Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dapur Inovasi Seni

Ali Sodiqin • Rabu, 17 September 2025 | 12:45 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

SAH. Puzzle itu sudah terisi. Komplit. Sempurna. Mulai sekarang Banyuwangi bisa menyebut diri sebagai kota budaya yang sebenarnya. Sejajar dengan Jogjakarta, Surakarta/Solo, dan Bali. Seiring dimulainya kuliah ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta kelas Banyuwangi.

Inagurasi mahasiswa baru ISI Surakarta kelas Banyuwangi sangat spesial. Bukan hanya Rektor ISI Surakarta Prof Nyoman Sukema yang hadir.  Melainkan juga Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Juga jajaran Forkopimda Banyuwangi. Selain juga sejumlah pimpinan perguruan tinggi dan kepala sekolah SLTA di Bumi Blambangan.

Prosesi inagurasinya digelar sederhana. Tapi meriah. Pada 10 September 2025. Di kampus ISI Surakarta kelas Banyuwangi, eks kantor BPN (Badan Pertanahan Nasional) Banyuwangi. Di jalan Dokter Sutomo. Ditandai dengan pemasangan plakat logo ISI Surakarta oleh Bupati Ipuk.  

Cita-cita Sesepuh

Sebelum berjodoh dengan ISI Surakarta, upaya mendirikan kampus seni sudah dilakukan beberapa kali. STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya pernah membuka perkuliahan di Kota Gandrung Banyuwangi. Kampusnya berlokasi Poliwangi (Politeknik Banyuwangi) saat ini. Tepatnya di sisi utara. Namun, kuliahnya hanya berlangsung beberapa tahun. Setelah itu mati. Dan, tidak ada kabar beritanya lagi.

Berikutnya, Dewan Kesenian Blambangan melakukan penjajagan dengan Poliwangi. Nyantol ke program studi Manajemen Bisnis Pariwisata (MBP). Pembicaraan intens dengan Pak Aditya Wira Latif Sanjaya S.ST, M.ST dari Prodi MBP Poliwangi kami lakukan. Saya dan Kang Hasan Basri (Ketua Dewan Kesenian Blambangan) terus berdiskusi. Mematangkan rencana itu. Sambil menyiapkan kelengkapan sejumlah persyaratannya.

Namun, rencana itu berhenti di tengah jalan. Kata Pak Wira, panggilan karib Aditya Wira Latif Sanjaya, proses terlalu panjang. Pengajuannya ke pusat terlalu pelik. Tidak semudah yang diangankan. Meski secara teori sebenarnya hal itu bisa diwujudkan.

Kami tidak menyerah. Saya bersama Kang Hasan silaturahim ke kantor PC NU Banyuwangi. Bertemu dan berdiskusi langsung dengan ketua PC NU ketika itu: KH Ali Makki Zaini. Diskusinya gayeng sekali. Gayung bersambut. NU yang sedang mempersiapkan pendirian kampus perguruan tinggi antusias. Menyambut baik ide yang kami tawarkan. Bahkan, ketika kami usulkan nama ITS (Institut Teknologi dan Seni) Banyuwangi, Gus Makki langsung menyetujuinya.

Tapi, rencana itu tinggal rencana. Tanggal. Lalu tidak ada kabarnya. Sama sekali. Menguap begitu saja.

Namun, kami tak patah arang. Hingga akhirnya kami mencoba ‘’nyalakan’’ asa ke ISI Surakarta. Kebetulan pemerintah kabupaten Banyuwangi punya MoU dengan ISI Surakarta pada 2019. Kebetulan pula saya ikut mendiskusikan isi MoU itu. Saya ingat betul salah satu anggota rombongan dari ISI Surakarta ketika itu, iaitu Eko Pece.

Selain dosen, sosok bernama asli Eko Supriyanto juga seorang penari dan  koreografer. Ia sangat terkenal, ketika itu. Namanya tidak hanya mengguncang Indonesia.Tapi juga internasional. Dunia mengenalnya setelah ia ditunjuk oleh penyanyi Madonna menjadi penata tari untuk 268 kali konsernya di berbagai dunia.

