Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

SOS PPA

Samsudin Adlawi • Rabu, 3 September 2025 | 11:30 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

SOS. Save our souls. Selamatkan jiwa (anak-anak) kami. Kode morse untuk minta pertolongan mendesak segera diaktifkan. Didengungkan. Disebarluaskan. Sebagai alarm darurat. Bukan hanya di sekolah. Tapi juga di rumah tanggah. Hingga ke lingkungan tempat tinggal.

Koran ini (Jawa Pos Radar Banyuwangi, 30/8/25) menurunkan laporan khusus yang mengejutkan. Tentang fenomena merokok di kalangan pelajar Banyuwangi. dengan judul besar: 792 Siswa SD Jadi Perokok Aktif.

Judul itu benar adanya. Bukan karangan. Atau, hasil melamun. Datanya valid. Disampaikan oleh orang yang kredibel: Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat.

Data yang diungkap merupakan hasil pemeriksaan kesehatan gratis. Salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Ketika awal diumumkan, sejumlah kalangan mencibir. Mereka menganggap program tersebut mubazir.

Tidak terlalu bermanfaat. Tapi, hasilnya justru sebaliknya. Lewat program pemeriksaan kesehatan gratis pemkab Banyuwangi jadi tahu. Ada alarm kesehatan tersembunyi dalam tubuh sebagian pelajar di Kota Gandrung.

Pemeriksaannya sendiri sudah menyasar puluhan ribu pelajar. Angka pastinya; 44.917 pelajar. Rinciannya, siswa SD 35.372. Hasilnya, sebanyak 792 pelajar menjadi perokok aktif! Secara prosentase memang kecil. Hanya 2,2 persen. Namun, kalau dirinci tampak mengerikan. Dari 100 siswa terdapat 2 sampai 3 anak yang merokok.

Gila bukan. Bayangkan, usia anak SD itu berapa. Pasti belum sampai 13 tahun. Anak sekecil itu sudah menghisap rokok. Jadi perokok aktif lagi. Benar-benar mengkhawatirkan, bukan.

Siswa SMP yang diperiksa 8.292 anak. Sebanyak 425 (5,1%) diantaranya menjadi perokok aktif. Artinya, dari 20 pelajar di Bumi Blambangan terdapat satu anak yang merokok. Sedangkan untuk jenjang SMA lebih parah.

Terdeteksi 179 (14,3%) dari 1.253 pelajar yang menjalani pemeriksaan kesehatan menjadi perokok aktif. Berarti dari 10 pelajar terdapat 1 hingga 2 siswa yang merokok.

Hasil pemeriksaanya cukup akurat. Presisi. Menggunakan smokerlyzer.  Alat pendeteksi kadar karbon monoksida (CO) dalam napas. Maka, ketika para pelajar berusia 7 sampai 18 tahun (SD s/d SMA) diperiksa menggunakan smokerlyzer, akan terdetek hasilnya. Mereka perokok aktif atau bukan.

Menarik mendengarkan alasan pelajar perokok aktif. Alasannya macam-macam. Karena penasaran. Ingin tahu. Lalu nyicipi. Kok enak, lanjut. Ketagihan.

Selain itu, ada yang ikut-ikutan teman. Ada pula yang menyampaikan alasan klasik: sebagai pelarian saat stres. Waladalah. Stres karena apa sih mereka. Hanya guru dan orang tuanya yang bisa menjawab.

Alasan mengejutkan disampaikan 30 persen pelajar yang ikut pemeriksaan kesehatan. Mereka menjadi perokok aktif karena meniru orang yang dihormati.

Siapa saja mereka gerangan. Guru, Ustad. Dan, bahkan, orang tua. Untuk dua figur yang awal patut introspeksi. Setidaknya mereka harus sadar. Bahwa perilakunya selama ini jadi perhatian siswanya.

Contoh perilaku yang baik bukan hanya terkait gestur tubuh. Melainkan juga pada attitude. Guru dan atau ustad boleh saja menjadi perokok berat—yang keasyikan hidupnya bergantung pada hisapan rokok.

Namun, di depan para muridnya mereka harus menjaga sikap. Sebenarnya bukan hanya di depan murid, melainkan lebih luas lagi: di lingkungan sekolah. Mereka harus membiasakan dan membisakan diri tidak membawa rokok ke sekolah!

Sekadar cerita (jelek). Ketika SMA, saya punya guru bahasa Inggris. Bukan hanya galak saat mengajar. Tapi juga galak pada merokok. Galak itu saat merokok tak bisa putus. Harus terus merokok. Habis satu batang, langsung disambung lagi dengan sebatang berikutnya. Begitu seterusnya.

Dan, merokoknya tidak pandang tempat. Di dalam kelas pun OK. Sambil mengajar, menunggui tugas yang diberikan kepada siswanya, ia asyik menyedot rokoknya. Berat lagi rokoknya: Dji Sam Soe. Saya curiga.

Jangan-jangan ia sengaja merokok di depan siswa karena ingin pamer rokoknya yang mahal. Apalagi zaman segitu (sekitar 1984 -1987). Mereka yang merokok Dji Sam Soe dianggap keren.

Waktu itu, yang anti pada rokok sangat sebal. Rasanya ingin menghajarnya. Tapi, guru ngaji saya wanti-wanti, murid harus menghormati guru. seperti apa pun kondisinya. ‘’Jangan lihat sikapya, perilakunya, tapi seraplah ilmu yang disampaikan,’’ fatwa ustad ngaji saya.

Kampanye ‘’merokok’’ guru saya itu sukses besar. Sebagian besar teman-teman sekelas—bahkan di di kelas-kelas lain yang diajar guru perokok berat itu—merokok. Tepatnya, jadi perokok aktif. Bukan hanya siswa, tapi banyak juga siswi yang merokok!

Waba’du. Alhamdulillah, saya tidak terprovokasi. Saya anggap angin lalu pemandangan buruk itu. Guru merokok di depan siswa. Teman-teman sesekolah yang pamer kelihaiannya merokok. Saya sudah imun. Kebal. Perjalanan hidup saya penuh dengan asap rokok!

Saya besar dalam keluarga perokok. Tumbuh dalam lingkungan ahli hisap. Catat: ‘’hisap’’ pakai ‘’p’’, bukan ‘’b’’ lo ya. Sejak kecil saya melihat orang merokok dalam keluarga inti. Bapak dan kakak Saya perokok aktif. Saban hari mereka merokok di depan hidung saya.

Lingkungan tempat tinggal saya pun tak kalah mengerikan. Hampir semua lelaki di desa Saya merokok. Bukan hanya bapak-bapak dan mas-masnya. Tapi, anak-anak seusia saya kecil dulu juga sudah merokok. Perokok aktif, tentu saja. Mereka sudah lihai memainkan asap rokoknya.

Asap yang disedot dalam-dalam dari batang rokok, mereka keluarkan lewat hidung. Sebagian lagi lewat mulut. Asap itu terbang ke udara dalam bentuk macam-macam. Salah satunya berbentuk sepiral.

Tapi saya tak terprovokasi. Tak ingin menirunya. Nyicipi sekalipun tak ada kehendak. Padahal, ketika kita, saya tidak tahu bahaya rokok. Sama sekali. Perokok aktif maupun perokok pasif. Sebab, saat itu, belum ada slogan ‘’Merokok Membunuh’’ lengkap dengan ilustrasi leher perokok berlobang di bungkus rokok.

Tapi hasil ke-istiqamahan itu saya rasakan sekarang. Tepatnya, ketika bertemu dengan teman-teman, mulai SD sampai SMA. Saya serasa berada sebagai anak muda di tengah-tengah orang tua. He he… (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#selamatkan anak #man nahnu #samsudin adlawi #rokok