INI kisah nyata. Ceritanya saya dengar dari sumber A1. Sumber primer. Akurasinya sangat presisi. Kisah ini masih terkait dengan catatan Man Nahnu edisi pekan lalu: 7KAIH (Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat). Bahwa kebiasaan anak-anak itu bisa dibentuk.
Tumbuh kembangnya anak tergantung tempat ia berproses. Mulai keluarga, sekolah, dan lingkungan. Seperti apa proses yang dijalaninya akan menentukan tingkat keberhasilan. Terutama dalam pembentukan karakter si anak. Apel yang bagus akan menjadi rusak, ketika dikumpulkan dengan apel busuk dalam satu keranjang.
Banyak cara orang tua membentuk karakter anaknya. Baik dengan teori yang lazim dipakai banyak orang tua, maupun dilakukan tanpa teori. Pakai insting belaka. Disebabkan kekurangtahuan. Namun, yang berdasar insting justru banyak berhasilnya. Karena orang tua seperti itu mengajarkan kepada anaknya apa yang dia terima dari orang tuanya dulu.
Sumber saya termasuk yang mendidik anaknya pakai insting. Karena mereka bukan orang berpendidikan tinggi. Juga dari keluarga pas-pasan. Tapi keluarga itu punya prinsip hidup yang hebat: kalau ingin punya uang harus bekerja. Prinsip itu ditanamkan jiwa anaknya.
Anak mereka perempuan. Duduk di bangku SLTA. Dia tumbuh tidak seperti teman-teman sebayanya. Yang kita tahu, anak-anak usia SLTA punya gengsi tinggi. Kebanyakan tampilan anak SLTA ingin tampak wah. Maklum, mereka masih dalam pertumbuhan.
Tapi itu tidak berlaku bagi remaja perempuan yang saya ceritakan. Dia cuek. Tak peduli apa kata teman-temannya. Juga gurunya. Dia tampil apa adanya. Tidak neko-neko. Tidak menampilkan sikap penuh kepalsuan. Seperti banyak dipertontonkan teman-temannya.
Dia sama sekali tidak malu sekolah sambil berjualan. Setiap hari, ibunya titip enam nasi bungkus kepadanya. Untuk dijual kepada teman-temanya di sekolah. Ada saja temannya yang beli. Entah karena lapar atau merasa kasihan. Tapi, dagangan dia selalu habis. Dari enam bungkus yang dibawanya, empat bungkus nasi yang laku menjadi haknya. Sementara dua sisanya disetor ke ibunya. Uang yang didapat dari jualan bukan untuk foya-foya. Tapi ditabung untuk membayar kebutuhan sekolah. Dan, sedikit tabungan untuk persiapan melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.
Tapi, tidak selamanya ‘bisnis kecil’ anak SLTA itu berjalan lancar. Suatu ketika seorang guru menegurnya.
‘’Di sini sudah ada kantin sekolah, kok kamu jualan nasi,’’ tegur gurunya.
‘’Iya, Bu. Untung dari jualan ini saya tabung untuk biaya sekolah. Apa tidak boleh?’’ tanyanya balik.
‘’Ya, sudah. Kamu tetap boleh jualan nasi. Tapi jangan lebih dari enam bungkus ya’’.
‘’Iya, Bu,’’ jawabnya polos.
Jual nasi bungkus dibatasi, akhirnya dia mencoba peruntungan lain. Jualan susu kemasan. Ibunya, setiap hari, menitipinya enam kemasan. Laku keras. Dengan bagi hasil yang sama dengan nasi bungkus: empat untuk dia, 2 untuk ibunya.
Akhirnya si guru yang menegurnya saat jualan nasi kembali mengingatkan: ‘’Jualannya jangan lebih dari enam susu ya’’.
Ternyata, si Bu Guru juga membeli susunya. Tidak hanya satu. Tapi kadang dua dan bahkan tiga kemasan. Selain untuk dirinya juga untuk semua dan anaknya. Karena dia sudah merasakan khasiat susu jualan siswanya. Konon, itu memang susu spesial (maaf, tidak boleh menyebut merek).
Wa ba’du. pelajaran yang bisa diambil dari kisah di atas adalah, bagaimana seorang ibu yang bukan siapa-siapa –karena pengetahuannya terbatas– bisa punya ide membangun karakter anaknya sedemikian rupa. Mungkin sebagian orang mengatakan: ‘’Itu karena terjepit kondisi ekonomi’’.
Pendapat itu tidak salah. Tapi poin penting sebenarnya bukan pada mencari keuntungan. Namun, bagaimana ibu itu menanamkan pendidikan karakter sejak dini kepada buah cintanya. Bahwa dia berbisnis dengan anaknya tidak semata mencari keuntungan. Melainkan melatih anaknya disiplin, tidak gengsian, dan gemar menabung.
Tiga hal itu sangat efektif untuk membentuk anak tumbuh kembang menjadi generasi tangguh. Generasi emas. Seperti yang dinyalakan Kemendikdasmen dalam membentuk karakter siswa. Melalui 7KAIH. Si ibu tadi sudah berhasil menanamkan pendidikan karakter versi sendiri. Tapi, saya kira kita semua setuju untuk menyebutnya sebagai ‘’Ibu Hebat’’. Dia membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dilakukan dengan mantra simsalabim. Tapi harus dilakukan secara terus menerus. Istiqamah. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin