ADA tujuh, setidaknya. Pembangkit listrik di Indonesia. Yakni PLTA, PLTB, PLTG, PLTU, PLTP, PLTD, dan PLTS. PL-PL itu tersebar di hampir seluruh wilayah NKRI. Menyalakan perekonomian, kesejahteraan, dan pemenuhan hajat masyarakat.
Sesuai namanya, energi listrik berkelanjutan pada Pembangkit Listrik Tenaga Air memanfaatkan aliran air yang deras. Air ditampung dalam bendungan. Lalu dialirkan ke turbin untuk menghasilkan energi listrik. Sederhana. PLTA di Indonesia ada, antara lain, di Sumatra Barat, Riau, Lampung, Aceh, Bengkulu, Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan lain-lain.
Tak hanya kaya air, negara kita juga punya angin yang menebarkan keberkahan. Sangat bagus untuk menghasilkan energi listrik. Tiupan anginnya mampu memutar kincir angin raksasa. Putaran kincir angin itu diubah menjadi energi listrik. Melalui generator. PLTB membutuhkan beberapa turbin angin. Turbin-turbin itu bergerak serentak menghasilkan listrik.
Namun, tidak semua angin mampu memutar turbin. Hanya angin berkecepatan antara 0,3 meter per detik hingga 32 meter per detik yang mampu melakukannya. Dan, kecepatan angin segitu tidak berembus di semua wilayah di Indonesia. Makanya, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) hanya dibuat di Tolo Janeponto dan Sidrap (Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan).
Perut bumi Indonesia juga melahirkan energi listrik. Seperti gas alam dan minyak bumi. Kedua bahan bakar itu ”dimasak” dalam kompresor, ruang bakar, turbin gas, dan generator listrik. Masyarakat di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, Jawa Timur, dan beberapa daerah lain sudah merasakan aliran listrik dari PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) tersebut.
Indonesia juga masih punya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Yakni, pembangkit listrik ini dari bahan tidak terbarukan. Karena PLTU menggunakan uap dari hasil pompa air yang berasal dari batu bara, juga minyak. Batu bara dibakar dalam suhu panas tinggi. Kemudian disemprotkan untuk menghasilkan uap. Uap berenergi itu menggerakkan turbin. Setelah diubah menjadi energi listrik disimpan di generator.
Namun, nasib PLTU tinggal menghitung hari. Pemerintah berencana menidurkannya. Bahkan, membunuhnya pelan-pelan. Diganti dengan pembangkit listrik jenis yang lain. Sebab, PLTU dianggap tidak ramah lingkungan. Masih menggunakan bahan tidak terbarukan. Uap yang dihasilkan berbahaya jika terhirup manusia.
Selain di Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, kita bisa menemukan PLTU di Sumatra Utara, Batam, Banten, DKI Jakarta, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan di sejumlah provinsi lainnya.
Masyarakat juga mengenal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Pembangkit yang satu ini berbiaya operasional tinggi. Tidak efisien. Solar menjadi bahan bakar utama penggerak mesin diesel untuk menghasilkan energi listrik. PLTD dibangun bukan untuk pemenuhan kebutuhan listrik massal. Hanya untuk pasokan listrik dalam jumlah beban relatif kecil. Seperti pedesaan atau pabrik. Umumnya PLTD dipakai sebagai pembangkit cadangan. Untuk kebutuhan energi dalam situasi darurat. Di Kabupaten Natuna kita bisa menemukan PLTD dengan kapasitas terbesar di Indonesia.
Warga Banyuwangi patut bersyukur. Sebab, di sekitar Bumi Blambangan terdapat sumber energi listrik yang berlimpah. Yakni, PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) dan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Keduanya merupakan solusi inovatif, memanfaatkan sumber daya alami.
PLTP memanfaatkan energi panas bumi yang melimpah menjadi energi listrik. Kita tahu, bumi menyimpan energi dalam bentuk gas bumi. Geotermal. Yang bisa diubah menjadi energi listrik.
Kini, PT Medco Energi Internasional Tbk sedang mengebut pembangunan PLTP Ijen yang memiliki daya 34 megawatt (MW). Targetnya sudah beroperasi pada kuartal pertama tahun 2025 ini. Pembangunan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) PLTP Ijen tampak melintang di sejumlah area di Kota Gandrung. Pengunjung Kawah Ijen bisa melihat dengan jelas SUTET yang melintang di jalan menuju Kawah Ijen. PLTP Ijen menggenapi PLTP Wonosobo, Pangalengan, Garut, dan Sukabumi.
Wa ba’du. Ini yang terbaru: PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Kota the Sunrise of Java bakal memilikinya. Tak dinyana, ada ladang energi surya sangat besar di Banyuwangi. Energi cuma-cuma dari matahari itu berada di Desa Secang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Jatim. Panel-panel surya akan dipasang di Secang. Untuk ”menangkap” sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.
Hebatnya, PLTS Secang dibangun di atas lahan seluas 130 hektare. Menjadi bagian dari PLTS land based terbesar di Indonesia. Memiliki kapasitas 100 MW. Mulai dibangun akhir 2025. Ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2026. Untuk memenuhi kebutuhan listrik Jawa dan Bali. Yang selama ini dipasok dari PLTU Paiton.
Kepastian pembangunan PLTS Secang terungkap saat Vice President Pre-Construction PT PLN Indonesia Power Aswindo bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas di Pendapa Sabha Swagata Blambangan (8/5). Bupati Ipuk mengatakan, PLTS di Banyuwangi merupakan bagian dari program pemerintah untuk peningkatan energi baru terbarukan. ”Kehadiran PLTS untuk mendukung zero emission yang ditargetkan pada tahun 2060,” paparnya.
Curah hujan minimalis di wilayah Kalipuro ternyata membawa berkah tersendiri. Sangat istimewa sebagai lokasi PLTS. Sebab, bisa mempermudah pengisian energi matahari. Mulai sekarang, jangan sambat bila merasa kegerahan. Sebab, di balik cuaca panas, Banyuwangi mendapat berkah tak terduga. Yakni Program Strategis Nasional bernama PLTS. (*)
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin