ALHAMDULILLAH. Saya belum pernah absen. Hingga kini. Selalu salat Idul Fitri di Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Banyuwangi. Juga salat Idul Adha. Pun iktikaf pada malam likuran. Malam-malam ganjil di bulan Ramadan. Antara 21, 23, 25, 27, dan 29.
Dari tahun ke tahun, perasaan yang sama selalu muncul. Tentang kondisi MAB. Situasi di dalam masjid ikon Banyuwangi itu nyaris tak mengalami perubahan. Para diaspora yang pulang kampung dan salat Id, sepertinya juga merasakan hal yang sama. Atau, bahkan, perasaan mereka malah lebih ekstrem.
Seperti diketahui, diaspora adalah orang Bumi Blambangan yang hidup dan bekerja di luar tanah kelahirannya. Baik di luar kabupaten, provinsi, maupun luar negeri. Di tempatnya mencari nafkah itu mereka pasti juga sering datang ke masjid setempat. Untuk Jumatan (salat Jumat) atau bahkan salat lima waktu: Subuh sampai Isya.
Masjidnya pun tidak hanya satu. Bisa dua, tiga, bahkan lebih banyak lagi. Tergantung keluangan waktu yang dimilikinya. Juga lokasi masjidnya. Di antara masjid-masjid yang diziarahi, boleh jadi, salah satunya adalah masjid agung. Atau masjid jamik. Atawa masjid raya. Sebutan itu menyesuaikan bahasa masyarakat setempat.
Bila masjidnya besar, saat berada di dalamnya para diaspora langsung jatuh cinta. Kagum. Dan, merasa sangat nyaman. Betah. Bisa berzikir sambil rileks. Sehingga khusyuk. Lalu, pikirannya mulai bekerja. Mencari penyebab gerangan apa yang menyebabkan bisa khusyuk.
Ternyata, semoga jawabannya sama dengan yang saya rasakan, suasana di dalam masjid. Masjidnya yang membantu jemaah lebih fokus. Khusyuk saat salat maupun berzikir. Lalu mereka lancar membandingkan dengan masjid yang ada di tanah kelahiran: kota The Sunrise of Java Banyuwangi.
Kebetulan, setiap kali bepergian—ke luar kota dan ke luar negeri, saya berusaha singgah di masjid agung/masjid jamiknya. Melaksanakan salat fardu plus sunah. Setelahnya tak langsung hengkang. Namun, diteruskan mengamat-amati sekaligus menikmati keagungan masjidnya.
Seperti Februari 2025 lalu. Saat ke Korea Selatan (Korsel), saya mengunjungi Seoul Central Mosque. Di Distrik Yingsan, Itaewon, Seoul. Salat di masjid raya/masjid jamik/masjid agungnya Korsel itu. Masjid tertua di Korsel yang resmi digunakan sejak 1976.
Satu-satunya masjid di ibu kota Korsel itu sangat indah. Sepintas arsitekturnya mirip masjid-masjid di Turkiye. Terutama ornamen di dalam masjidnya. Mirip juga dengan masjid-masjid di sebagian negara di Timur Tengah dan Afrika. Lokasi Seoul Central Mosque sendiri berada di dataran yang tinggi. Semacam gumuk. Puthuk. Puncak bukit. Berdiri di atas lahan seluas 5.000 meter persegi. Dibangun menggunakan dana keroyokan. Donasi dari pemerintah Korsel ditambah patungan negara-negara Islam.
Kembali ke MAB. Saat mendengar khotbah Idul Fitri, mata saya tersedot pada dinding masjid. Terutama yang membentang sejajar di kanan dan kiri mihrab. Sudah berkali-kali salat Idul Fitri di MAB, tidak hanya tiga kali Lebaran, saya melihat dindingnya tak berubah. Tetap hijau muda warna dinding itu.
