Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kereta Etalase Pariwisata

Samsudin Adlawi • Rabu, 28 Mei 2025 | 12:30 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

OKUPANSI penumpang kereta api (KA) menuju ujung paling timur Pulau Jawa terus meningkat. Banyuwangi punya andil besar atas peningkatan penumpang itu. Diakui atau tidak.

Data dan fakta bicara. Tidak bisa dibantah. Bumi Blambangan menjadi salah satu jujukan wisata favorit penumpang kereta api.

Mutakhir ini. Saat libur panjang tahun ini, sejak awal Mei 2025, penumpang kereta api relasi Banyuwangi masuk tiga besar terpadat di Indonesia. Senyum jajaran PT KAI (Kereta Api Indonesia) Persero pasti terus mengembang.

PT KAI pun terus meningkatkan kolaborasi bersama Pemkab Banyuwangi. Terutama dalam meningkatkan kunjungan pariwisata menuju Kota Gandrung Banyuwangi. Pertemuan kedua belah pihak makin diintensifkan.

Tim Pemkab Banyuwangi beberapa waktu lalu bertemu Dirut PT KAI di Jakarta (21/5). Tim dari kota the Sunrise of Java dan tim PT KAI membahas peningkatan kerja sama.     

Tidak tanggung-tanggung. Dirut PT KAI Didiek Hartantyo mengajak serta Managing Director of Commerce Hadis Surya Palapa, Plt Dirut KAI Services Ririn Astutik, dan Direktur Consumer Business Lies Permana Lestari berdiskusi dengan tim dari Pemkab Banyuwangi.

”Kami sangat senang dan mengapresiasi perkembangan Banyuwangi yang begitu pesat. Banyuwangi sangat menginspirasi. Kami siap berkolaborasi untuk meningkatkan penumpang ke Banyuwangi,” puji Didiek kepada Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono dan jajarannya.

Sebelumnya, PT KAI sudah membuktikan keseriusannya. Perusahaan pelat merah itu telah mem-branding Stasiun Banyuwangi Kota dengan nilai-nilai kearifan lokal Bumi Blambangan.

Bangunan stasiun yang beberapa waktu lalu direvonasi itu menghadirkan ornamen-ornamen arsitektur Oseng.

Saat tiba atau hendak berangkat di/dari stasiun yang dulu bernama Stasiun Karangasem itu, penumpang langsung merasakan kehangatan suasana Banyuwangi.

Itu sangat menggembirakan. Tentu. Namun, pariwisata itu dinamis. Cepat sekali adaptasi dengan perubahan.

Maka, kolaborasi yang sudah ada harus dikembangkan. Tidak sebatas mem-branding fasilitas yang ada di darat. Kolaborasi berikutnya yang bisa digarap bersama adalah moda angkutan. Gerbong KA-nya.

Caranya bisa macam-macam. Bisa mem-branding bodi gerbong dengan gambar-gambar destinasi wisata Banyuwangi.

Bisa gandrung, kebo-keboan, seblang, BEC, Gandrung Sewu, dan lain-lain. Atau destinasi-destinasi favorit.

Misalnya, Kawah Ijen, Pulau Merah, Bangsring Underwater, Pantai Marina Boom, Pantai Plengkung, Pulau Tabuhan, dan lain sebagainya.

Andai gambar objek-objek wisata andalan Banyuwangi itu menempel di bagian luar gerbong KA, pasti itu akan menjadi promosi luar biasa.

Sama seperti saat destinasi-destinasi wisata itu nampang di bus-bus di Inggris dan beberapa negara Eropa beberapa tahun lalu.

Sebagai ”hadiah” setelah Banyuwangi menjadi juara dunia bidang pariwisata (UNWTO/United Nations World Tourism Organization), pada 2016 lalu, di Madrid, Spanyol.   

Kolaborasi kedua yang bisa ditingkatkan berupa pemutaran video atau film destinasi. Saat ini, mungkin, PT KAI sudah menampilkan destinasi wisata Banyuwangi pada LCD di setiap gerbongnya. Namun, materinya masih sangat terbatas. Belum menampilkan semua destinasi nampang.

Bicara destinasi di Banyuwangi tidak terbatas pada atraksi budaya dan kekayaan objek-objek alamnya. Tapi juga kelezatan kulinernya. Mulai dari ayam kesrut, rusak soto, pecel pitik, pecel rawon, sego tempong, sego janganan, dan lain sebagainya.

Kuliner itu tidak cukup dimasukkan ke daftar menu restaurant on train. Restoran, kafe, atau warung di dalam kereta api. Konon, menu-menu khas Oseng laris.

Banyak peminatnya. Seorang teman saat naik KA Blambangan Ekspres relasi Ketapang–Pasar Senen PP menceritakan pengalamannya. Saat memesan pecel rawon, oleh pramusaji dijawab kosong. Sudah habis. Berarti menu kuliner Oseng sangat diminati.

Terlepas yang beli adalah orang Banyuwangi. Yang hendak pergi ke Jakarta. Atau kota-kota sebelum Jakarta yang dilaluinya.

Untuk menyempurnakan progress yang sudah ada, kereta api bisa ditingkatkan menjadi etalase pariwisata yang sesungguhnya. Bila selama ini, baru bisa menyajikan masakan yang sudah jadi.

Maka, untuk berikutnya bisa mulai dirintis demo masak di dalam gerbong kereta. PT KAI bisa bekerja sama dengan UMKM Banyuwangi. Atau pemilik restoran. Atawa chef kuliner khas Oseng.

Demo memasaknya jangan di ruang restorasi. Terlalu sempit. Siapkan gerbong khusus. Tulis gerbong kelas kuliner Oseng Banyuwangi.

Siap dengan peralatan memasak dan bahan-bahan yang dibutuhkan. Pasti ada penumpang atau wisatawan yang penasaran. Ingin belajar dan sekaligus nyicipi masakan khas Banyuwangi.   

Wa ba’du. Peluang keberhasilan program itu sangat terbuka. Perjalanan jauh membuat penumpang boring. Duduk terlalu lama itu tidak enak. Terutama bagi yang sudah berumur. Penumpang KA jarak jauh pengin sesuatu yang baru. Mereka tidak hanya ingin mencobanya. Tapi sekaligus membunuh waktu.

Harus diakui, terobosan semacam itu membutuhkan waktu. Butuh persiapan yang matang. Mulai menyiapkan gerbong khusus, sampai menjalin kerja sama dengan para pihak di Banyuwangi. Terutama pengelola restoran/warung. Minimal chef makanan khas Oseng. 

Kalau toh mentok tidak segera terealisasi, jalan keluarnya menampilkan menu-menu kuliner Banyuwangi di layar LCD dalam gerbong.

Lengkap dengan tutorial proses pembuatannya. Tapi tetap harus disediakan space khusus dalam gerbong untuk men-display bahan-bahan kulinernya. Bersama jajanan khas Banyuwangi. Semoga menarik dan menantang. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#pariwisata #man nahnu #samsudin adlawi #kereta