Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pembeli Bukan Lagi Raja

Samsudin Adlawi • Rabu, 4 Juni 2025 | 16:07 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

DUA pemain besar mi masuk Banyuwangi. Tahun ini. Bukanya hampir bersamaan. Ketika yang satu baru buka, satunya sudah menyusul. Berselang hanya beberapa bulan. Tidak sampai setahun. Menggambarkan betapa sengitnya persaingan di antara keduanya. Berebut ceruk pasar penggemar masakan mi di Bumi Blambangan.

Informasinya, dua raja bisnis mi cepat saji itu memang bersaing. Sejak lama. Persaingan mereka tidak biasa-biasa. Seru. Nafsu ingin menguasai pasarnya sangat menonjol. Tidak membiarkan pesaingnya buka lapak seorang diri. Harus disaingi. Harus ditandingi. Mirip Indomaret dan Alfamart serta Roti Boy dan Roti‘O.

Guyonan teman-teman di kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi, mereka sudah biasa saling ‘’membunuh’’. ‘’Lihat saja, begitu yang baru buka, yang buka duluan itu akan menyusut pengunjungnya. Itu terjadi di banyak kota,’’ kata mereka.

Saya penasaran. Iseng-iseng membuktikan omongan teman-teman itu. Ternyata benar. Ketika melintas dari arah selatan kota Banyuwangi, kendaraan yang parkir di area parkir rumah makan mi pertama tak sepenuh seperti sebelum-sebelumnya. Ketika awal-awal buka, sulit mencari ruang untuk memarkirkan mobil.

Lantas saya meneruskan laju mobil ke kawasan Taman Blambangan. Lahan parkir restoran mi yang baru malah penuh. Bahkan, meluber sampai ke lahan kosong di timurnya. Pembelinya tampak berjubel. Terlihat jelas dari dinding kacanya yang transparan.

Tidak hanya sekali. Tapi sampai berkali-kali. Saya melakukan pembuktian. Dengan rute yang sama. tapi sesekali saya balik arah start-nya. Kali ini lewat selatan Taman Blambangan dulu. Ternyata makin ramai saja. Perjalanan saya teruskan ke arah selatan Kota Banyuwangi. Dan, ternyata, area parkirnya tak padat lagi. Hanya ada beberapa kendaraan yang tampak.

Fenomena itu menarik. Persaingan bisnis kelas kakap. Saling adu pintar. Saling sorongkan slogan pemasaran:  ‘’yang paling’’. Mereka sama-sama membidik pasar anak muda. Jiwa-jiwa yang masih mengutamakan gengsi daripada kondisi ekonomi. Mereka tak peduli bagaimana susahnya (orang tua) mencari uang. Yang penting bisa mejeng di tempat makan terkenal.

Menarik menunggu hasil gajah melawan gajah itu. Tak sabar menunggu hasilnya. Siapa yang bakal menang. Mana yang akan tumbang. Atau, akan terlibat persaingan panjang. Tidak ada yang tumbang. Tidak ada yang benar-benar menang. Seperti halnya Alfamart-Indomaret dan Roti Boy-Roti’O.

Apa pun hasil perang bisnis mi itu, coba kita telisik dampaknya. Terutama bagi ekosistem ekonomi rakyat Bumi Blambangan. Wabil-khusus, pada penjual mi. Selain nasi goreng, di Kota Gandrung Banyuwangi banyak sekali masyarakat yang berjualan mi. Terutama di malam hari. Mulai yang berjualan di warung rumahan sampai berjualan di gerobak-gerobak. Menawarkan resep mi racikan sendiri. Selama ini, jualan mi mereka menjadi jujugan para pencinta mi. Mereka pun punya pelanggan sendiri-sendiri.

Patut dicermati, bagaimana omzet jualan mi mereka. Menurun atau tetapkah. Kalau menurun, seberapa banyak pelanggan mereka yang tersedot ke dua rumah makan raksasa yang baru buka. Sepertinya tidak terlalu banyak. Sebab, sangat jarang anak muda yang membeli mi di tempat mereka.

