Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tarian Kincir Angin

Samsudin Adlawi • Rabu, 19 November 2025 | 12:45 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

BERPUTAR pelan. Kadang agak kencang. Tergantung embusan angin yang membimbingnya.

Deretan kincir angin itu tak lelah. Tak kenal waktu. Hanya berputar. Terus berputar. Bak aksi penari balet. Tubuhnya berputar saat melantai. Menghipnotis penonton. Seisi gedung pertunjukan.

Pemandangan seperti itu lazim dijumpai di tempat nun jauh. Di Belanda. Negeri Kincir Angin. Juga di beberapa negara Eropa. Saat keliling Eropa lewat jalur darat, beberapa tahun silam, saya sangat menikmati tarian kincir angin di sepanjang perjalanan. Mulai Italia, Spanyol, Prancis, hingga masuk wilayah Belanda dan Jerman. Dan, Jerman itu keren. Punya kapasitas terpasang energi tenaga angin tertinggi di Eropa. Dengan kapasitas terpasang 96,4 GW.

Saat melawat ke Turkiye dan China, Alhamdulillah, saya juga sempat menikmati tarian kincir angin. Yang di Tiongkok lebih gila. Buanyak sekali kincirnya. Di hamparan padang luas. Sepanjang mata memandang, hanya deretan tiang kincir angin yang tampak. Menjulang. Sejajar tingginya. Itu wajar. Tiongkok memang tercatat sebagai pemilik ladang angin terbesar di dunia. Lima kali lebih besar dari pesaing terdekatnya, AS.

Sejumlah referensi mencatat, enam dari sepuluh ladang angin terbesar di dunia terhampar di Tiongkok! Itu menjadikan Tiongkok otomatis menjadi raja energi angin di Asia. Setelahnya baru India. Sampai Indonesia di nomor sekian.

Dalam hal fungsi kincir angin, Belanda agak beda. Negara Tulip itu sangat membutuhkan kincir angin. Kincir angin yang tak terbilang jumlahnya di sana, tidak hanya untuk sumber energi listrik. Melainkan punya fungsi lain. Yakni untuk memompa air dari daratan. Sebagian besar daratan di Belanda memang berada di bawah permukaan laut.

Kondisi geografis tersebut memaksa insinyur teknik sipil Belanda kreatif. Memeras otak. Mencari cara untuk menyelamatkan negaranya dari ancaman ditelan samudera. Singkat kata, Belanda berhasil. Jago membangun dam, bendungan, bendung, waduk, dan embung. Itu pula yang diwariskan ke Indonesia. Perhatikan dam dan DAS (Daerah Aliran Sungai) peninggalan Belanda di sekitar kita. Hingga sekarang masih utuh. Kokoh. Tidak ada retakan sama sekali. Apalagi sampai rompol, seperti proyek yang sama yang dibangun tidak oleh Belanda.

Kerja Turbin Angin

Angin berembus di mana saja. Tapi tak semua daerah/negara punya ladang angin. Sebab, ladang angin itu rahmat. Hadiah dari Tuhan. Beberapa negara dan atau daerah mengelola ladang anginnya. Memanfaatkannya menjadi sesuatu. Bagi kemaslahatan khalayak.

Kemudian lahirnya turbin angin. Seperangkat teknologi yang mengubah energi angin menjadi energi kinetik: energi listrik. Keseluruhan sistem turbin membentuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Turbin angin memiliki komponen inti: bilah, poros, generator, dan tiang penyangga.

Dalam bekerja, turbin angin mengubah energi kinetik menjadi energi mekanik. Begitu penjelasannya. Sangat sederhana. Tapi luar biasa manfaatnya. Bagi kehidupan manusia. Baik untuk kebutuhan rumah tangga. Bahkan hingga industri. Termasuk memutar pompa untuk keperluan irigasi. Pokoknya, banyak manfaatnya.

