MEMBANGUN pariwisata gampang-gampang susah. Menjadi susah apabila tidak mau belajar. Enggan mempelajari teorinya. Asal membangun. Asal menjual. Gembar-gembor di dunia maya. Punya potensi wisata terbaik. Promosinya dipertebal dengan video singkat destinasi yang dimaksud.
Wisatawan terprovokasi. Penasaran. Berbondong-bondong datang. Menggendong seransel harapan: menikmati destinasi indah, nyaman, menawan, dan aman. Harapan segunung itu musnah seketika. Berbalik menjadi selaksa kekecewaan: ‘’Bagaimana bisa menikmati liburan di sini, kalau infrastrukturnya tidak bagus,’’ gerutu wisatawan.
Tentu, itu bukan gerutuan biasa. Itu gerutu seperti nila setitik merusak susu sepabrik. Gerutu itu bahaya. Selama jejaknya masih tertanam di dunia maya. Akan menjadi black campign berantai. Dan, pada akhirnya menjadi kuburan bertembok tebal.
Kecuali, bila segera dilakukan tiga hal secara bersamaan. Yoeti (2006) menyimpulkan, bahwa komponen-komponen penawaran pariwisata dikenal dengan istilah 3A (triple A's). Yakni, atraksi (obyek dan daya tarik wisata), aksesibilitas (kemudahan untuk mencapai obyek dan daya tarik wisata), dan amenitas (sarana dan prasarana wisata).
Memraktikkan senjata jenis triple A's itu sangat gampang. Kuncinya satu: harus ada kemauan keras. Dengan catatan, para pihak harus mau berjalan seiring setujun. Tidak boleh ada melipir atau tolah-toleh. Harus fokus. Menatap ke satu arah. Yakni, cita-cita bersama. Memajukan potensi wisata yang dimiliki.
Setelah lulus kitab triple A's dan hasilnya nyata, maka sangat gampang mengundang wisatawan. Dan, tidak perlu was-was lagi wisatawan yang datang akan kecewa. Sebaliknya, mereka akan merasa terpuaskan. Sebab, obyek wisatanya dikelola dengan dengan baik. Sangat mudah menuju obyek wisatanya. Ditambah kreativitas pengelolanya dengan suguhan-suguhan atraksi seni dan budaya.
Dalam pengembangan pariwisata paket triple A's itu teori dasar. Tapi, menjadi pondasi dalam membangun pariwisata. Tanpa triple A's, pembangunan dan pengembangan pariwisata suatu daerah atau negara tidak akan optimal. Bahkan, sangat mungkin berakhir dengan kegagalan besar!
Seperti bangunan rumah atau bahkan Gedung pencakar langit. Ketika pondasinya rapuh, bangunan di atasnya terancam roboh. Tidak harus menunggu gempa bumi dahsyat. Disenggol angin bingung kecil saja sudah limbung. Apalagi terimbas getaran roda truk molen penuh muatan semen curah.
Triple A's memang sudah cukup. Tapi, baru sebatas membuat pariwisata berjalan. Banyak wisatawan berkunjung. Tapi, angka kepuasan berwisatanya baru sampai pada level asal tahu. Belum pada level mengesankan. Mereka datang, menikmati obyek, lalu foto. Itu saja. Lalu pulang dengan perasaan happy. Tapi, bukan happy yang gimana gitu.
Sebab, sekali lagi, tidak ada yang mengesankan. Orang berkesan bila ia datang ke tempat yang memberinya pengalaman baru. Diajak terlibat langsung dalam kegiatan di destinasi, sehingga bisa merasakan secara langsung pengalaman baru. Benar-benar baru. Belum pernah dialami dan dilakukannya.
Kegiatan baru itu bisa berupa mengerjakan sesuatu. Atau, penjelasan tentang sesuatu yang baru. Yang tidak ada di tempat asalnya. Yang tidak pernah mendapatkan penjelasan sebelumnya. Penjelasan langsung dari ahlinya. Di tempat asal sesuatu tersebut.
Salah satu negara yang sudah sampai pada tahap itu adalah Korea Selatan (Korsel). Pengembangan pariwisata di Negeri Ginseng sudah menggunakan teori pemasaran triple something. Teori saya rasakan begitu kuat saat berkunjung ke Han-Guk (kependekan dari Dae Han Min Guk = Korea Selatan) akhir Januari 2025 kemarin.
Saya begitu terpesona saat mendatangi destinasi-destinasi alam unggulan seperti Elysian Ski Resort di Chuncheon, Provinsi Gangwon; Nami Island (lokasi syuting film-drama Winter Sonata); Gunung Sorak, Gangnam Style Statue, Cheonggyec heon Strem, dan Dongdaemun Fashion Tow. Juga ke Bukchon Hanok Village (Desa Tradisional Korsel), N’Seoul Tower, Masjid Raya Korsel di Itaewon, dan Myeongdong Street.
Semua destinasi itu dikelola dengan baik. Meski saya amati, tak banyak orang yang menangani dan melayani wisatawan. Namun, dengan sistem yang modern dan canggih, semua wisatawan terlayani dengan memuaskan. Mereka bekerja secara profesional. Saya bisa menghitung dengan cepat berapa jumlah tim pengelola di satu destinasi di Korsel. Karena petugasnya mengenakan identitas jelas. Selain pakaian seragam, mereka juga memakai identitas yang menggantung di lehernya.
Puas menikmati objek wisata alam, ganti ke wisata ilmu. Disebut begitu karena, saat berada di destinasi tersebut saya merasa mendapatkan ilmu baru. Saya menyebutnya sebagai destinasi something to learn. Sebab, ada sesuatu yang bisa saya pelajari. Sehingga dari yang sebelumnya tidak tahu, sekarang menjadi tahu.
Destinasi itu bernama National Ginseng Museum. Di museum ginseng itu saya bisa melihat secara langsung bentuk dan macam-macam gingseng. Selama ini saya tahunya gingseng hanya dalam bentuk gambar. Di museum nasional ginseng mata saya terbelalak, ternyata ada ginseng berukuran jumbo. Dan, bisa bentuknya (dibentuk?) menjadi berbagai rupa.
Pemandu museum menjelaskan secara detail. Bahwa ternyata, untuk mengetahui umur ginseng sangat mudah. Cukup melihat berapa lembar daunnya. Ginseng umur satu tahun daunnya hanya satu. Umur dua tahun berdaun dua. Begitu seterusnya. Sampai yang berdaun enam. Ginseng umur 6 tahun itulah yang terbaik. Tidak terlalu muda. Tidak pula terlalu tua.
Si pemandu juga menjelaskan fungsi dan khasiat ginseng. Sama seperti yang ada di sejumlah literasi. Tapi, penjelasan si pemandu lebih rasional. Sehingga, para wisatawan merasa yakin dan aman saat mengonsumsi ginseng. Terutama ginseng yang sudah dikemas dalam beberapa produk di museum ginseng.
Saat itulah, wisatawan mantab memasuki destinasi yang kedua. Yakni, something to buy. Membeli ginseng di negeri asal ginseng adalah kesempatan langka. Apalagi setelah mendapatkan penjelasan bahwa ginseng memang banyak khasiatnya, terutama untuk stamina dan detoksinasi. Wisatawan tak ragu membeli ginseng yang menjadi ikon Korsel di museum ginseng nasional. Selain untuk kebutuhan sendiri, juga sangat layak untuk oleh-oleh famili dan kolega—meski harganya terbilang lumayan mahal!
Selain something to learn, selama di Korsel saya juga mendatangi dua destinasi something to do. Yang pertama adalah sensasi mengenakan hanbok. Pakaian tradisional Korsel kuno. Pakaian yang dipakai para pembesar dinasti Joseon. Mengenakan pakaian keluarga kerajaan, saya keliling di lingkungan kerajaan yang sangat luas. Bersama wisatawan lainnya. Yang juga mengenakan busana raja, Menteri, permaisuri, putra mahkota, dll., menghadirkan sensasi tersendiri. Benar-benar pengalaman yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Apalagi, bisa mengabadikannya dalam bentuk foto kenangan.
Destinasi something to do kedua saya dapatkan di pabrik nori. Selama ini saya hanya bisa merasakan makan khas Korsel itu tanpa tahu cara membuatnya. Di pabriknya, saya tidak hanya tahu, tapi sekaligus langsung diajak membuatnya. Dalam sebuah ruangan khusus, puluhan wisatawan diminta berdiri di belakang meja yang ditata letter-U. Di meja itu sudah tersedia bahan. Mulai dari elemen voil untuk membungkus, nori (rumput laut yang dikeringkan menjadi lembaran tipis), nasi-ketan, dan kimchi. Lalu si pemandu yang asli Semarang memberi instruksi.
Pertama meletakkan lembaran nori di atas elemen voil, lalu sekepal nasi-ketan di-penyet-penyet hingga rata menempel di nori, setelahnya dimasukkan kimchi. Lalu digulung. Jadilah kimbap siap saji. Si pemandu meminta para wisatawan menyantap kimbap bikinannya sendiri. Enak.
Pabrik itu tidak menjual kimbap. Melainkan menjula nori berbagai rasa. Saat masuk, pengunjung disambut dengan mesin pembuatan nori. Mesin berjalan itu mengantraksikan mulai nori masih basah hingga menjadi lembaran-lembaran setipis kertas.
Wa ba’du. Di pabrik nori wisatawan mendapatkan rasa senang, rileks, dan bahkan bahagia. Mereka pun membeli nori dalam berbagai rasa. Dan ingin buru-buru pulang ke negaranya. Ingin segera membuat kimbap sendiri. Seperti yang dilakukannya saat di Korsel. Kalau ingin destinasi something to lear, something to do, and something to bay di Banyuwangi kira-kira di mana ya….
*) Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin