Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bye-Bye Resep Berjalan

Samsudin Adlawi • Rabu, 26 November 2025 | 11:45 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

ADA yang baru di RSUD Genteng. Sebuah LCD terpampang di depan pintu masuk. Ukurannya tanggung. Sekitar 54 atau 60 inchi. Berisi informasi. Info paling up date. Tentang semua fasilitas yang ada di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Banyuwangi itu.

Infonya sangat detail. Dan, terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Secara bergatian muncul informasi yang dibutuhkan oleh pengunjung: pasien dan keluarganya. Jadi, pengunjung bisa ngecek secara live lewat layar elektronik berlatar biru itu. Misal, tentang informasi bed (ranjang) kosong rawap inap. Terpampang di layar elektronik itu jumlah bed di ruang VIP, ruang bersalin, ruang isolasi, dll. Juga kelas 1, kelas 2, ruang anak, ruang ICU, ruang bedah, dll. Pokoknya sangat komplet.

Ketua Dewan Pengawas (Dewas) RSUD Genteng dan Blambangan Banyuwangi MY Bramuda mengatakan, RSUD Genteng merupakan salah satu pilot project yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk penggunaan SIM RS. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit baru. Transformasi dari sistem konvensional ke sistem digital.

Ke depan, lanjut Bramuda, pemerintah akan semakin mempermudah pelayanan. “Bagaimana masyarakat bisa kontak ambulans, ngecek ketersidaan kamar, ngecek ketersediaan dokter, macam-macamlah, semuanya ada di sini (SIM RS),’’ tandas Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Banyuwangi itu.

Bramuda tidak sedang ngecap. Ia sudah melihat langsung progress SIM RS di RSUD Genteng, pekan lalu. Didampingi anggota Dewas yang lain. Plt Direktur RSUD Genteng dr Sugiyo menjelaskan secara detail SIM RS yang sedang di-develop oleh tim vendor ternama. Mulai dari bagaimana pasien mendaftar di anjungan pendaftaran di depan pintu keluar, sampai ke semua prasarana yang ada di rumah sakitnya.

Salah satu poli yang dilihat langsung oleh Bramuda adalah poli paru-paru. Ia bertemu dokter Mariatul. Ia wawancarai dokter spesialis paru-paru itu. Ditanyainya dokter Mariatul tentang sistem aplikasi SIM RS yang sedang masa trial and error. “Apakah semakin baik dan bagaimana, Bu Dokter?” tanyanya.

“Kalau menurut saya dari sistem yang terbaru ini sudah sangat membantu sekali,’’ jawab Mariatul bungah.

Mariatul lantas menunjukkan monitor komputer di depannya. Dia buka aplikasi SIM RS. Tampak tabel jumlah pasien paru-paru hari itu. Sebanyak 43 orang. Sebanyak 42 sudah tertangani. Sisa satu pasien! Dia kemudian pindah ke layar berikutnya. Terdapat banyak sekali keterangan. Misal, hasil laboratorium. Juga obat-obat yang tertanggung BPJS Kesehatan atau tidak. Semua muncul di layar monitor itu. “Jadi, saya lebih mudah menjelaskan kepada pasien soal obat-obat yang harus dibayar sendiri oleh pasien karena tidak tertanggung BPJS Kesehetan,” tandas Mariatul

Masih soal obat, di layar monitor pula, dokter bisa melihat progress dan status resep obat pasien yang dimasukkannya ke aplikasi. Dalam waktu secepat kilat resep itu sampai di ruang apotek RSUD Genteng. Sudah secara otomatis terkoneksi. “Jadi, sudah tidak ada lagi resep berjalan. Semua sudah terkoneksi dengan sistem. Memangkas waktu sangat banyak,’’ kata dr Siti Asiyah Anggraeni suatu ketika, yang sebelum menjabat Plt Direktur RSUD Blambangan, dia menjabat direktur RSUD Genteng.

Memangkas Waktu

SIM RS adalah sistem digital terpadu. Dirancang untuk mengelola seluruh aktivitas operasional dan manajemen rumah sakit. Mulai dari pendaftaran pasien, rekam medis, keuangan, hingga penunjang medis. Laboratorium dan Apotek, di antaranya.

Sistem modern itu membuat layanan rumah sakit makin efisien, efektif, dan akurat. Kualitas pelayanan secara umum juga meningkat. Optimasi proses dan penyediaan data begitu cepat. Akurat. Sangat berguna untuk mendukung pengambilan keputusan. 

Modul-modul yang tersedia di aplikasi SIM RS, antara lain, pelayanan medis. Modul ini mengelola proses pendaftaran pasien. Mulai IGD, rawat jalan, dan rawat inap. Juga rekam medis elektronik (RME). Ada juga modul penunjang medis. Modul ini mengatur layanan laboratorium, radiologi, apotek, dan gizi.

SIM RS juga menyajikan modul pelaporan. Laporan yang dibutuhkan untuk keperluan internal dan eksternal. Pelaporan ke pemerintah, misalnya. Bahkan, tersedia juga modul bridging (integrasi). Terhubung dengan sistem eksternal, seperti BPJS Kesehatan (VClaim, e-claim), dan SATUSEHAT Kemenkes. Bahkan, juga akan diintegraikan dengan aplikasi SMARTKAMPUNG milik Pemkab Banyuwangi. Kelak, setelah benar-benar terintegrasi dengan aplikasi SMARTKAMPUNG, masyarakat bisa mengakses data ketersediaan kamar, dokter, hasil laboratorium, nomor antrean, dll cukup dari telepon genggamnnya.

Dengan SIM RS, dokter bisa mengakses rekam medis pasien secara digital, sehingga cepat prosesnya. Perawat bisa melihat jadwal perawatan pasien dan mencatat tindakan yang sudah dilakukan. Bagian farmasi juga sangat diuntungkan. Mereka bisa melihat resep dan mengelola stok obat secara real time. Dan, kasir tidak perlu lagi berlama-lama dengan kalkulator. Sebab, sistem dalam SIM RS dapat secara otomatis menghitung total tagihan pasien.

Wa ba’du. Bramuda menegaskan, pemerintah kabupaten the Sunrise of Java, akan terus meningkatkan pelayanan di dua rumah sakit yang dimilikinya. Caranya, terus melakukan inovasi. Terutama inovasi yang makin memudahkan pasien. “Jika sakit, langsung hubungi rumah sakit Pemerintah Kabupaten Banyuwangi,’’ imbaunya.

Bramuda optimistis, SIM RS bisa diluncurkan secara resmi pada pertengahan Desember 2025. Sebagai kado perayaan Hari Jadi ke-254 Banyuwangi. Kado spesial itu tidak dimaksudkan agar makin banyak rakyat Blambangan yang sakit. Tapi lebih ke semangat untuk menangani pasien secara cepat, akurat, dan baik. Sehingga tidak ada masyarakat yang berlama-lama di rumah sakit. Kecuali yang mau dan hobi. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#rsud genteng #man nahnu #samsudin adlawi