Enam tahun berlalu. Ghirah kerja sama dengan ISI Surakarta menyala kembali. Alhamdulillah, secara kebetulan pula, pihak ISI Surakarta berkeinginan membuka kelas perkuliahan di Bumi Blambangan. Seperti kata peribahasa: jodoh memang ketemu di saat yang tepat. Dan, jodoh tidak akan pernah salah alamat. Kami segera melakukan koordinasi segitiga: DKB-Dinas Pendidikan/Bappeda-ISI Surakarta. Alhamdulillah. Lancar. Tak butuh waktu lama.

Kami sepakat!

Dan, sejarah mencatat, 1 September 2025 Banyuwangi resmi punya kampus seni. Sebanyak 18 anak muda Banyuwangi tercatat sebagai mahasiswa pertama ISI Surakarta kelas Banyuwangi. 

Keberhasilan mendirikan kampus seni itu sepenuhnya kami dedikasikan kepada para sesepuh seniman Banyuwangi. Mereka sudah berpulang. Diantaranya  Sayun Sisiyanto (pencipta tari Punjari dan salah satu pendiri Lalare Orkestra), Sahuni (seniman cerdas, mampu mereinkarnasikan hadrah kuntulan yang nyaris tersingkir dalam panggung kesenian Banyuwangi), H Sutedjo Hadi (gurunya para guru angklung), H Andang CY (pencipta lagu-lagu Banyuwangi klasik), serta Mozes Misdi dan S Yadi K (pelukis ikonik Banyuwangi).

Saat hidupnya, mereka sering mengajak diskusi saya bagaimana kiranya Banyuwangi punya perguruan tinggi seni. Banyuwangi gudangnya seni dan seniman, tapi itu belum lengkap. Banyuwangi harus punya kampus seni. Agar kesenian nenek moyang bisa dikembangkan secara akademik. Itu cita-cita para sesepuh tersebut. Alhamdulillah, cita-cita mereka akhirnya terwujud tahun ini!

Membiakkan DAN Seni

Dari dulu kota The Sunrise of Java dikenal gudangnya seniman. Pelaku seninya menciptakan banyak karya. Manggung di mana-mana. Bukanya di level regional dan nasional. Tapi sudah merambah ke banyak negara. Meski begitu, sebutan sebagai kota seni tak kunjung didapatkan. Tersebab masih ada satu lubang puzzle belum terisi. Yakni kegiatan akademik seni.

Banyuwangi baru memiliki praktisi. Jumlahnya lumayan banyak. Mereka sangat produktif. Terus berkreasi. Melahirkan karya. Namun, Sebagian besar karya-karya itu digarap berdasar insting. Seperti dilakukan oleh para seniornya. Dan, belum menggunakan teori-teori akademik. Baik tari maupun musik.

Mutakhir ini mulai muncul beberapa seniman muda. Jebolan kampus seni di luar kota. Seperti STKW, ISI Surakarta, ISI Jogjakarta, ISI Denpasar, dll. Mereka melakukan proses kreatif menggunakan ilmu kampusnya. Hasilnya bagus. Dan, beda dengan karya-karya para seniornya. Manajemen pertunjukannya terasa banget rasa kampusnya.

Tak lama lagi, tiga tahun ke depan setidaknya, Banyuwangi bakal punya belasan seniman muda hebat. Yakni, 18 mahasiswa tari dan musik yang sedang belajar di ISI Surakarta kelas Banyuwangi. Mereka sudah menunjukkan bakat alamnya saat inagurasi pada 10 September lalu. Bermain musik gamelan dan menari di hadapan para undangan.

Waba’du. Menarik alasan ISI Surakarta memilih Banyuwangi untuk membuka kelas jauh. ‘’Karena Banyuwangi memiliki potensi seni dan budaya yang luar biasa. Banyuwangi sudah lama dikenal sebagai daerah dengan tradisi budaya yang hidup dan dinamis. Namun, potensi itu perlu ditopang dengan pendidikan tinggi seni formal, agar semakin berkembang,’’ kata Rektor ISI Surakarta Prof Nyoman Sukerna.

Senada dengan Prof Nyoman, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai kehadiran ISI Surakarta di Bumi Blambangan sangat strategis. ‘’Karena tanpa inovasi, seni bisa stuck. Sebaliknya, dengan inovasi, seni Banyuwangi akan terus hidup dan berkembang,'' tandasnya. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#ISI Banyuwangi #man nahnu #isi surakarta #samsudin adlawi