BANYUWANGI kini punya teman berpacu. Berlari kencang mencapai kemajuan. Teman baru itu tidak datang dari tempat nun jauh. Melainkan tetangga dekat. Sangat dekat. Yakni, Kabupaten Situbondo. Situbondo baru, tepatnya.
Situbondo kini sangat bergairah. Duet pemimpinnya masih muda. Sama-sama berusia 41 tahun. Hanya beda bulan kelahiran. Itu pun hanya 3 hari. Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo lahir akhir Maret 1984. Wakilnya Ulfiyah lahir awal April 1984.
Pengamalam mereka sebagai aktivis kampus tecermin dalam kepemimpinannya. Ditambah pengalaman setelah lulus kuliah.
Bupati Rio menjadi CEO Politika Research & Consulting. Sedangkan Ulfiyah pengurus IKSASS (Ikatan Sastri Salafiyah Syafi’iyah) Sukorejo, serta PC Fatayat dan DPC PPP Situbondo.
Rio dan Ulfiyah aktif menyapa rakyat. Belanja masukan dan ide dari masyarakat.
Visi mereka membawa Situbondo naik kelas. Lebih baik. Lebih maju dan berkembang. Di segala aspek.
‘’Saya menginginkan Situbondo mensupport terhadap siapapun yang mempunuai pola pikir baik terhadap kemajuan Situbondo,’’ ujar Bupati Rio dalam sertijab bupati-wakil bupati Situbondo 2025-2023, 6 Maret 2025 lalu.
Situbondo lebih maju bukan angan-angan kosong. Bisa diwujudkan. Dalam lima tahun kepemimpinan Rio, setidaknya. Bupati Rio yang akrab dengan riset, sudah membaca potensi Kota Santri. Di antaranya, Situbondo punya jalan pantura menuju Bali.
Bila dioptimalkan, bentang jalan pantura itu bisa menjadi peta jalan menuju Situbondo lebih maju. Tinggal mencari cara bagaimana ‘’memaksa’’ orang yang bepergian menuju Bali untuk mampir ke Situbondo. ‘’Membuang’’ uangnya barang sehari. Seperti apa bentuknya, Rio pasti sudah punya banyak ide brilian.
Rio juga jeli membaca potensi ekonomi daerahnya. Tentu, sekali lagi, lewat riset. Potensi ekonomi itu ada di Besuki. Potensi itu selama ini ‘’tidur’’. Tidak ada yang membangunkannya. Walhasil, berjalan apa adanya.
Tidak sadar terhadap ‘’ada apa’’nya. maka, Rio berani memastikan Besuki menjadi prioritas pembangunan ekonominya. Akan ia kembangkan secara maksimal. Ia punya keyakinan, ketika ekonomi Besuki naik akan berpengaruh bagi Situbondo secara keseluruhan.
Dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta nasional, Rio bertekad menjadikan Situbondo sebagai Kabupaten UMKM. Langkah-langkah konkrit dan strategis pun dilakukannya.
Salah satunya mengoneksikan pelaku UMKM dengan perbankan. Caranya, Pemkab Situbondo menyiapkan insentif khusus bagi pelaku UMKM. Berupa pembayaran bunga pinjaman UMKM. Sehingga, pelaku UMKM tidak dipusingkan lagi dengan bunga pinjaman.
Selain itu, Rio bermaksud mengenalkan Situbondo lewat potensi hortikulturanya. ‘’Mangga Situbondo sangat enak rasanya. Tapi selama ini pemasarannya masih begitu-begitu saja. Maka perlu sentuhan pemasaran yang lebih profesional,’’ katanya dalam wawancara.
Termasuk juga kopinya. Situbondo punya kopi yang sudah dikenal luas. Bahkan sampai ke luar negeri. Sudah ekspor. Tapi, belum bisa ‘mengguncang’ dunia perkopian. Sepertinya butuh sentuhan telling story. Cerita dalam kemasaran pemasaran yang menarik.
Kopi itu berada di perkebunan kopi Kayumas. Tepatnya, Agrowisata Kayumas. Masuk kawasan PTPN XII. Tapi secara administrasi masuk Kecamatan Arjasa, Situbondo. Sekitar 70 km dari pusat kota Situbondo.
Terletak di ketinggian 1.300-1.600 mdpl, Kayumas terasa sejuk. Alamnya natural. Paronama gunung dan lembah eksotis memanjakan siapa saja yang mengunjunginya.
Dengan ketinggian 1.300 mdpl, Kayumas menghasilkan kopi arabica. Bahkan, kopi luwak dan arabica jenis maragogype-nya menjadi buruan pasar Eropa.
Konon, kopi luwak arabica Kayumas punya kisah yang menarik. Kopi luwak Kayumas kali pertama dikonsumsi oleh para pekerja rodi pada masa pemerintahan colonial Belanda. Lalu menjadi menjadi komoditi khusus.
Diperuntukkan sebagai minuman para bangsawan di Eropa. Rangkaian cerita biasa itu bila dikemas menjadi menjadi lebih menarik bisa menjadi bahan promosi yang luar biasa.
Kemajuan pariwisata (dan juga ekonomi), salah satunya, bergantung dari seberapa menarik kemasan ceritanya.
Tentu masih banyak program yang disiapkan Rio-Ulfi. Bahkan, sudah dikerjakan. Malah ada yang berbuah penghargaan.
Terbaru, Situbondo bersama Banyuwangi menerima penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak (KPPPA).
Penghargaan yang pernah diterima Situbondo pada 2023 itu menjadi kado terindah peringatan ke-207 hari jadi kabupaten Situbondo (Harjakasi). Sebab, tak mudah mempertahankan penghargaan prestisius itu.
Apalagi, setelah pelaksanaan pilkada 2024. Pengalaman bicara, selalu ada kutukan mengiringi momentum politik.
Masa transisi kepemimpinan kepala daerah dan pergantian SDM, menyebabkan penerima penghargaan KLA cenderung menurun.
Dibandingkan 2023, penerima penghargaan KLA 2025 turun lima. Pada 2023 penerimanya mencapai 360 daerah.
Tahun ini turun menjadi 355 saja. Rio-Ulfi berhasil menyelamatkan Situbondo dari kutukan transisi kepemimpinan.
Wa ba’du. Kita berharap Situbondo terus berkembang. Tumbuh dan naik kelas. Situbondo tidak lagi sebagai tetangga biasa Banyuwangi, seperti lima belas tahun mutakhir. Tapi Situbondo dan Banyuwangi bisa lebih mesra. Berdampingan. Bergandengan tangan. Maju bersama.
Tentu, Banyuwangi membuka tangan selebar-lebarnya bagi kota Africa Van Java Situbondo untuk berbagi cerita sukses.
Sebagaimana kota The Sunrise of Java Banyuwan gi berbagi hal yang sama kepada hampir seluruh kabupaten/kota, provinsi, hingga kementerian RI. Kita tunggu…. (Pekolom Banyuwangi).
Editor : Ali Sodiqin