INI masih soal Jepang. Tapi bukan tentang Hitozukuri dan Monozukuri (baca: Man Nahnu 393, 8 Oktober 2025) lagi. Melainkan kisah dari Toyoake. Kota kecil di Prefektur Aichi, Jepang, itu saat ini lagi nge-hits. Menjadi bahan perbincangan hangat dunia.
Kegemparan terjadi sejak 25 Agustus 2025. Ketika Pemerintah Kota (Pemkot) Toyoake menyerahkan draf peraturan ke dewan kota setempat. Isinya: Pemkot menyerukan pembatasan penggunaan ponsel pintar di luar waktu kerja dan belajar. Hanya selama dua jam per hari.
Draf dilengkapi peringatan. Bahwa penggunaan ponsel, tablet, gim video, dan perangkat lainnya dalam waktu lama bisa mengakibatkan masalah kesehatan. Dampak negatifnya juga terjadi di rumah tangga. Komunikasi antaranggota keluarga jadi berkurang.
Menggunakan gawai hanya dua jam!
Biasalah. Keputusan itu langsung menuai kritik. Dianggap mencampuri urusan pribadi. Begitulah dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Begitu ada peraturan baru soal pembatasan terkait hak privat, bisingnya bukan main. Netizen langsung melakukan ‘’pemberontakan’’.
Tapi, aturan pembatasan pemakaian gawai di Toyoake tetap berlaku. Per 1 Oktober 2025. Dan, akhirnya, warga setempat tetap menjalaninya. Yuri, bukan nama sebenarnya, mengaku, tidak keberatan dengan aturan baru itu. Menurut mahasiswi di Toyoake itu, aturan itu tidak sulit. ‘’Secara umum aku setuju. Karena aku tidak terlalu bergantung pada ponsel untuk hobi atau minatku. Tetapi bagi mereka yang memakai ponsel untuk hiburan dan pelepas stress, aturan seperti ini akan lebih sulit diterima,’’ ujarnya kepada The Guardian, dilansir Jawa Pos (9/10/25).
Brain Rot
Kebijakan Pemkot Toyoake layak ditiru. Oleh pemerintah mana pun. Oleh negara mana pun. Yang peduli pada masa depan rakyatnya. Fakta membuktikan. Hasil riset-riset telah membuka mata. Brain rot sedang menghantui dunia. Pakar di Oxford menyebut, brain rot sebagai penurunan kondisi mental. Juga intelektual seseorang. Akibat konsumsi berlebihan materi yang dianggap sepele atau tidak menantang. Terutama yang dipaparkan konten daring (online). Brain rot alias pembusukan otak. Menyebabkan produktivitas menurun. Terutama menimpa kalangan kaum muda.
Sulit dibantah. Banjir informasi makin menjadi-jadi. Kita pun kewalahan. Memang, belum ada diagnosis medis resmi soal brain rot. Padahal, dampaknya terhadap kesehatan mental dan kognitif sangat nyata. Dialami-rasakan oleh banyak orang. Kondisi otak mereka seolah-olah ‘’membusuk’’. Akibat paparan berlebih ‘’sampah’’ konten digital. Konten tidak bermakna yang bahkan punya daya merusak.
Banyak pendapat soal brain rot. Awalnya, istilah brain rot digunakan hanya untuk menggambarkan efek negatif terlalu banyak nonton tv. Seiring perkembangan teknologi, pemakaian brain rot pun makin meluas. Mencakup dampak negatif dari berbagai bentuk media digital.
Kenali Brain Rot
Gampang sekali mendeteksi apakah kita sedang alami brain rot. Waspadai, pertama, ketika merasakan kemampuan kognitif menurun. Sulit konsentrasi pada tugas-tugas yang membutuhkan fokus. Daya ingat jangka pendek dan panjang turun. Sulit memroses informasi baru. Dan, kemampuan berpikir kritis dan analitis juga turun.
Kedua, produktivitas turun. Sulit menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu, baik pekerjaan atau sekolah. Prokrastinasi (kebiasaan menunda-nunda tugas) meningkat. Sulit mengorganisir dan memriotitaskan tugas. Gejala berikutnya, ketiga, saat perasaan lesu dan tidak termotivasi. Energi dan semangat melakukan aktivitas harian berkurang. Merasa bosan terus-menerus. Sulit menemukan kegembiraan, meski dalam aktivitas hobi atau kegiatan yang biasanya menyenangkan.
Sulit tidur. Kualitas tidur buruk. Suasana hati berubah cepat. Iritabilitas dan ketidaksabaran meningkat. Rasa cemas dan depresi meningkat. Gangguan tidur dan perubahan suasana hati itu menjadi indikator brain rot lainnya. Masih banyak indikator yang lainnya.
Cegah Brain Rot
Mumpung otak belum membusuk, brain rot harus dilawan. Caranya? Batasi waktu menatap layar dan konsumsi media. Tetapkan batas waktu harian menggunakan media sosial, nonton tv, dan bermain gim. Kalau bisa, gunakan aplikasi yang bisa membantu melacak dan sekaligus membatasi penggunaan telepon pintar. Mulai biasakan ‘’digital box’’ secara berkala. Yakni, menjauh dari semua perangkat elektronik selama beberapa jam atau bahkan hari.
Cara lainnya, libatkan diri dalam aktivitas fisik dan sosial. Cari hobi baru yang bisa menstimulus otak. Dlsb. Dll. Dst.
Wa ba’du. Pemkot Toyoake sudah memulai. Menyelamatkan warganya dari limbah akibat paparan layar gawai. Lewat aturan pemakaian gawai. (Hanya) dua jam dalam sehari. Negara dan kota lain kapan menyusul. Menunggu otak warganya membusuk? (Pekolom Banyuwangi).
Editor : Ali Sodiqin