HUMBLE. Begitu kesan Hasan Basri. Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi, tentang Ir Indrana Tjahjono.
‘’Sangat menyenangkan bergaul dengan orang seperti beliau,’’ Hasan Basri mengenang Pak Indra—panggilan karib Tjahjono—yang pergi untuk selama-lamanya.
Ya, 4 Juli lalu, Ie Bwan Swie (nama Tionghoa Pak Indra) wafat. Pria 71 tahun itu dimakankan kemarin (8/7) di makam Kluncing Banyuwangi. Pak Indra tidak seperti orang banyakan. Karenanya ia ‘’pergi’’ meninggalkan banyak kesan kepada banyak orang. Temannya begitu banyak. Tidak hanya dari kalangannya sendiri. Tapi dari multi ras dan agama.
Itu karena satu hal. Pak Indra, kata Hasan Basri lagi, bisa bergaul dengan siapapun. Mulai dari lintas iman sampai lintas budaya. Dalam banyak kesempatan, saya dulu sering bertemu dalam satu forum dengan Pak Indra. Terutama saat saya masih jadi Ketua DKB dan Pak Indra aktif di kepengurusan Tempat Ibadah Tri Dharma (TTID) Hoo Tong Bio Banyuwangi.
Bahkan, Pak Indra tak pernah absen mengundang pengurus DKB, ketika itu. Manakala kelenteng Hoo Tong Bio menggelar acara. Seperti pergelaran wayang Potehi. Bahkan, ia juga menghadirkan budaya dari luar komunitasnya. Seperti wayang kulit dan tari tradisional Banyuwangi.
Dalam pergaulan, Pak Indra tak pernah minder. Meski punya mata dan warna kulit yang berbeda. Ia tak canggung berkomunikasi menggunakan bahasa Oseng. Dan, fasih. Juga bahasa Jawa. Siapapun lawan bicaranya merasa nyaman. Akrab seketika.
Penampilan Pak Indra cukup nyentrik. Terutama tambut panjang ikalnya. Ke mana-mana mengendarai mobil butut. Pikap Chevrolet yang warnanya sudah sulit dikenali. Sebenarnya merah tapi tidak kelihatan merahnya. Termasuk saat pergi ke Untag (Universitas 17 Agustus ’45) Banyuwangi.
Saya beberapa kali memergogi mobil bermesin dieselnya parkir di pinggir jalan. Di depan kampus Untag, Jalan Adi Sucipto, Taman Baru, Banyuwangi. Pak Indra yang bergelar insinyur memang mengajar di Fakultas Teknik Untag. Tepatnya di Prodi Teknik Sipil.
Jiwa melayani Pak Indra juga paten. Selain dosen di Untag, ia juga pernah menjadi guru agama Budha untuk siswa SMPN 1 Banyuwangi. Tapi, bukan guru biasa. Melainkan pendidik istimewa. Betapa tidak. ‘’Muridnya Cuma satu anak. Tapi beliau tetap sabar mengajar dan melayani,’’ tutur Hasan Basri salut.
Melihat profil keluarga besarnya, keunikan Pak Indra makin kentara. Hampir semua anggoata keluarganya berprofesi dokter. Saudara laki-laki dan perempuannya semua dokter. Spesial pula. Pun keponakan dan saudara iparnya.
Dalam setiap pergaulan, baik resmi seperti seminar maupun santai, Pak Indra tidak pasif. Sebaliknya sangat aktif. Berpendapat ketika memang harus berpendapat. Disokong wawasannya yang luas. Penjelasannya begitu jelentreh dan mencerahkan.
Meski keilmuannya berlatar belakang teknik, wawasannya tentang politik sampai budaya begitu matang. Saya pun menjadi mafhum, akhirnya. Bahwa ia menjadi agen koran Jawa Pos Radar Banyuwangi, tidak semata-mata mencari untung. Melainkan berkesempatan belanja informasi dari koran yang ia baca setiap pagi. Bahkan lebih pagi dari pelanggan korannya.
Pengetahuannya tidak hanya mengucur dari koran buku yang dibacanya. Tapi ia gali langsung di lapangan. Sejumlah lokasi situs telah didatanginya. Suatu ketika, ketika kami asyik berdiskusi tentang Laksamana Cheng Ho, ia begitu menggebu-gebu. Menceritakan perjalanan Cheng Ho di telatah Jawa. Detail sekali.
Bahkan, ia begitu yakin, Cheng Ho dan pasukannya pernah mendarat di wilayah Banyuwangi. Lokasi pendaratannya di sekitar Teluk PangPang, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar. ‘’Saya pernah ke sana. Banyak sekali pecahan gerabah di lokasi itu. Hampir semua dari bahan keramik. Mulai mangkuk, guci kecil untuk minum, cupu, uang logam,’’ paparnya saat itu.
Keyakinan itu membuatnya bernafsu. Sangat ingin segera melakukan penelitian untuk membuktikan kebenaran asumsinya. Bahwa Laksamana Cheng Ho dan pasukannya pernah mendarat di Bumi Blambangan. Entah itu sebelum menuju Semarang. Atau, bahkan, setelah dari Semarang.
Sayang sekali, obsesi itu tidak pernah kesampaian hingga ajal menjelang. Untuk melakukan penelitian tentang kepurbakalaan di sini terasa sulit. Sebab, kota The Sunrise of Java belum memikili tenaga ahli kepurbakalaan. Hingga sekarang. Harus mendatangkan dari Jawa Timur atau Jogjakarta ketika akan meneliti artefak di Kota Gandrung Banyuwangi.
Wa ba’du. Jembatan lintas budaya (dan, bahkan, agama) sudah pergi. Tapi, tali silaturahim budaya Tionghoa dan Oseng yang sudah terjalin mesra selama ini jangan sampai putus. Bila perlu malah ditingkatkan. Agar, Pak Indra bisa beristirahat tenang di tempat barunya. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin