GANDRUNG lagi, gandrung lagi. Kontrovesi penari gandrung muncul lagi. Kali ini, lakonnya pengamen berkostum gandrung. Ia diamankan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Lalu menjalani pembinaan di kantor Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Banyuwangi.
Sebelumnya, awal Februari 2025, video penari gandrung di medsos TikTok menghebohkan jagad maya. Memancing kemarahan pelaku seni dan budaya di Banyuwangi. Juga pemerintah setempat, C.q. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi. Si penari dinilai telah melecehkan warisan budaya adiluhung Bumi Blambangan.
Dalam video itu, terlihat seorang remaja wanita menari gandrung. Namun gerakan tarinya tidak sesuai dengan tarian gandrung. Penari itu mengenakan busana gandrung. Dia menari tidak diiringi gamelan gandrung. Tetapi musik Disc Jockey (DJ). Bukannya menari gandrung, badannya bergerak mengikuti musik DJ seperti di diskotik. Nilai kesakralan tari gandrung pun lenyap dibuatnya.
Kontan, para pegiat seni, aktivis, dan sebagian masyarakat Kota Gandrung muntab. Disbudpar juga menyesalkan viralnya video wanita berkostum tari gandrung tapi tariannya di luar pakem yang baku. Disbudpar, ketika itu, langsung menggelar pertemuan mendadak. Mengundang perwakilan Bidang Hukum Pemkab Banyuwangi, Dewan Kesenian Blambangan (DKB), dan kalangan seniman. Peserta rapat sepakat bulat. Meminta pelaku dalam video viral itu menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Melalui media sosial.
Sementara itu, Plt Kepala Disbudpar Banyuwangi Plt kepala Disbudpar Banyuwangi Taufik Rohman mengaku prihatin. ‘’Penggunakan kostum gandrung tidak bisa seenaknya. Masyarakat harus memahami aturan yang berlaku,’’ ujarnya.
Kembali ke pengamen gandrung yang diamankan patugas Satpol PP. Ternyata bukan seorang wanita. Tapi laki-laki. Namanya Adi Sucipto. Usianya juga sudah tidak muda. Baru 85 tahun! Umur boleh tua. Namun, gerakan menari Mbak Cip tak kalah dengan penari muda. Termasuk penari wanita muda, sekalipun.
Berbeda dengan teman-teman seusianya yang sudah pada loyo, Mbah Cip masih sanggup mengamen di jalanan kota The Sunrise of Java. Ia menari mengenakan kostum lengkap gandrung. Enerjik. Dan, menikmatinya. Diiringi musik-musik Banyuwangean. Dari media sound system portable. Yang dibelinya secara daring.
Mbah Cip bukan tipe orang pemalas. Sebelum mengamen dalam bungkus kostum gandrung, ia bekerja sebagai nelayan. Tapi kemudian ia sakit. ‘’Oleh dokter saya tidak diperbolehkan kerja berat lagi. Saya pun berhenti bekerja sebagai nelayan. Karena menarik jaring dari laut ke perahu itu berat. Berat sekali,’’ kisahnya, dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (19/4/25).
Selanjutnya, ia hidup dari kiriman uang dari anaknya yang bekerja di Bali. Tapi, pertengahan 2024 kiriman uang dari anaknya tersedat. Bengkel tempatnya bekerja sepi. Tak mau membebani anaknya, Mbak Cip umeg. Berkreasi. Membuat omprog gandrung. Dengan tangannya sendiri. Kebetulan, ia punya keterampilan memahat. Juga membuat patung.
Jadi, saat ngamen Mbah Cip memakai omprog karyanya sendiri. Sedangkan kostum gandrung ia beli. Saat mengamen, sejatinya Mbak Cip sedang menghibur dirinya sendiri. Begitu pengakuannya. Selain juga menghibur orang lain, tentunya. Karenanya, ‘’Saya tidak pernah meminta-minta. Saya anggap jual jasa. Orang yang merasa terhibur akan memberi saya uang,’’ katanya.
Hasil uang mengamen juga tidak dinikmatinya sendiri. Kepada tetangga dekatnya Mbak Cip bercerita. Saat menghitung uang hasil mengamen di pinggir jalan, terus ada anak-anak yang melintas, ia panggil. Lalu dikasihnya Sebagian hasil mengamen. Ia juga sering berbagi kepada anak yatim piatu.
Pengakuan Mbah Cip cukup lainnya cukup mengejutkan. Ternyata ia punya jiwa seni. Dan merasa ikut bertanggung jawab memajukan kesenian Banyuwangi. ‘’Agar semakin banyak orang tahu, bahwa gandrung pertama itu laki-laki. Yakni, Gandrung Marsan yang ikut berjuang melawan penjajah Belanda,’’ tukasnya filosofis.
Wa ba’du. Tujuan baik menjadi tidak baik bila dilakukan di tempat tidak baik. Apalagi juga dilakukan dengan cara tidak baik. Langkah Mbah Cip memopulerkan tarian gandrung sangat baik. Patut dipuji. Namun, mengenalkan gandrung lewat cara mengamen dianggap malah melecehkan tari sakral warisan suku Oseng.
Sejumlah seniman, terutama aktivis gandrung, merasa risih. Mereka mengatakan, marwah gandrung harus dijaga. Gandrung itu tarian terhormat. Makanya, tari gandrung ditetapkan sebagai tari pembuka acara seremonial pemerintahan. Sebagai tari penyambutan tamu-tamu kehormatan.
Tarian gandrung tempatnya bukan di pinggir jalan. Di dekat traffic light. Melainkan di panggung-panggung khusus. Di pendapa kabupaten, misalnya. Di acara-acara resmi. Kapan Mbah Cip layak dikasih kesempatan. Menari di panggung-panggung terhomat itu. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin