PESIMISME itu hilang seketika. Bahkan, bukan saat babak final. Melainkan sejak beberapa hari sebelumnya. Tepatnya, saat proses penentuan finalis. Seleksi akhir menentukan the best ten. Memilih 10 peserta yang berhak lolos ke final. Dan, tampil langsung di hadapan dewan juri beserta penonton. Pada 11 Maret 2025. Di aula Rupatama Wira Pratama Polresta Banyuwangi.
Begitulah sekilas proses Lomba Da’i Cilik 2025. Lomba perdana itu digelar bersama Polresta Banyuwangi dan Jawa Pos Radar Banyuwangi. Juga menggandeng kantor Dinas Pendidikan dan kantor Kementerian Agama Banyuwangi.
Meski persiapannya mepet, ternyata antusiasme peserta luar biasa. Tercatat 500 lebih peserta mengirimkan video saat berceramah. Dengan durasi maksimal 7 menit. Untuk seleksi awal. Mereka merupakan siswa SD/MI dan SMP/MTs se-Kabupaten Banyuwangi.
Saking banyaknya peserta, dewan juri harus nglembur dua hari. Memutar satu per satu video peserta lewat layar LCD jumbo di ruang rapat khusus kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi. Tepat di samping ruangan saya. Sehingga saya bisa nguping dengan jelas suasana di dalam ruang rapat. Sangat dinamis. Sesekali terdengar perdebatan antara dewan juri.
Tapi perdebatannya sangat intelek. Maklum, dewan jurinya adalah praktisi. Da’i Bumi Blambangan asli. Dengan jam terbang lumayan tinggi. Selain ceramah dan khotbah di masjid-masjid Kota Gandrung Banyuwangi, mereka juga langganan ceramah di Pulau Dewata. Bahkan, menjadi penceramah di Mapolda Bali.
Mereka adalah Ustad Fauzan Anshori (kantor Kementerian Agama Banyuwangi), Ustad Ahmad Ridwan (kantor Dinas Pendidikan Banyuwangi), dan Ustad Abdul Halim (penerima anugerah SoJ/Sunrise of Java 2025 kategori Inspirator Guru Berwawasan Agama & Budaya) dari unsur Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Dua juri berikutnya dari unsur Polresta Banyuwangi. Yakni, Brigadir Muhtar Syafaat. Masih muda tapi punya wawasan keagamaan sekelas da’i. Satunya da’i Kamtibmas Polresta Kiai Iskandar Zulkarnain.
Dewan Juri tidak menyangka peserta Lomba Da’i Cilik (LDC) 2025 membludak. Maklum, event itu baru digelar. Kuantitas itu diikuti dengan kualitas. Pesertanya bagus-bagus. Mempersiapkan diri secara optimal. Bukan hanya persiapan materi. Tapi juga penampilannya. Gayanya sudah seperti da’i beneran. Bahkan, da’i kondang!
Maka tidak heran ketika tampil di babapk final, mereka panen tepuk tangan. Ratusan penonton yang memenuhi aula Rupatama Wira Pratama Polresta Banyuwangi dibuat terpesona. Gemuruh tepuk tangan selalu terdengar begitu finalis mengakhiri penampilannya. Bahkan, tepuk tangan beberapa kali pecah ketika ada finalis yang memancing penonton dengan joke-joke khas. Beberapa kali penonton dibuat berdecak kagum, saat ada finalis yang menampilkan keluasan wawasan.
Memang, di final 11 Maret 2025, 10 finalis tampil totalitas. Mengerahkan segala kemampuannya. Mengupas tema wawasan kebangsaan, bahaya narkoba, antiradikalisme, anti-perundungan (bullying), dan bahaya minuman keras (miras).
”Sepuluh finalis merupakan peserta terbaik dari yang baik. Sebab, dari 443 peserta yang lolos seleksi administrasi, 10 peserta inilah yang menjadi pilihan terbaik Dewan Juri,” ucap Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rama Samtama Putra memberi apresiasi.
Ditambahkan, ajang LDC merupakan bentuk perhatian Polresta Banyuwangi bersama Jawa Pos Radar Banyuwangi kepada generasi muda. Rama menegaskan, LDC bertujuan mencetak anak-anak berakhlak mulia. ”Kami tidak berhenti di sini. Nantinya, ketika ada ajang Lomba da’i Cilik tingkat Polda Jatim atau provinsi, sepuluh finalis ini bisa menjadi duta Polresta Banyuwangi,” ujarnya.
Kombes Rama benar. Sepuluh finalis memang punya talenta luar biasa. Mereka pun layak menyandang selempang duta dari Polresta Banyuwangi. Sejak final dan setahun ke depan, mereka akan selalu mengenakan selempang ”Duta Polresta Banyuwangi” sesuai tema yang dibawakannya saat lomba. Itu bukan selempang biasa. Kapolresta Rama sendiri yang mengalungkannya di leher mereka. Sesaat sebelum final LCD dimulai. Keren!
Pemenang harus diuji. Dikasih panggung yang lebih besar. Maka, 10 finalis itu kami uji. Mereka harus tampil di Pondok Ramadan Jawa Pos Radar Banyuwangi. Lokasinya berpindah-pindah. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Para finalis kami beri kesempatan ceramah di hadapan ratusan siswa. Para siswa SD dan SMP yang tidak mereka kenal.
Di luar dugaan. Para juara itu punya mental luar biasa. Sama sekali tidak grogi. Sangat percaya diri. Lancar ceramahnya. Fasih membaca ayat dan hadisnya. Komunikatif. Penampilannya menghipnotis ratusan siswa Pondok Ramadan. Suasana itu cukup menginspirasi. Ternyata, kesimpulan saya, ceramah dan kampanye tentang kebaikan kepada anak-anak, lebih efektif bila disampaikan oleh anak-anak seusia mereka. Dibanding disampaikan oleh orang dewasa. Guru maupun da’i.
Wa ba’du. Kapolresta Rama benar program da’i cilik harus sinambung. Istikamah. Para talenta da’i cilik harus terus digembleng. Agar penampilannya kian bagus. Materi ceramahnya makin kaya. Selain juga perlu menggelar event serupa untuk kalangan remaja. Siswa SMA sederajat.
Alhamdulillah, saat memimpin rapat perdana Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) di kantor PC NU Banyuwangi saya sampaikan satu ide: membuka madrasah da’i. Atau apalah namanya. Meski namanya madrasah misalnya, jangan membayangkan proses belajarnya seribet di sekolah formal. Cukup mengumpulkan anak-anak yang punya keinginan menjadi da’i di satu tempat. Tak harus di ruang indoor. Di tempat terbuka juga oke.
Yang penting kualitas pertemuannya. Pada setiap pertemuan dihadirkan beberapa da’i sebagai pengisi materi. Mereka bisa berbagi pengalaman tentang trik ceramah, memperkaya materi ceramah, adab saat ceramah, dlsb. Alhamdulillah, para juri LDC 2025 menyatakan siap menjadi pemateri.
Saya bilang ke pengurus LDNU yang lain, kita harus memikirkan regenerasi da’i. Lima sampai sepuluh tahun mendatang, tantangan dunia per-da’i-an pasti semakin kompleks. Saat itulah dibutuhkan da’i-da’i yang tidak hanya bisa tampil bagus. Melainkan juga cakap membawakan tema-tema sesuai perkembangan zamannya.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin