Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Motor Penggerak Investasi Regional

Samsudin Adlawi • Rabu, 7 Mei 2025 | 14:45 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

ORANG hanya tahu Banyuwangi sebagai Kota Wisata. Itu tidak salah. Investor percaya 1.000 persen. Mereka pun berdatangan. Ikut mengembangkan industri pariwisata kota the Sunrise of Java. Membangun hotel bintang. Mendirikan pusat kuliner. Ada pula yang berinvestasi di sejumlah destinasi wisata.

Setelah industri pariwisata berjalan dan maju, kini Banyuwangi mulai menggenjot pengembangan sektor industri yang lain. Dan, bagi Kota Seribu Juara itu tak mudah mencari investor. Bahkan, Kota Gandrung tak perlu repot-repot mencarinya. Justru investornya yang datang sendiri. Menawarkan kerja sama.

Bumi Blambangan merupakan wilayah dengan prospek pertumbuhan investasi yang cerah. Pujian itu tidak keluar dari penjual kecap. Tapi dari pihak yang kompeten: Asisten Direktur Bank Indonesia Jatim Petrus Endria.

Banyuwangi sangat seksi. Apa yang dipunyai sangat menggoda investor. Kota Gandrung punya paket komplet. Itu membuat para investor kesengsem. ”Banyuwangi punya keunggulan geografis. Infrastruktur yang lengkap. Dan, SDM yang kuat. Ini adalah kombinasi penting bagi investor,” papar Petrus, seperti dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (5/5/2025).

Data bicara. Tidak bisa bohong. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Banyuwangi (tanpa sektor migas) pada 2024 mencapai 108,22 triliun. Urutan kedelapan tertinggi se-Jatim. Sekadar tahu, PDRB merupakan salah satu indikator untuk mengukur kinerja ekonomi suatu daerah.

Banyuwangi masih punya kelebihan lainnya. Kelebihan yang satu ini menjadi primadona bagi investor. Banyak kota dan negara maju karenanya. Apa itu? Dua pintu perkembangan. Yakni pelabuhan dan bandar udara. Di antara pertanyaan investor ketika akan berinvestasi ke suatu daerah adalah: bagaimana cara sampai ke sana, naik apa ke sananya, butuh waktu berapa lama, ditempuh dengan naik apa?

Rentetan pertanyaan seperti wajar. Sebab, investor termasuk makhluk langka. Punya waktu sedikit, tapi banyak uangnya. Namun, Banyuwangi boleh menepuk dada. Pertanyaan-pertanyaan beruntun itu bisa dijawab dengan mudah. Mudah dan memuaskan. Dijamin memuaskan investor.  

Selain akses mudah, ketika berada di Banyuwangi investor tanpa ragu akan mengatakan, ”Kami siap ikut mengembangkan dan membangun Banyuwangi lewat investasi”.

Melihat pelabuhan laut dalam di Pelabuhan Tanjung Wangi, Meneng, Ketapang, investor pasti senang. Sebab, mereka bisa ekspor dan atau impor via Pelabuhan Tanjung Wangi. Tanpa terganggu aktivitas maintenance pelabuhannya. Tanjung Wangi lebih baik dari Tanjung Mas di Semarang, Tanjung Perak di Surabaya, dan bahkan Tanjung Priok di Jakarta. Di Tanjung Wangi tidak ada sedimentasi. Faktor alam itu tidak terjadi karena arus di dermaga Tanjung Wangi cukup kuat. Selain itu, pelabuhannya sangat dalam. Bisa disandari kapal laut ukuran paling besar sekali pun.

Kapal angkut AS, MV Cape Husdon, yang memuat kendaraan tempur sandar di Pelabuhan Tanjung Wangi pada 12 Agustus 2024 lalu. Kapal tersebut mengangkut sejumlah kendaraan militer. Termasuk helikopter tempur milik AS. Alutsista milik AS itu dipakai latihan perang bersama Super Garuda Shield 2024, pertengahan Agustus sampai September 2024, di sejumlah daerah di Indonesia, salah satunya di pusat latihan tempur Marinir di Baluran.

Dermaga Tanjung Wangi juga beberapa kali disandari kapal super jumbo dari sejumlah negara. Kapal-kapal tersebut menurunkan besar dan gula yang diimpor oleh pemerintah Indonesia. Dalam waktu tidak lama lagi, Tanjung Wangi juga akan menjadi pelabuhan untuk mengeskpor kereta api. Kereta itu diproduksi oleh pabrik kereta api terbesar di Asia Tenggara. Pabriknya di Banyuwangi. Dekat dengan pelabuhan Tanjung Wangi. Keberadaan infrastruktur itu sangat mendukung pengembangan industri dan perdagangan di Banyuwangi.

Investor pasti bertambah semangat mendengar ucapan Kepala DPM-PTSP Jatim Dyah Wahyu. Banyuwangi, kata dia, adalah salah satu daerah dengan performa investasi terbaik. Pada 2024, realisasi investasi di Banyuwangi mencapai Rp 3,4 triliun. Menempati peringkat ke-11 dari 38 kota dan kabupaten di Jatim.

Tanpa ragu, Dyah pun melontarkan pujian, ”Dengan capaian tersebut, Banyuwangi layak disebut sebagai motor penggerak investasi regional. Kami akan terus memfasilitasi agar sektor-sektor potensial dapat tumbuh dengan cepat”.

Wa ba’du. Kini pun pengembangan ekonomi Banyuwangi tak melulu terkonsentrasi pada pariwisata. Banyuwangi mulai mengembangkan industri hilirisasi, logistik, dan transportasi. Tiga sektor yang sedang seksi-seksinya. Di tengah lesunya perekonomian dunia.

Petrus dan Dyah sengaja datang ke Banyuwangi. Berdiskusi dengan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Pastinya, Pemprov Jatim bersama Bank Indonesia akan terus melakukan pendampingan agar arah pembangunan ekonomi Kota Kopi Banyuwangi selaras dengan rencana besar Jatim. 

Sebagai tuan rumah, Bupati Ipuk menyambut niat baik BI dan Pemprov Jatim dengan tangan terbuka. Kesempatan itu dipakai Ipuk untuk mempromosikan potensi kabupaten yang dipimpinnya selain pariwisata dan infrastruktur. Yakni, bidang pertanian dan pangan. ”Kami memiliki potensi besar di sektor pertanian organik dan pangan lokal. Ini perlu dikembangkan dengan dukungan investasi,” promonya.

Investasi besar-besaran sangat dinanti realisasinya. Lebih-lebih investornya mau menggandeng pengusaha lokal sebagai partner bisnis. Gotong royong mengungkit pertumbuhan ekonomi Banyuwangi. Dibarengi niat tulus. Mengerek kesejahteraan rakyat lebih tinggi lagi. Semoga. (*)

*) Pekolom Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin
#investor #investasi #pelabuhan #hotel berbintang #Kereta Api #banyuwangi