat diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Fasilitas umum juga menjadi korban. Mengalami kerusakan massal. Total, 282 fasilitas pendidikan rusak. Sebanyak 271 jembatan juga bernasib sama. Jalan raya-jalan raya juga banyak putus. Tidak bisa dilalui. Akibat diterjang banjir dan tertimbun tanah longsor. Itu sebabnya, bantuan baru terdistribusi tiga hari pascabencana. Itu pun, penyalurannya lewat jalur udara. Menggunakan helikopter.
Sumatera Memberi Pelajaran
Secara geografis, Banyuwangi mirip dengan pulau Sumatera. Beberapa wilayah Bumi Blambangan berupa lereng. Baik perbukitan maupun gunung. Seperti wilayah Licin, Glagah, Giri, Kalipuro, Wongsorejo, Singojuruh, Songgon, Glenmore, dan Kalibaru. Wilayah-wilayah itu berada di bawah Gunung Raung, Gunung Ijen, Gunung Gumitir, Gunung Ranti, dan Kawah Wurung.
Sebagian wilayah yang lain berada di dekat tiga hutan. Di antaranya, Siliragung, Purwoharjo, Tegaldlimo, dan Tegalsari. Songgon, sampai Wongsorejo.
Melihat letaknya, maka Pemerintah Kabupaten Banyuwangi harus waspada. BPBD Banyuwangi bersama pihak terkait seyogianya terus melakukan mitigasi. Secara berkala. Agar tahu persis kondisi sebenarnya. Dan, bila menemukan kondisi dan situasi yang sangat mengkhawatirkan, harus segera merapatkan barisan. Mengambil keputusan dan tindakan cepat. Jangan sampai telat. Seperti yang terjadi di Pulau Sumatera.
Pemerintah dan pemangku kepentingan di sana terkesan abai. Kurang memperhatikan aspek perbaikan tata kelola lingkungan. Untuk meminimalkan kerusakan saat bencana terjadi. Ok, hujan mungkin tidak bisa dikendalikan. Tapi dampaknya bisa dikurangi, bukan. Kuncinya hanya satu: pengelolaan lingkungan.
Wa ba’du. Sudahkah kita melakukannya. Atau baru tersadar nanti setelah tanah longsor dan banjir bandang mengubur wilayah kita. Amit-amit… (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin