MATEMATIKA bukan momok. Melainkan (malah) sahabat. Pernyataan itu sering kita dengar. Tampak klise, memang. Tapi, saya beruntung. Sangat bersyukur. Bisa mendengar kalimat itu langsung dari hati dan mulut ahlinya ahli: Profesor Yohanes Surya.
Pernyataan itu ia ucapkan di aula hotel Aston Banyuwangi, selumbari (Senin, 22/09/25). Di depan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas dan para undangan. Serta para peserta olimpiade Matematika GASING dari seluruh Indonesia.
Prof Yohanes Surya adalah idola anak Indonesia. Ia ilmuwan. Fisikawan. Dan, matematikawan. Pembimbing tim Olimpiade Fisika Indonesia. Dan, pengembang pelatihan matematika dan fisika metode GASING: Gampang, Asyik, dan Menyenangkan.
Sangat menginspirasi. Jarang ada ahlinya ahli yang punya kepedulian terhadap masa depan bangsanya. Khushushon, anak-anak mudanya. Prof Yohanes bertekad mengantar prestasi anak-anak Indonesia sejajar dengan anak-anak dari belahan dunia lain. Bahkan, melebihinya.
Go Get Gold
Kecintaanya pada anak-anak Indonesia tidak diragukan. Setara 24 karat emas! Lihat. Ia memilih kembali ke tanah air tercinta. Padahal, ia sudah mendapat surat izin tinggal dan bekerja (greencard) di Amerika Serikat. Tempatnya menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor. Lalu, bekerja di negeri Paman Sam itu.
Tekad kuatnya tidak bisa dibendung. Oleh siapa saja. Iaitu, ingin mengharumkan nama Indonesia. melalui olimpiade fisika. Semboyan “Go Get Gold” pun ia nyalakan. Lantas ia kembangkan fisika dan ilmu sains di Indonesia.
Singkat waktu, digemblenglah anak-anak cerdas Indonesia. Dan, hasilnya, bermunculanlah para juara anak Indonesia di pentas dunia. Anak-anak Indonesia selalu mendapat juara di berbagai ajang olimpiade matematika dan fisika tingkat dunia.
Gerakan GASING
GASING kian digemari. Dalam waktu cepat berkembang di berbagai daerah. Salah satunya di Banyuwangi. Metode belajarnya gampang, asyik, dan menyenangkan itu, kata Prof Yohanes Surya, lahir dari sebuah keyakinan. Bahwa setiap anak Indonesia bisa mencintai matematika. Bisa menguasai sains. Dan, bisa meraih prestasi tertinggi. Asalkan diberikan cara belajar yang tepat!
GASING, masih kata sang profesor, bukan sekadar metode menghitung. Tapi lebih dari itu. Merupakan sebuah gerakan untuk membangkitkan rasa percaya diri. Mengasah logika. Melatih disiplin. Dan, menumbuhkan semangat pantang menyerah.
Empat hal itu sangat dibutuhkan anak-anak. Sangat penting sebagai bekal. Mengatasi tantangan semasa belajar. Juga menghadapi kehidupan. Dalam menjalani kehidupan nyata dibutuhkan percaya diri tinggi. Membutuhkan disiplin ketat. Beberapa persoalan harus diputuskan dengan menggunakan logika. Tak kalah pentingnya adalah semangat pantang menyerah. Bahwa dalam hidup kegagalan adalah keniscayaan. Karenanya dibutuhkan semangat pantang menyerah. Mereka yang gampang menyerah pasti akan kalah. Akan terjerembap dalam kegagalan yang jumud.
Api Harapan dari Banyuwangi
Banyuwangi, bagi Prof Yohanes Surya, adalah rumah kedua. Ia sudah berkali-kali datang ke Bumi Blambangan. Menggerakkan GASING sejak beberapa tahun silam. Hasilnya sangat kentara. Anak-anak Banyuwangi lihai mengerjakan soal matematika. Bahkan, salah satunya Felicia Dahayu. Siswa SDN Pesanggaran yang melanjutkan ke SMP Lazuardi Banyuwangi itu telah mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Felicia meraih emas kompetisi coding dalam The 9th World Innovative Technology (WIT) Challenge di Chonnam National University, Korea Selatan, 2-3 November 2024.
Prof Yohanes Surya pun bangga pada kota The Sunrise of Java. Banyuwangi, katanya, tempat yang tepat untuk menyalakan api semangat generasi emas Indonesia. Menyalakan pelita bagi bangsa. “Seperti ujung timur Jawa yang pertama kali menyambut matahari, semoga dari Banyuwangi pula lahir sinar harapan baru bagi Pendidikan Indonesia,’’ tegas Prof Yohanes Surya, disambut tepuk tangan hadirin.
Itu bukan harapan kosong. Anak-anak peserta olimpiade yang berkompetisi di Banyuwangi adalah bukti. Indonesia memiliki generasi emas. Generasi yang berani melawan rasa takut, berani mencoba, dan tidak pernah menyerah. Mereka siap menyalakan terang bagi bangsa. Dengan kemampuannya dalam mengerjakan soal-soal matematika. Menggunakan metode yang gampang, asyik, dan menyenangkan (GASING).
Mengutip pernyataan Prof Yohanes Surya, Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, setiap anak Indonesia sesungguhnya genius. Hanya cara belajarnya yang perlu diubah. Ipuk juga sepakat dengan pernyataan Galileo Galilie, bahwa matematika sebagai bahasa semesta untuk memahami ciptaan Tuhan. “Sekaligus dasar bagi lahirnya teknologi dan inovasi,’’ tandasnya.
Wa ba’du. Besar harapan, dari olimpiade matematika GASING akan lahir banyak Yohanes Surya dan Galileo Galilie di Indonesia. Bahkan, Albert Einstein. Karena Einstein pernah mengatakan, bahwa pendidikan tak sekadar menghafal fakta (seperti halnya zaman kita kecil dulu, menghafal perkalian, tambah-tambahan, pengurangan, dan pembagian). Melainkan melatih pikiran untuk berpikir. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin