Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tumbuh Bersama Alam

Samsudin Adlawi • Rabu, 30 Juli 2025 | 14:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

ITULAH tema Hari Ulang Tahun (HUT) Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) tahun 2025. Tak ada selebrasi. Tak ada perayaan berlebihan. Begitulah suasana ultah ke-26, Sabtu (26/7/25) pekan lalu.

Ada tiga alasan yang melatarbelakanginya. Semuanya terkait empati.

Pertama, empati terhadap program pemerintah. Inpres No. 1 Tahun 2025 dasarnya. Presiden Prabowo Subianto telah mengeluarkan instruksi: perihal efisiensi anggaran. Kami ambil semangat inpres itu. Dengan mengerem nafsu foya-foya.

Kedua, Banyuwangi masih dalam suasana duka. Sejak KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam hingga hari ulang tahun kami tiba, Sabtu lalu. Duka itu begitu mendalam. Setidaknya itu yang kami rasakan. Tak berani kami merusak suasana batin keluarga korban. Hingga masa operasi penyelamatan oleh Basarnas habis, 16-an penumpang KMP Tunu belum berhasil ditemukan.

Ketiga, duka yang bersumbu di Selat Bali ternyata membawa dampak ikutan. Pihak terkait melakukan uji petik mendadak. Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 15 kapal dinyatakan belum layak beroperasi. Dua unit harus melakukan docking. Sementara 13 lainnya harus melakukan perbaikan. Larangan serempak itu membuat lalu lintas pelayaran Ketapang—Gilimanuk nyaris mandeg total.

Dampaknya luar biasa. Terjadi kemacetan puaanjaaang kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali via Pelabuhan PT ASDP dan LCM. Panjang kemacetannya hingga 30 Km! Mulai dari Kota Banyuwangi hingga hutan Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo.

Tumbuh Bersama Alam memang sama sekali tidak ada bau-bau jurnalistiknya—core business JP-RaBa. Filosofi di balik tema itu yang kami ambil. Sebagai penyemangat. Untuk tidak hanya memikirkan bisnis di bidang media. Tapi lebih peduli kepada alam.

Dari alam manusia hidup. Alam sumber kehidupan. Mulai dari air sampai tumbuh-tumbuhan. Salah satu unsur penyusun tubuh manusia adalah air.   Sebanyak 70 persen jumlahnya. Keberlangsungan hidup tergantung dari air. Kebutuhan air harus dicukupi. Setiap hari. Kalau tidak, tubuh bisa mengalami gangguan. 

Tanaman dan tumbuhan juga harus dijaga. Eksploitasi berlebihan terhadap keduanya menimbulkan mudarat. Baik bencana besar maupun kecil mengancam. Mulai banjir hingga tanah longsor. Sudah tak terhitung jumlah korban akibat bencana alam.

Setelah merenung, kami memberanikan diri. mendeklarasikan Tumbuh Bersama Alam. Seraya berdoa: ‘’Semoga alam mau bersahabat dengan JP-RaBa’’. Tidak mudah tumbuh membersamai alam. Di saat lain, masih begitu banyak orang atau para pihak lalai. Berlaku tidak adil terhadap alam. Tidak menghargai alam. Bahkan, menindas alam.

Mereka abai. Tidak sadar bahwa harus memikirkan penggantinya sebelum mengambil sesuatu dari alam. Tidak semudah membalik telapak tangan mengganti pohon besar yang ditebang. Apalagi menebangnya secara sembarangan.

Maka, kami putuskan untuk berbuat sesuatu untuk alam. Meski tak besar dan massal. Kami hanya menanam seratus bibit bambu dan ratusan bibit alpokat. Meski 100 bibit, tapi jumlah itu sangat berarti bagi Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari.

Desa Gintingan cocok untuk kampanye lingkungan. Tepatnya, peduli keberlangsungan lingkungan. Sebab, Gintangan dikenal sebagai sentra kerajinan bambu. Hampir semua masyarakat di sana menjadi perajin bambu. Mulai dari peralatan dapur seperti nyiru, kukusan, lasah, dlsb., sampai kerajinan berupa suvenir.

Suvenir dari Gintangan sudah terkenal sampai di luar daerah. Terutama Bali. Hasil kerajinan diborong pembeli dari Bali. Dari Bali diekspor ke luar negeri. Gintangan pun menjadi destinasi wisata khusus. Yakni destinasi khusus segala produk bambu. Bahkan, punya festival sendiri: Festival Bambu Gintangan. Orang Inggris menyebutnya Gintangan Bamboo Festival.

Tapi, seiring popularitas Gintangan kini mulai muncul stigma negatif. Kemakmuran Gintangan meninggalkan utang besar terhadap alam. ‘’Yoiku ngentekaen jajang sampek Setail ambi Jambewangi (Yaitu menghabiskan bambu tidak hanya di desanya, tapi sampai Desa Setail dan Jambewangi),’’ kata Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri di Balai Desa Gintangan, Sabtu lalu.

Wa ba’du. Bambu tidak boleh habis. Warga Gintangan tak boleh punya utang sama alam. Mereka harus mulai menanam kembali bambu di desanya. Menjadikan bambu sebagai ikon desanya. Bukan bambu yang sudah jadi kerajinan. Melainkan bambu sejak masih tertanam di tanah. Bahkan, saat masih berupa rebung.

Proses pertumbuhan bambu sampai menjadi produk kerajinan menjadi tema menarik. Bila dirangkai menjadi cerita, itu akan menarik wisatawan. Wisatawan yang datang ke Gintangan bisa mendapat edukasi: cerita lengkap tentang perjalanan bambu dari hulu ke hilir, dari rebung hingga menjelma berbagai produk alat rumah tangga dan suvenir.

Tidak heran bila Sabtu lalu (26/7/25), warga Desa Gintangan menyambut suka cita kehadiran seluruh karyawan JP-RaBa. Bersama jajaran muspika serta ormas setempat, kami ramai-ramai turun ke bantaran salah satu sungai di sana. Sejarah berjamaah menanam ratusan bibit bambu. Menancapkan masa depan lingkungan. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#alam #radar banyuwangi #tumbuh #man nahnu #samsudin adlawi #HUT