Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dalam Kepungan Disinformasi

Samsudin Adlawi • Rabu, 18 Juni 2025 | 12:35 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID - Era digital itu berkah. Banyak yang sudah menikmatinya. Pekerjaan menjadi lancar. Urusan menjadi mudah. Lebih cepat kelar. Berkat koneksi digital. Bahkan, lahir banyak OKB. Orang Kaya Baru. Kaya mendadak. Berkat kelihaiannya ”mempekerjakan” digital.

Tapi, teknologi digital juga membawa dampak negatif. Disinformasi, contohnya. Catat informasi berkembang marak. Menyeruak di tengah kehidupan masyarakat. Menimbulkan keresahan. Bahkan, dalam kehidupan lebih luas, mengganggu kondusivitas daerah.

Era digital menjadi surga bagi kaum fasik. Mereka yang gemar melanggar perintah Allah. Di tangan kaum fasik, media sosial (medsos) diselewengkan manfaatnya. Efektivitas medsos dipakai bukan sebagai media penyebaran informasi yang baik. Melainkan untuk menyebar informasi buruk. Berita yang jauh dari kebenaran.

Informasi-informasi hitam itu menyebar cepat. Hanya dalam sekali klik. Secepat kerja komunikasi digital. Tak perlu menunggu lama. Bahkan, sebaran kabar angin itu lebih cepat dari angin itu sendiri. Ketika kita klik konten di sini, seketika itu juga menyusup ke perangkat digital di belahan dunia yang lain. Tak sampai sedetik!

Era digital menjadi rumah para peternak hoaks—berita sesat. Mereka sangat produktif menernak berita-berita palsu. Menyelewengkan informasi-informasi benar menjadi abu-abu. Atau, bahkan, menjadi seratus persen salah. Informasi yang sebenarnya menyejukkan dipermak menjadi menyudutkan dan menyerang. Kekeliruan yang disengaja itu sangat merugikan pihak yang diberitakan.

Mirisnya, si pembuat konten justru menikmati ”pekerjaan kotornya” itu. Makin menderita objek yang diberitakan, ia semakin menikmati. Golnya memang membuat targetnya terpojok. Menyerah. Angkat bendera putih. Lalu mengajak negosiasi: konten di-take down (dicopot) dari medsos asal mau bayar sekian!

Medsos bukan satu-satunya fasilitas pembuat gaduh. Belakangan bermunculan website atau portal pemberitaan jauh dari kaidah-kaidah jurnalistik. Awak media atau penulis media-media itu tanpa dibekali kompetensi yang memadai. Tulisan atau karya jurnalistik yang dihasilkan sering menimbulkan keresahan. Kegaduhan. Bahkan, mencederai kondisivitas. Gara-gara narasi yang dikembangkan tidak berdasar. Jauh dari fakta. Tak sesuai dengan keadaanya yang sebenarnya.

Tentu, kondisi itu mengundang keprihatinan. Para pihak yang semula diam akhirnya bersikap. Meriung di sebuah hotel. Menggelar Focus Group Discussion (FGD). Diskusi Kelompok Terpumpun. Pada 13 Juni 2025 lalu. Diprakarsai Polresta dan Pemkab Banyuwangi. Digelar bersama oleh Komunitas Banyuwangi Positif. Terdiri dari gabungan jurnalis lintas organisasi, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Banyuwangi, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyuwangi, dan pegiat media sosial (Banyuwangi Social Media Network).

Temanya berasa puncak dari sebuah keresahan. Yang butuh solusi cepat untuk mengatasinya. Yakni, ”Membendung Disinformasi di Era Digital”. Tiga narasumber dihadirkan. Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Pemkab Banyuwangi Budi Santoso, Kasat Reskrim Polresta Banyuwangi Kompol Komang Yogi Arya Wiguna, dan anggota Dewan Pers Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Muhammad Jazuli.

Jazuli mengaku prihatin sekaligus resah melihat fenomena di medsos mutakhir ini. Namun, apa daya. Dewan Pers belum bisa berbuat banyak. ”Dewan Pers masih harus mengembangkan sayap, juga menangangi media sosial,” ujarnya.

Namun, Jazuli menulis di media apa pun harus punya kompetensi. Dan, lanjutnya, yang terjadi di medsos hari ini, banyak penulisnya tidak memiliki kompetensi. Seperti halnya para jurnalis di media mainstream. ”Kalau teman-teman wartawan yang terakreditasi ketika menulis berita dipagari dengan kode etik jurnalistik. Selain menyajikan fakta, mereka juga sangat memperhatikan keberimbangan informasi. Tanpa dua hal itu, mereka tidak akan menulisnya di media,” tandasnya.

Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rama Samtama Putra mengingatkan, informasi hitam berimplikasi kepada kegaduhan. ”FGD ini bertujuan untuk membendung disinformasi seperti hoaks hingga ujaran kebencian yang bisa berimplikasi kepada kegaduhan hingga tidak kondusifnya wilayah Banyuwangi,” pesannya saat membuka diskusi.

Lalu, bagaimana mencegah berkembangnya disinformasi. Kembali ke diri sendiri. Baik diri si pembuat informasi maupun pembacanya. Butuh kesadaran sekaligus kecerdasan khusus. Agar bisa dan mau membaca diri sendiri. Pembacaan terbaik, menurut saya, adalah kembali ke ajaran agama.

Al-Qur’an surat Al-Hujarat, ayat 6 bagus sebagai pegangan penulis: wartawan, kreator konten, YouTuber, TikToker, dan lain-lain. Firman Allah dalam surat Al-Hujarat itu berupa peringatan. Agar kita berhati-hati terhadap sebuah informasi. Tidak menelannya mentah-mentah. Harus melakukan check and recheck. Tabayun. Pun bagi yang menulis-mengunggah. Sebelum mengunggah harus diperiksa ulang kebenaran fakta dan keberimbangannya. Agar tidak mencelakakan pihak lain—yang karena kecerobohannya bisa dengan mudah menelan mentah-mentah informasi yang diterimanya.

Sebagai jurnalis, refleks mengecek informasi itu selalu muncul otomatis dalam diri saya. Bukan hanya informasi tentang kejadian serius. Tapi juga info remeh soal kuliner. Ketika melihat ulasan (review) seorang pemengaruh (influencer) tentang menu makanan di sebuah rumah makan, saya menyempatkan diri ke lokasi yang dimaksud. Setelah nyicipi langsung menu yang diulas berlebihan, saya jadi tahu kualitas si influencer tadi. Cukup mudah mengetahui kebenaran informasi yang diunggahnya. Yakni, dari rasa masakan yang dia ulas: tidak enak!

Sebaliknya, saya juga pernah mengecek langsung sebuah rumah makan setelah beberapa orang mengaku kecewa setelah makan di sana. Saya berangkat berbekal dua hipotesa: bisa jadi benar yang mereka sampaikan, sebaliknya juga bisa salah.

Wa ba’du. Kecurigaan saya benar. Tidak seperti yang didengungkan oleh orang-orang tadi. Ternyata hampir semua menu yang saya pesan rasanya enak. Pelayanannya juga cepat. Bisa jadi, mereka sengaja menyebar hoaks atas ”pesanan” dari pengelola restoran yang lain. Namanya saja bisnis. Bisnis kuliner lagi. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#media sosial #man nahnu #era digital #samsudin adlawi