Di dinding MAB memang ada beberapa tulisan kaligrafi. Tapi tak sebanding dengan luasan volume dindingnya. Kaligrafi itu pun tampak tenggelam. Saya membayangkan, kelak dinding MAB penuh dengan kaligrafi ayat Al-Qur’an. Lalu ada spot-spot khusus dihias dengan mozaik. Saat ini, di MAB memang sudah ada mozaik. Tapi mozaik sangat sederhana. Baru sebatas untuk membungkus pilar-pilar masjidnya. Belum menjadi ornamen yang memukau, seperti di masjid-masjid Turkiye, jazirah Arab, dan Afrika.
Mozaik (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI) berarti seni dekorasi bidang dengan kepingan-kepingan bahan keras (ubin) berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan perekat. Bahannya bisa macam-macam. Seperti kaca, keramik, kertas, marmer, porselin, biji, batu, logam, dll.
Saya bersyukur berkesempatan mengunjungi Blue Mosque di Istanbul, Turkiye. Sebanyak dua kali. Pada tahun berbeda. Masjid Biru sendiri sebenarnya bernama Masjid Sultan Ahmed. Karena dibangun oleh pemerintahan Sultan Ahmed I. Pada 1609–1616. Masjid itu berdiri anggun dan agung di tengah Kota Istanbul. Sengaja dibuat untuk ”menyaingi” kemegahan Hagia Sophia yang berdiri persis di seberangnya. Hagia Sophia dibangun pada 532–537. Oleh Kaisar Bizantium Justinian I. Sebagai katedral Kristen Konstantinopel.
Hagia Sophia mengalami pasang surut fungsi. Sejak 1453, saat Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel, Hagia Sophia difungsikan menjadi masjid. Namun, pada 1934, presiden pertama Tukiye Mustafa Kemal Ataturk mengubah fungsinya sebagai museum.
Setelah 86 tahun, tepatnya pada 2020, bangunan bersejarah tinggi Hagia Sophia kembali menjadi masjid. Masjid Hagia Sophia resmi ditetapkan kembali menjadi tempat ibadah umat Islam oleh pemerintahan Tayyib Erdogan. Ditandai dengan salat Jumat berjemaah pada 24 Juli 2020. Diikuti ribuan umat Islam Turkiye berbaur dengan perwakilan banyak negara asing.
Interior dan ornamen di dalam Hagia Sophia dan Masjid Biru sama megahnya. Terutama mozaik yang menghiasi dinding dan kubah. Serta pada pilar-pilar besarnya. Sangat mengagumkan. Berada di dalamnya membuat hati terus memuji Allah. Mengiringi decak kagum.
Dilansir Britannica, warna interiornya membuat Masjid Sultan Ahmed kelihatan kebiru-biruan. Bagian dalam masjid dilapisi 20.000 ubin keramik terbaik dan Iznik. Membentuk mozaik bermotif bunga, pohon, dan pola abstrak. Dinding di atas ubin dicat dengan berbagai motif. Umumnya berwarna biru.
Wa ba’du. Saya berdoa semoga takmir MAB bisa studi pintar ke Masjid Biru dan Masjid Hagia Sophia. Agar bisa melihat langsung keagungan dua masjid bersejarah itu. Pulang dari Turkiye membawa segudang inspirasi. Mengagungkan MAB dengan tambahan-tambahan interior dan ornamen dalam masjid. Tentu, motif mozaiknya disesuaikan dengan kearifan lokal Banyuwangi.
Kenapa harus ada mozaik? Karena MAB dan masjid-masjid lain di Indonesia tidak boleh lupa asal-usul masjid. Sekadar informasi, Masjid Agung Damaskus, Syuria (selesai dibangun pada 715 di bawah Khalifah Al-Walid I) mengadopsi unsur Bizantium. Yani kubah, mozaik, dan minaret (menara). Sejak saat itu hampir semua masjid di dunia memiliki tiga unsur utama bangunan kekaisaran Romawi Timur alias Konstantinopel—kini Istanbul, Turkiye.
Mumpung berangan tidak dilarang, angan-angan terbesar saya dan jemaah adalah bisa salat dan berlama-lama di dalam MAB. Menikmati tambahan interior, ornamen, kaligrafi, dan mozaik motif khas Banyuwangi. Suasana MAB pun menjadi lebih agung. Jangan-Jangan besok tim takmir MAB langsung terbang ke Turkiye. (*)
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin