Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ngalap Berkah Tetangga

Samsudin Adlawi • Rabu, 16 Juli 2025 | 13:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

TAK sabar menunggu 2028. Tahun pembawa perubahan. Saat itu, peta pariwisata itu akan berubah. Terutama di kawasan Bali dan tetangganya.

Pada tahun itu akan beroperasi bandara supermegah: Bandara Internasional Bali Utara (BIBU). Mega proyek yang menyedot anggaran Rp 50 triliun!

Tapi santai saja. Negara tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang. Tak perlu merogoh kocek APBN dan maupun APBD Bali.

Semua biaya pembangunannya disokong oleh tiga investor luar negeri. China menyiapkan investasi Rp 3 miliar US$ (sekitar Rp 50 triliun). Ditambah investor dari Qatar dan Jepang.

Proyek pembangunan BIBU dimulai tahun ini juga. Klaim itu disampaikan Direktur Utama PT Bandara Internasional Balu Utara (BIBU) Panji Sakti, Erwanto Sad Adiarmoko. Satu landasan pacunya (runway) ditargetkan sudah beroperasi pada 2028.

‘’Targetnya 2028 satu runway sudah bisa kami operasikan,’’ katanya di Kubutambahan, Buleleng, seperti dikutip sejumlah media (8/7/25).

BIBU dirancang punya tiga landasan pacu dan tiga terminal pesawat. Juga dilengkapi aerocity dan aerotropolis. Kota masa depan yang tumbuh dari bandara. Total luas kawasan yang dikembangkan mencapai 900 hektare.

Lengkap dengan hotel, pelabuhan logistik, pusat bisnis, hingga permukiman modern. Maka akan lahir ikon ekonomi baru dari laut Bali Utara.

Desain BIBU futuristik. Bandaranya terapung. Karena menjorok ke tengah laut. Sejauh 1,5 kilometer. BIBU akan menjadi New Singapore atau New Hongkong-nya Indonesia. Kini tinggal menunggu groundbreaking.

Peletakan batu pertama dari Pemerintah Pusat. Sangat mungkin dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Kendala administratif tidak ada. Restu Presiden Prabowo Subianto sudah keluar. Berwujud Perpres Nomor 12 Tahun 2025. BIBU juga masuk proyek strategis nasional (PSN) dalam RPJMN 2025-2029.

Para raja se-Bali menyambut baik. Mantan Gubernur Bali I Made Mangki Pastika juga mendukung. Para tokoh lokal tak ketinggalan.

Kehadiran BIBU merupakan solusi cerdas. Yang menjadi PR sejak lama. Untuk mengurai kepadatan pariwisata Pulau Dewata.

Semua tahu, hampir destinasi wisata Bali terpusat di kawasan Bali Selatan. Jadilah Bali Selatan jenuh. Sangat sibuk. Padat sekali populasi pariwisatanya.

Terutama di kawasan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Seperti destinasi Kuta, Nusa Dua, Seminyak, Legian, Tuban dan Kedonganan, Tanah Lot, dll.

Dengan BIBU, Bali Utara bisa mengimbangi Bali Selatan. Terutama dalam hal infrastruktur dan kunjungan wisatawan.

Akses dari luar negeri langsung terkoneksi. Pemerataan ekonomi Pula Dewata secepatnya akan merata. Terutama dari tarikan sektor pariwisata.

Secara kawasan, bukan hanya Bali yang meneguk untung dari BIBU. Banyuwangi sebagai tetangga dekat Bali Utara pasti akan kecipratan berkah. Seperti pernah ditegaskan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.

Yakni soal pentingnya konektivitas antarwilayah 3B: Banyuwangi—Bali Barat—Bali Utara (bisa juga dibolak-balik penyebutannya, terserah pembaca).

‘’Jika bandara (BIBU) ini terealisasi, maka akses ke Bali Barat dan Banyuwangi bisa lebih cepat. Arus wisata bisa menyebar lebih merata,’’ katanya dalam wawancara dengan koran ini, beberapa waktu lalu.

Wa ba’du. Memang, Bali Selatan sudah over kapasitas wisatawan. Perlu segera didistribusikan ke wilayah lainnya.

Bukan hanya ke Bali Utara dan Bali Barat. Tapi juga ke Banyuwangi. Tapi pintu masuknya bukan di Bali Selatan. Melainkan BIBU di Bali Utara.

Dari BIBU wisatawan bisa menikmati Bali Barat sekaligus Banyuwangi yang jaraknya hanya selemparan batu (dengan catatan: yang melempar orang sakti, hahaha). Selain juga, tentunya, sebagian yang lain berwisata ke Bali Selatan.

Pertanyaannya: sudah siapkan pemerintah Banyuwangi menyambut luberan wisatawan yang masuk Bali lewat BIBU.

Sudah menyiapkan strategi seperti apa untuk menangkap peluang tersebut. Sudah terpikirkan cara macam apa dalam ngalap berkah pariwisata dari tetangga daerah itu. Kalau belum sempat memikirkannya, harus segera kontemplasi.

Masih ada banyak waktu. Dua sampai tiga tahunan sangat cukup untuk melakukan persiapan. Membenahi infrastruktur pariwisata.

Menyiapkan sumber daya manusia yang andal. Memperkaya atraksi budaya sekaligus meningkatkan kualitasnya. Sarana penginapan, restoran, dan angkutan juga layak mendapat perhatian.

Satu lagi, yang tidak kalah penting, adalah keramahan warga Bumi Blambangan. Masyarakat harus siap lahir dan batin menyambut banjirnya wisatawan mancanegara. Wisatawan luberan dari Bali via BIBU pastinya dominan wisatawan asing.

Yang satu ini harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai masyarakat Banyuwangi kehilangan jati diri. Terkontaminasi perilaku dan budaya asing. Yang sudah pasti berbeda dengan adata ketimuran.

Terutama adat dan budaya asli Banyuwangi. Semoga masyarakat Kota Gandrung tidak tercerabut dari akar budanya.

Biarkan para wisatawan itu bertato. Berpakaian minimalis. Menanggak miras semau-maunya. Budaya mereka memang seperti itu.

Jangan sampai kita, terutama anak-anak muda kabupaten  The Sunrise of Java mengalami gegar budaya. Tergoda.

Sebaliknya, mereka harus berani menunjukkan budaya adi luhung warisan nenek moyangnya. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#bandara internasional bali utara #man nahnu #samsudin adlawi