RITUAL itu datang lagi. Tepat setelah setahun berlalu. Lokasinya di perbatasan Jawa dan Bali. Tepatnya, di Selat Bali. Lebih presisi lagi: di Pelabuhan Penyeberangan PT ASDP Ketapang-Gilimanuk. Atau Gilimanuk-Ketapang. Terserah Anda. Enak yang mana menyebutnya. Yang pasti, sama-sama benar.
Ritualnya berupa penutupan pelabuhan. Selama 24 jam. Tidak boleh ada kapal beroperasi. Menyeberangkan penumpang. Terutama dari arah Banyuwangi ke Bali. Sebab, di seluruh wilayah Bali sedang ada kegiatan Hari Raya Nyepi. Hari Penyucian diri manusia dan alam.
Hari Raya Nyepi adalah perayaan atas tahun baru Saka dalam kalender Saka. Kalender yang dipakai umat Hindu sebagai acuan penanggalan. Saat Nyepi, umat Hindu di Bali melakukan Catur Brata Penyepian. Menahan hasrat keluar rumah, bekerja, dan menghidupkan perapian.
Maka, ketika Nyepi, Bali benar-benar sepi. Nyenyet. Ketika siang tidak ada orang lalu-lalang. Apalagi kendaraan. Ketika malam tak ada lampu yang menyala. Di mana pun. Rumah atau tempat yang lain. Semua padam.
Itu sebabnya, penyeberangan Ketapang-Gilimanuk ditutup. Supaya tidak mengganggu kekhusyukan umat Hindu yang sedang melakukan Catur Brata Penyepian. Kita tahu, Gilimanuk merupakan ujung paling barat Pulau Dewata. Catur Brata dilakukan umat Hindu Bali mulai dari pintu gerbang barat di Gilimanuk sampai Bali sampai gerbang timur, Padang Bai.
Tak seperti Nyepi sebelum-sebelumnya, perayaan Nyepi tahun 2025 ini terasa istimewa. Sebab, waktunya berbarengan dengan Ramadan. Yang menjadi perhatian besar adalah waktunya. Nyepi tahun ini berada di penghujung Ramadan. Di akhir Ramadan.
Semua tahu, di pekan terakhir Ramadan ada ritual tahunan yang melibatkan ratusan juta orang. Yakni, tradisi mudik. Pulang kampung massal. Umat Islam beramai-ramai pulang ke kampung halamannya. Merayakan Lebaran. Hari kemenangan.
Siapa pun orangnya selalu meramaikan tradisi mudik. Apa pun status sosialnya. Bersama keluarga besar, biasanya. Tak peduli berapa pun kilometer perjalanan yang ditempuh. Baik lewat udara, darat, bahkan laut. Yang penting bisa mudik. Bertemu keluarga di kampung. Terutama meminta maaf kepada kedua orang tua (kalau masih ada). Juga sanak famili.
Masing-masing orang bisa menentukan jadwal perjalanannya. Tergantung keluangan waktu yang dipunyai. Juga ngepas-kan jadwal libur kerja, biasanya. Tapi, belajar dari pengalaman, dari Lebaran ke Lebaran, pemerintah akhirnya bisa memastikan puncak arus mudik. Bahkan, lengkap dengan arus baliknya. Biasanya arus mudik ditetapkan pekan terakhir Ramadan. Dikenal dengan istilah (H-7). Sedangkan arus balik di pekan pertama Syawal. Dikenal dengan (H+7).
Sebutan itu dimaksudkan untuk mempermudah mengingatnya. Meski orang mudik, umumnya, tak terlalu memedulikan (di ”H” minus berapa) mereka melakukan perjalanan mudik. Tapi, sekali lagi, perilaku mudik masyarakat setelah diamati memiliki kesamaan. Mayoritas mereka mudik di antara H-7 hingga menjelang pelaksanaan salat Idul Fitri!
Kembali ke Nyepi. Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947 diperingati Sabtu, 29 Maret 2025. Atau, berbarengan dengan puncak arus mudik Lebaran. Barengnya Nyepi dan puncak arus mudik memaksa petugas terkait berpikir dan akan bekerja ekstra keras. Terutama terkait penutupan penyeberangan di Ketapang-Gilimanuk.
Asumsi yang dipakai acuan cukup sederhana. Lha wong penutupan pelabuhan saat Nyepi saja menimbulkan antrean lumayan lama, apalagi berbarengan dengan H-3 Lebaran (Muhammadiyah berlebaran 31 Maret). Dari asumsi itulah aparat membuat simulasi. Skema seperti apa yang akan dipakai saat pelabuhan penyeberangan ditutup.
Seperti sudah diumumkan berulang-ulang. Pelabuhan Ketapang akan menghentikan operasionalnya mulai Jumat (28/3), pukul 17.00 WIB atau 18.00 WITA hingga Minggu (30/) pukul 06.00 WIB atau 07.00 WITA. Sedangkan di Pelabuhan Gilimanuk, penutupan operasional pelayanan akan dimulai pada Sabtu (29/3) pukul 05.00 WIB atau 06.00 WITA hingga Minggu (30/3) pukul 05.00 WIB atau 06.00 WITA.
Ternyata pelabuhan ditutup tidak hanya sehari—seperti pada perayaan Nyepi-Nyepi sebelumnya, melainkan 2,5 hari. Jumat sore sampai Ahad pagi. Bila tidak diantisipasi, dampaknya akan serius. Akan terjadi penumpukan ribuan kendaraan yang akan menyeberang. Baik dari Banyuwangi ke Bali atau Bali ke Banyuwangi.
Di Banyuwangi sendiri petugas sudah menyiapkan empat buffer zone. Lokasinya berada di Grand Watudodol (GWD), Terminal Sritanjung, lapangan Bulusan, dan belakang Warung Ayu Bulusan. Empat buffer zone sudah dioperasikan sejak 24 Maret 2025. Tepatnya, sejak diberlakukan pembatasan kendaraan yang melintas di jalan raya.
Wa ba’du. Menunggu seharian di buffer zone sangat tidak mengenakkan. Apalagi, seharian atau bahkan dua hari menjelang pelabuhan penyeberangan dibuka kembali. Boring calon pengguna jasa penyeberangan itu justru menjadi rezeki bagi para asongan. Atau pemilik warung di sekitarnya. Mereka bisa berjualan kepada mereka. Terutama nasi kucing. Nasi bungkus khas Banyuwangi. Rasanya sangat nikmat. Terutama yang dibungkus pakai daun pisang.
Berkah dari ribuan pemudik atau wisatawan yang tidak bisa menyeberang ke Bali tidak hanya dinikmati para asongan. Seharusnya begitu. Para pengelola hotel dan atau homestay seharusnya bisa ketiban berkah juga. Rezeki nomplok. Modalnya hanya kejelian. Kejelian mencium ceruk keuntungan. Marketing hotel dan homestay seharusnya bergerilya. Baik di lapangan langsung maupun lewat aplikasi dan medsos.
Secara psikologis, orang akan memilih istirahat di penginapan daripada tidur atau bergadang berjam-jam (bahkan bisa seharian) di buffer zone dengan fasilitas seadanya. Lebih baik ”membuang” uang ekstra di penginapan. Istirahat sambil memantau kondisi antrean di penyeberangan. Bukankah perjalanan menuju Bali masih panjang. Ketika jalanan normal, perjalanan menuju Denpasar bisa memakan waktu 2,5–3,5 jam. Ditambah durasi menyeberang satu jam plus bongkar muat sekitar 35 menit. Saat musim arus balik tentu lebih lama perjalanannya. Karena kendaraan berjalan merayap di jalan yang padat. (*)
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin