SANGAT singkat. Hanya tiga tahun. Jepang menjajah Indonesia. Antara 1942 hingga 1945. Tapi, kesan yang ditinggalkan begitu mendalam. Tak mudah dilupakan. Apalagi, menghapusnya sampai benar-benar bersih. Dari kotak ingatan di kepala.
Semua tahu, Jepang, saat itu memerintah dengan sangat kejam. Selain dari buku sejarah, kita bisa mendapatkan kesaksian dari sumber lain. Yang lebih otentik. Dari sumber pertama. Pasti A1.Yakni, dari kakek-nenek dan bapak-ibu kita yang masih hidup.
Mereka bisa menceritakan contoh kekejaman Nippon. Dengan sangat lancar. Bahkan, emosional saat bersaksi. Mulai Romusha hingga Genosida Mandor di Kalimantan Barat. Dan, tentu saja, Jugun Ianfu yang sangat memilukan. Para perempuan yang diambil paksa oleh tentara Jepang. Lalu, dijadikan budak seks.
Jepang memang meninggalkan luka. Duka mendalam. Bahkan, dendam. Tapi, biarlah dendam itu membara dalam lipatan ingatan. Dalam catatan sejarah. Dalam buku sejarah –meski entah dibaca atau tidak oleh generasi Z dan sesudah-sudahnya.
Zaman sudah berubah. Pastinya. Indonesia juga sudah berubah. Apalagi Jepang. Di antara tumpukan sisi buruk perlakuan kolonial Jepang di masa lalu, pasti masih ada sisi baiknya. Bagian positif yang bisa kita jadikan pelajaran. Walaupun itu hanya sebesar zarah. Tetap bermanfaat. Sebagai bekal menjadi bangsa dan negara besar. Seperti Jepang sekarang.
Semua bangsa mengakui: Jepang itu hebat. Bisa bangkit dengan cepat. Setelah Amerika Serikat “menghadiahinya” dua bom atom: di Hirosima (6 Agustus 1945) dan di Nagasaki (9 Agustus 1945). Serangan udara AS saat Perang Dunia II itu menewaskan antara 150.000 hingga 246.000 penduduk Jepang. Sebagian besar merupakan warga sipil. Jepang pun terpuruk. Sampai di titik nadir.
Tapi, di luar dugaan, Jepang mampu bangkit. Dengan cepat pula. Apa yang dilakukan bangsanya. Ternyata, salah satunya, menerapkan prinsip dan nilai hidup yang dianutnya. Dua di antara nilai-nilai penting dalam budaya Jepang adalah: Hitozukuri dan Monozukuri. Nilai-nilai itu dipegang teguh. Oleh semuanya. Mulai rakyat biasa hingga pejabat, pekerja, pelajar, guru-dosen, akademisi, ilmuwan, pekerja seni, dlsb.
Sebagai contoh saja. Saya melihat semangat Hitozukuri dan Monozukuri memancar dari sosok Mitsuo Nakamura. Seorang Profesor. Usianya sudah 92 tahun! Tapi, tetap semangat. Tetap produktif. Sebagai penulis. Tetap bepergian jauh. Termasuk ke Indonesia. Belum lama ini. Tepatnya, pada 19 September 2025 lalu.
Kesehatan dan kemampuan fisik menjadi faktor utamanya. Di usia uzur, ia masih mampu menempuh delapan jam penerbangan. Dari Jepang ke Indonesia. Plus beberapa jam perjalanan darat! Hebatnya, ia datang ke Indonesia bukan untuk pelesir. Berlibur. Melainkan menghadiri forum diskusi. Tidak hanya satu. Tapi di beberapa tempat di Jakarta.
Pagi Nakamura hadir di acara diskusi yang diselenggarakan di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Beberapa jam kemudian, ia berpindah ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Membahas buku terbarunya Mengamati Islam di Indonesia: 1977-2023.
Buku itu diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Berisi kompilasi tulisan Nakamura selama lebih dari 50 tahun meneliti dan mengamati Islam di Indonesia. Termasuk organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Hitozukuri merujuk pada pembentukan manusia yang unggul. Dengan ciri -ciri kerapian, ketelitian, kedisiplinan, ketekunan, dan kerja keras. Itu Prof Nakamura banget. Pada 2015, antropolog dan penulis buku itu pernah menyusun jadwal kunjungan koleganya. Seorang pejabat dari Indonesia. Jadwal itu disusunnya dengan sangat rinci. Dari agenda pagi hingga sore. Tanpa jeda.
Ia melakukan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, perjalanan koleganya itu dibiayai oleh pajak rakyat Indonesia, sehingga tak boleh digunakan untuk bersantai. Bagi seorang Nakamura, kesempurnaan diri tercapai melalui kerja yang penuh tanggung jawab. Baginya pula, kunjungan kerja ke luar negeri (seperti sering dilakukan anggota DPR dan pejabat negara) tidak boleh dimanfaatkan sekaligus pelesiran.
Adapun Monozukuri lebih ke semangat menyempurnakan karya. Atau, produk hingga mencapai kualitas terbaik. Semangat itu tampak dari karya Nakamura “The Crescent Rises Over the Banyam Tree”. Buku itu pertama kali terbit pada 1983 melalui UGM Press. Lalu disempurnakan pada 2012 oleh Research University of Singapore.
Wa ba’du. Nakamura merupakan contoh baik dari implementasi konsep nilai budaya bangsa Jepang. Tentu, masih banyak figur lain seperti ia. Pastinya,
semangat membentuk manusia unggul dan menghasilkan karya terbaik itu bagus diteladani. Sebagaimana teladan yang ditampilkan para pendiri bangsa Indonesia.
pastinya, bila Banyuwangi yang sudah sampai pada titik sekarang, tak ada salahnya mengambil semangat Hitozukuri dan Monozukuri. Sebab, untuk bisa “Naik Kelas” membutuhkan effort lebih lagi. Yakni, kerja-kerja penuh kerapian, ketelitian, kedisiplinan, ketekunan, dan kerja keras. Juga semangat menyempurnakan karya. Atau, produk hingga mencapai kualitas terbaik. Event-event Banyuwangi Festival (BWI-Fest) sudah baik. Tapi, masih perlu disempurnakan lagi. Sehingga, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Gandrung Sewu, Tour de Banyuwangi Ijen, dan yang lainnya mencapai kualitas terbaiknya. Dengan begitu, setelah menonton orang akan bilang: BWI-Fest itu memang event penting. Bukan berkata sebaliknya. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin