Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kota Perkusi

Samsudin Adlawi • Rabu, 29 Oktober 2025 | 13:00 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

PERKUSI Banyuwangi itu hebat. Terutama terbangnya. Terhebat di Indonesia. Bahkan di dunia. Banyak pihak mengakui hal itu.

Mulai dosen hingga musisi. Namun, pengakuan mereka tidak disampaikan tidak dalam forum atau event resmi. Hanya dalam diskusi terbatas. Dan, tidak formal.

Pengakuan jujur disampaikan Djaduk Ferianto (alm). Pentolan kelompok musik KUA Etnika, musik humor Sinten Remen, dan Teater Gandrik itu mengatakannya langsung kepada saya. Dalam diskusi santai berdua.

Di sela-sela latihan menjelang pergelaran Banyuwangi Beach Jazz Festival 2014. Di Pantai Boom, Banyuwangi.

Djaduk dikenal sebagai tokoh musik kontemporer. Dia gemar memadukan dua elemen musik. Mengreasi musik tradisional dan modern. Menjadi genre musik baru yang harmoni.

Di Banyuwangi Beach Jazz Festival 2014, ketika itu, KUA Etnika membuka pergelaran dengan apik. Berkolaborasi dengan musisi Kuntulan Banyuwangi Sayun Sisianto.

Melibatkan 70 penabuh terbang (rebana). Kolaborasi dua maestro itu menggebrak panggung.

Sangat harmoni. Kolaborasi jazz etnik khas KUA Etnika dengan rancak dan kecematan bunyi rebana menghasilkan pertunjukan sepektakuler. Menyihir ribuan penonton. Khususnya pencinta jazz dari seluruhg Indonesia.

Di sela-sela jeda latihan di pelinggihan kantor Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi, Djaduk berbisik kepada saya.

‘’Edan tenan, pukulan terbang Pak Sayun dan teman-teman Banyuwangi cepat sekali. Tetapi tetap terdengar rancak. Harmoninya terjaga. Padahal, mereka bertujuhpuluh lo. Kok bisa kompak begitu ya,’’ kurang lebih seperti itu kalimat Djaduk.

Meski pengakuan itu berasal dari seorang maestro di depan saya dan Pak Sayun,  saya pribadi belum berani mengklaim Banyuwangi sebagai Kota Perkusi.

Alasannya, pernyataan Djaduk tidak disampaikan kepada khalayak. Terbatas omong kelamong antar sesama seniman.

Menunggu 11 Tahun

Harus menunggu 11 tahun. Akhirnya momen bersejarah itu tiba juga. Banyuwangi memang layak menjadi Kota Perkusi. Penabalan itu bukan dari mulut orang Banyuwangi.

Melainkan diucapkan oleh ahlinya ahli musik. Bondan Aji Manggala, namanya. Dosen Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta alias Solo.

Pernyataan Bondan disampaikan langsung di hadapan khalayak. Dalam taksiran 500 lebih penonton Banyuwangi Percussion Festival (BPF).

Mereka tidak hanya warga lokal. Banyak juga yang berasal dari luar kota. Para pencinta perkusi. Ratusan penonton itu berbaur dengan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas.

Juga para pengusaha dan pejabat lokal hingga pusat. Diantaranya anggota DPR RI, BKN, dan BPK, dlsb.  

Para tamu terhormat itu duduk lesehan bersama penonton. Menikmati BPF di Terminal Wisata Terpadu, Jalan S. Parman, Banyuwangi (24/10/25).

Sesuai konsep BPF sendiri. Yang merupakan pertunjukan kerakyatan. Tidak ada batas antara penampil dan penonton. Membaur sebaur-baurnya.

Kembali ke panggung. Bondan menyampaikan kesaksian secara blak-blakan. Dia tidak sedang ngecap.

Pria nyentrik itu jujur mengakui bahwa perkusi Banyuwangi sangat luar biasa. Terutama rebana alias terbangnya. Tidak seharusnya ada yang meragukan penilaiannya.

Kebetulan saya mengenal dia lumayan lama. Tepatnya, selama proses pendirian ISI Surakarta kelas Banyuwangi.

Dari komunikasi intens, saya beroleh info tentangnya. Salah duanya: Bondan jago mencipta lagu, menciptakan alat khusus yang sangat membantu penyandang tuli dalam bermusik.

Bondan yang di BPF 2025 tampil bersama grupnya Etno Ensamble Surakarta menegaskan, sudah sepantasnya kota The Sunrise of Java menjadi tuan rumah festival perkusi.

‘’Bukan hanya festival perkusi Indonesia, tapi dunia. Sebab, perkusi Banyuwangi sangat unik. Jujur kami mengakui, belajar perkusi pertama ya memainkan rebana Banyuwangi,’’ kata Bondan, disambut riuh tepuk tangan penonton.

Sebelum naik ke panggung, Bondan bercerita bahwa sejarah berdirinya Etno Ensamble berkaitan dengan Banyuwangi.

Saat berdiri 24 tahun silam, alat musik rebana yang dipakai Etno Ensamble dibeli dari Banyuwangi. Di bagian belakang kulit rebana Etno Ebsamble masih ada cap.

Stempel nama pembuatnya: ‘’Imam Syafi’I Banyuwangi’’. ‘’Alhamdulillah, setelah 24 tahun kami diundang tampil di festival perkusi perdana di Banyuwangi. Tanah kelahiran rebana yang kami pakai hingga saat ini,’’ tambah Bondan.

Seingat Bondan, grupnya sudah membeli rebana karya Imam Syafi’i sebanyak tiga kali. Bahkan, ketika kulitnya rusak, rebana tersebut dikirim ke Banyuwangi untuk diperbaiki oleh Pak Syafi’i.

‘’Tidak bisa dibengkelkan ke tempat lain. Jadi, Etno Ensamble memang berjodoh dengan Banyuwangi,’’ tukas Bondan.

Saya dan Kang Hasan Basri (Ketua DKB) bersama Kang Juwono (Ketua Komite Musik DKB) beberapa waktu lalu silaturahim ke rumah Pak Imam Syai’i. Dia juga bercerita bahwa salah satu pembeli rebana karyanya berasal dari Solo.

Tapi, dia lupa nama grup musiknya. Ternyata dia memang sempit. Saya malah tak sengaja bertemu dengan pembeli rebana Pak Syafi’i langsung. Yakni, grup Etno Ensamble.

Wa ba’du. Ternyata sejarah perkusi Banyuwangi begitu panjang. Termasuk sejarah rebana yang dipakai grup Etno Ensamble. Yang menegasi bahwa Banyuwangi memang layak menjadi Kota Perkusi. Alasannya sangat kuat.

Banyuwangi bukan hanya tempat lahirnya nada perkusi tercepat di dunia. Melainkan juga tempat alat perkusi tercepat itu dibuat.

Maka, dunia mulai sekarang harus tahu: Banyuwangi bukan hanya Kota Gandrung (Gandrung Sewu). Namun, Banyuwangi juga layak disebut

Sebagai Kota Perkusi. Setuju?

*) Pekolom Banyuwangi

 

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #banyuwangi #samsudin adlawi #perkusi