Bukan Lagi Mimpi

Terus terang, saat menikmati tarian kincir angin di Eropa, Turkiye (negara setengah Eropa, setengah Asia), dan Tiongkok beberapa tahun silam, saya punya mimpi besar. Mimpi itu terus menghampar saat melintas dari Wongsorejo ke Banyuwangi dan sebaliknya. Saya membayangkan tiang penyangga kincir angin berdiri di sepanjang jalan. Jumlahnya puluhan. Setinggi 80-an meter. Berjajar-jajar. Dengan jarak tertentu. Warnanya putih.

Bila kincirnya terus berputar. Tidak terlalu kencang. Juga tidak lamban-lamban amat. Kincir-kincir itu seolah melambaikan tangan. Mengucapkan selamat datang bagi pengguna lalu lintas. Mulai dari Desa Bengkak hingga Bangsring.

Mimpi itu masih terawat baik hingga sekarang. Dan, saya yakin mimpi itu akan menjadi kenyataan. Sebab, hasil riset yang pernah saya baca, kawasan Wongsorejo dan sekitar merupakan ladang energi baru terbarukan (ETB). Sama halnya dengan kawasan Kalipuro utara yang menjadi ladang surya—sedang proses didirikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Saya yakin, tiga tahun lagi mimpi saya akan menjadi kenyataan: melihat tarian kincir angin di Banyuwangi, c.q di sepanjang pinggir jalan nasional di sekitaran Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo. Benar juga. wpd Energy datang ke Banyuwangi. Perusahaan energi asal Jerman akan membangun PLTB 200 megawatt. Lokasinya ndilalah di sekitar wilayah dalam mimpi saya.

Managing Director Asia Pasific wpd Energy Hans Christops Brumberg sudah menghadap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas di ruangan kerja bupati. ‘’PLTB merupakan pembangkit listrik ramah lingkungan, tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca atau polusi udara. PLTB di Banyuwangi mendukung pengurangan emisi karbon dan transisi menuju energi bersih yang dicanangkan pemerintah pusat. PLTB ini akan berkontribusi pada pasokan energi bersih nasional,’’ kata Bupati Ipuk, dilansir koran ini (18/11/25).

Sementara Hans Christops menegaskan perusahaannya sangat berpengalaman di bidang energi angin di Jerman selama puluhan tahun (ah, jangan-jangan tarian ratusan kincir angin yang saya saksikan dulu juga bikinan perusahaan dia). Ditambahkannya, Banyuwangi dipilih melalui pertimbangan matang. Salah satunya, karena Kota Gembrung memenuhi kriteria yang diperlukan. ‘’Indonesia adalah negara besar, punya banyak sumber daya surya. Tetapi untuk angin, kami perlu mencari dengan sangat hati-hati. Di Banyuwangi kami menemukan lokasi potensial yang sangat menarik dan atraktif, dekat pantai dan di kaki pegunungan,’’ ungkap Hans.

  Wa ba’du. Bila benar 25 – 30 turbin (kincir angin) yang akan dibangun membentang dari Desa Bengkak, Desa Bangsring, Gunung Remuk, hingga sekitaran pabrik PT INKA, kota the Sunrise of Java akan mendapat dua berkah sekaligus.

Pertama, kawasan di sekitar lokasi berdiri kincir angin-kincir angin bisa menjadi destinasi wisata baru. Dengan catatan bila dikembangkan dengan serius. Bekerja sama dengan pihak wpd Energy, tentunya. Agar tertata rapi. Dan, bukannya gubuk-gubuk warung remang-remang.

Kedua, lokasi rute yang disebut di atas berdampingan dengan rencana ruas jalan tol Probowangi atau Prosiwangi. Bahkan, posisi deretan kincir-kincir anginnya akan berada lebih bawah dari jalan tolnya. Itu akan menjadi pemandangan paling indah di Banyuwangi. Apalagi saat melintasnya menjelang sunrise. Sekali jepret kamera, dua pemandangan indah akan terbingkai: matahari menyibak selat Bali dan puluhan kincir angin yang berputar pelan!

Rasanya, tak sabar menunggu kedatangan 2028. Saat mimpi saya menjadi kenyataan. Menyaksikan puluhan kincir angin menari-nari di bumi Banyuwangi. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#pembangkit listrik #man nahnu #kincir angin #samsudin adlawi