Bagi anak muda, tempat jualannya—rumah makan sederhana dan apalagi gerobak—tak sesuai selera mereka. Dunia remaja itu tempatnya rumah makan yang instagramable. Bagus untuk pamer eksistensi. Bukan mejeng di kedai mi biasa atau mi gerobak.

Anak remaja—juga sebagian orang dewasa/tua, sangat welcome. Terbukti saat restoran mi yang pertama buka, tidak ada bangku yang kosong. Bahkan, jumlah yang antre dan berjubel dekat meja pemesanan kurang lebih sama dengan yang duduk menikmati mi-nya. Yang mengherankan mereka rela berdiri lama. Karena kursi tempat untuk menunggu pesanan sangat terbatas.

Pemandangan yang sama juga tampak di restoran mi yang baru buka. Terlihat dari jalan, anak-anak remaja rela klesodan menempel di dinding restoran. Menunggu giliran untuk bisa memesan mi. Mereka bukannya malu. Tapi malah bangga. Bahkan, momen klesodan itu diabadikannya dalam jepretan kamera HP. Lalu mengunggah di media sosial miliknya. Seolah tak mau kalah dengan mereka yang mengabadikan momen menikmati mi di dalam ruangan restoran.

Bersyukur saya pernah mampir ke salah satu restoran itu. Tidak dapat kursi. Penuh. Jangankan kursi, untuk memesan makanannya saja butuh effort luar biasa. Butuh kesabaran berlipat-lipat. Keponakan saya yang bertugas memesan/ membayar harus antre dalam waktu lama. Itu pun ditambah bonus spesial: berdesak-desakan dengan pembeli lainnya.

Saya dan keluarga yang menunggunya saja merasa boring. Harus menunggu sambil berdiri. Kursi untuk mengantre sudah penuh. Tapi tidak dengan para remaja. Mereka tampak santai-santai saja menunggu giliran. Justru waktu antre yang lumayan lama itu dimanfaatkan untuk klak-klik kamera HP-nya. Dengan berbagai pose.

Saya teringat cerita Pak Iwan (Setiawan Subekti, Presiden Republik Kemiren). Pemilik Sanggar Genjah Arum itu mengatakan, saat Starbucks buka pertama kali di Beijing, China, diserbu pembeli. Rata-rata anak muda. Mereka berebut mencari tempat duduk dekat jendela. Bahkan, sebagian rela duduk di luar. Tujuannya, agar dilihat dari orang-orang yang sedang lalu-lalang di jalan raya.

Bagi mereka, membeli kopi di Starbucks bukan sekadar merasakan minuman kopinya, melainkan lebih ke gengsinya. Bahwa, saat itu, bisa minum kopi di Starbucks adalah hebat. Apalagi, bisa membagikan foto saat kongkow di Starbucks.

Mungkin pengalaman itu juga yang sedang melanda remaja Banyuwangi. Mereka datang ke dua restoran mi yang baru buka tidak hanya ingin kenyang perutnya kenyang. Melainkan sedang menaikkan gengsinya. Sebab, soal rasa itu urusan selera. Masing-masing orang punya ukuran berbeda. Ada yang bilang rasa mi di kedua restoran biasa-biasa saja. Tapi yang lain bilang enak dan sangat enak. Terus harganya murah.

Wa ba’du. Kehadiran dua restoran branded dengan menu utama mi di Kota The Sunrise of Java telah merontokkan adagium ‘’Pembeli adalah Raja’’. Yang harus dilayani dan dihormati. Fenomena yang terjadi di dua restoran baru itu sebaliknya. Pembeli tidak mendapatkan pelayanan yang cepat. Juga tidak mendapat tempat mengantre yang terhormat. Tapi, tidak ada yang komplain. Justru terjadi sebaliknya. Justru tampak menikmati. Padahal, mereka kehilangan status ‘’Raja’’nya. Aneh bukan… (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Pembeli Bukan Lagi Raja #man nahnu #samsudin adlawi