SEMANGAT melayani bergelora di perayaan HUT Ke-79 Bhayangkara kemarin (1/7). Orientasi pelayanan itu tecermin dari tema yang diangkat: ”Polri untuk Masyarakat”.
Tema itu terdengar klise. Tapi bisa berarti sebaliknya. Wujud dari introspeksi. Muhasabah. Koreksi diri. Mengingatkan siapa sebenarnya polisi itu.
Maka, ”Polri untu Masyarakat” itu menjadi penegas. Penebalan terhadap peran Polri. Bahwa, tugas polisi bukan hanya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (law and order).
Juga tidak hanya memerangi kejahatan (fighting crimes). Melainkan punya peran vital untuk hal: melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.
Seluruh anggota Polri, di mana pun bertugas, harus menghayati tiga tugas tersebut. Tak terkecuali anggota Polresta Banyuwangi.
Setahun terakhir, keamanan dan ketertiban masyarakat Bumi Blambangan terpelihara dengan baik. Kondusif. Riak-riak kecil, seperti demo, memang ada. Tapi berlangsung aman. Terkendali. Tidak sampai menimbulkan kericuhan.
Itu berkat kebijakan Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rama Samtama Putra. Ia selalu menekankan kepada bawahannya. Agar mengedepankan pendekatan humanis dalam melaksanakan tugas.
Anggota Polresta Banyuwangi juga semakin gercep setiap mendapat laporan masyarakat. Mulai dari penanganan kasus narkoba hingga aksi-aksi kriminalitas. Terbaru, saat menangani kasus pembunuhan seorang anak kelas 5 SD di Dusun Kertosari, Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat (28/5).
Bukan hanya berhasil mengungkap peristiwa yang menggegerkan warga setempat, anggota Polsek Kabat berhasil menangkap pelaku pembunuhannya. Pelaku yang ternyata ayah tiri korban dibekuk hanya dalam waktu sekitar dua jam.
Dalam melayani masyarakat, kini polisi tidak boleh pasif. Mereka dituntut aktif berinteraksi dengan warga.
Untuk bersama-sama mewujukan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden. Khususnya Asta Cita nomor 2. Mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan.
Tugas baru itu menuntut polisi tidak sekedar menjadi polisi biasa. Melainkan menjadi aparat luar biasa. Karenanya, polisi harus bertransformasi. Selalu sigap.
Siap sedia mengembangkan sektor pangan. Tentu saja tidak bisa berjalan sendiri. Harus berkolaborasi dengan para pihak. Terutama insan pertanian.
Mulai petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), penyedia pupuk, hingga Bulog sebagai penampung hasil panen bidang pangan.
Sejak bertransfomasi menjadi polisi petani, anggota Polresta Kota Gandrung kini lebih sering ke sawah dan kebun. Bukan sekedar patroli mengamankan tanaman.
Tapi malah ikut nyemplung ke sawah. Berbaur dengan para petani. Menanam jagung dan padi. Juga tanaman produktif di lahan-lahan tidur. Terutama milih Perhutani.
Program menyokong akselerasi swasembada pangan nasional itu sudah lumayan lama dimulai. Bahkan, sudah terasa hasilnya.
Polresta kota the Sunrise of Java sudah dua kali melakukan panen raya jagung. Yang pertama di lahan Perhutani Sumber Dilem, Desa Papring, Kecamatan Kalipuro, pada 10 April 2025.
Lumayan. Selain mewujudkan kemandirian pangan, hasil panen raya itu bisa menstabilkan harga pangan di Banyuwangi.
Selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Panen raya tahap pertama itu lumayan besar hasilnya. Di lahan seluas 38 hektare. Bibitnya ditanam kelompok tani setempat pada Desember 2024.
”Hari ini kita panen. Estimasi hasil panennya 5–6 ton per hektare. Kita bantu komunikasi dengan Bulog untuk menyerap hasil panen ini,” kata Kapolresta Rama pada April lalu.
Panen jagung kuartal II dilakukan di lahan Perkebunan PT New View Glen Falloch, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, 5 Juni 2025. Kali ini luas tanaman jagung yang dipanen 10 hektare. Dari luas total 20 hektare.
Hasil panen mencapai 70 ton. Polresta langsung minta Bulog untuk menyerapnya. Tidak semua. Disisakan untuk pembibitan.
Kombespol Rama menegaskan, melalui Bhabinkamtibmas pihaknya terus melakukan pendampingan kepada kelompok tani. Pendampingannya berupa pengadaan pupuk dan bibit melalui dinas terkait hingga pusat.
Kelompok tani semangat. Target penanaman 650 hektare terlampui. Bahkan, tembus 667,30 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah di Banyuwangi.
Harapannya, hasil panen bisa melimpah. Optimal. Dengan begitu akan menjadi contoh bagi daerah lain. Lebih penting lagi, bisa meningkatkan ketahanan pangan di daerah. Dengan begitu, perekonomian daerah meningkat. Golnya, petani jagung menjadi sejahtera.
Transformasi polisi membuat senyum para petani mengembang. Ekspresi kegembiraan ditunjukkan Ketua Kelompok Tani Maju Jaya di Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, Sugeng. Ia pun mengucapkan terima kepada Polresta Banyuwangi.
Wabilkhusus, Bhabinkamtibmas yang telah membantu mengolah lahan. Lalu menanam. Dan, melakukan pemeliharaan hingga masa panen.
Wa ba’du. Karena transformasi menjadi polisi petani hasilnya nyata, Kapolresta Rama bertekad akan terus melakukan pendampingan kepada kelompok tani.
Juga kerja sama dengan Perhutani. Terkait pemanfaatan lahan produktif. Jadi tidak sabar menunggu panen raya-panen raya berikutnya. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin