‘’KOK sepi ya?’’
Komentar berbau pertanyaan itu telontar dari mulut sebagian penonton. Tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Saat mereka menonton pertandingan the new Persewangi. Komentar yang sama diucapkan Julisetyo Puji Rahayu. Saat menonton pertandingan Persewangi versus Persebo 1964, pada 24 Januari 2025 lalu. ‘’Kok tribunnya kosong,’’ katanya.
Dari pengumuman announcer pertandingan yang saya dengar dari tribun VVIP, pertandingan Persewangi lawan Persebo 1964 ditonton ‘’hanya’’ 900 sekian penonton. Saat laga big match Persewangi menghadapi musuh bebuyutan Persid Jember, tiket terjualnya juga minimalis. Hanya 1000 lembar lebih sedikit.
Fenomena itu kontras dengan ketika kejayaan Persewangi. Saat itu, setiap The Lasblang bertanding, tak ada tempat kosong di tribun. Baik tribun timur, selatan dan barat. Belasan ribu penonton berjubel. Meluber sampai pagar lapangan bawah.
Kenapa Persewangi baru belum mampu menjadi magnit pencinta bola Banyuwangi. Padahal, manajemennya saat ini lebih profesional. Termasuk model penjualan tiketnya. Sekarang, calon penonton tidak perlu antre lama di depan loket tiket stadion. Mereka bisa membeli secara online. Kondisi ticketing itu selebas dua belas dengan jersey Persewangi. Masih sangat sedikit penonton di lapangan berseragam tim Persewangi. Apalagi masyarakat umum. Baru pengurus, panitia, dan pihak tertentu yang mengenakan jersey Persewangi.
Secara teori, masih butuh waktu lama bagi Persewangi bisa mendatangkan belasan ribu penonton. Seperti yang dilakukan tim manajemen Persewangi di era jaya-jayanya dulu. Yakni, rajin melakukan pertandingan di sejumlah kecamatan. Yang punya lapangan sepak bola tentunya. Melawan klub setempat. Uji coba itu tidak dimaksudkan untuk mencari menang. Melainkan refreshing bagi pemain sekaligus mendekatkan tim kepada masyarakat.
Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah ‘’menciptakan’’ pemain idola. Terutama pemain lokal. Persewangi harus melahirkan Raul baru. Rony Nurdiansyah baru. Trubus baru. Marjuki ‘’Boros’’ baru. Hari Fiandoyo baru. Kasubhan. Rofiq. Mahsun. Dan, kiper Samsul Arifin. Juga pemain non-lokal sekelas Tutug Widodo (penyerang), Kasiadi (belakang), Yanuar (kiper), Rifa’. Dll.
Mereka pemain ikonik. Punya banyak fans. Belasan ribu jumlahnya. Dari Wongsorejo sampai Kalibaru. Mereka sangat militan. Selalu setia datang ke stadion Diponegoro. Naik truk, mobil pribadi, hingga ribuan motor. Terobosan Persewangi lama menghadirkan pelatih berkelas Rusdy bahalwan juga menjadi kunci Persewangi dicintai oleh masyarakat Bumi Blambangan.
Pemain dan pelatih berkualitas itu penting. Apalagi Persewangi baru sedang menuju sepakbola industri. Pemain ke-12 sangat menentukan dalam sepakbola industri. Kapitalisasi tim tak akan sukses tanpa peran serta penonton. Penonton yang loyal.
Manajemen Persewangi baru bisa belajar dari fenomena Mega Hit yang sedang melanda Korea Selatan. Mega hit tidak lahir dari atlet Korsel. Melainkan dari pebolavoli Indonesia Megawati Hangestri Pertiwi. Pemain voli asal Jember, Jatim, itu tampil hebat di V-League (Liga Bolavoli Korsel). Kehebatannya melebihi pemain lokal dan pemain asing di V-League. Mega tampil hebat sejak main di musim pertamanya tahun lalu. Hingga musim kedua bersama Daejeon CheongkwanJang Red Sparks tahun ini.
Mega kian moncer. popularitasnya di Korsel terus meroket. Bukan hanya di mata PMI (Pekerja Migran Indonesia). Tapi warga Korsel kini juga memujanya sebagai Dewi Voli Korsel.
Padahal, pengamat voli lokal dan media Korsel sempat meragukan kualitas Mega. Mereka tak yakin pemain asal Jember itu mampu bersaing di V-League. Ada beberapa alasan: Mega berhijab. Dia bukan berasal dari negara dengan tradisi kuat di pentas bolavoli internasional. Posisi main Mega opposite—posisi yang menjadi ‘’jatah’’ pemain kuota non-Asia. Bahkan, sebelumnya, klub-klub Korsel lebih suka merekrtut pemain dari Thailand untuk mengisi kuota Asianya.
Hanya ada satu cara menjawab keraguan. Yakni unjuk prestasi! Itu dilakukan oleh Mega. Dia bermain bagus. Bahkan permainnya semakin bagus. Dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Dia langsung menyandang MPV pada putaran pertama V-League tahun pertamanya. Rontoklah keraguan atas dirinya.
Seketika terjadi demam Mega. Mega hit melanda volimania di Korsel. Banyak orang yang awalnya tak suka olahraga voli, kini mulai rajin datang ke Chungmu Gymnasium Daejon. Markas Red Sparks. Untuk menyaksikan langsung aksi Mega dkk.
Mega fit juga menumbuhkan rasa kebersamaan PMI di Korsel. Mereka selalu hadir di venue yang terjangkau. Menonton Red Sparks bertanding. Terutama pertandingan saat week end. Banyak PMI berangkat sehari sebelum pertandingan. Mereka nginap di rumah teman. Atau, bahkan, di-rewangi tidur di masjid sekitar venue pertandingan.
Mega terus tampil gacor. Beberapa kali meraih MVP (pemain terbaik) selama putaran ketiga V-League. Setiap usai pertandingan media besar Korsel memburu pemain bergaji Rp2,5 miliar/tahun itu. Yakni KBSN dan SBS Sports. Minta waktu khusus wawancarai Mega.
Kehadiran Mega membawa berkah besar bagi klubnya. Pada musim pertamanya tahun lalu, Mega mengatrol konten dan medsos Red Sparks. Melonjak drastis jumlah follower. Hasil penjualan merchandises klub juga meningkat tajam. Jersey nomor 8 milik Mega laris manis. Paling banyak diburu fans Red Sparks. Harus inden sebulan untuk mendapatkannya. Meski harganya lumayan mahal. Satu jersey Mega dijual 53 ribu won (sekitar Rp600 ribu).
Setali tiga uang. Di Indonesia terjadi demam Shin Tae-yong. STY hit. Sama seperti Mega, awal menangani timnas sepakbola Indonesia, STY sempat diragukan oleh fans dan pengamat bola Indonesia. Namun, pelatih asal Korsel itu mampu menjawab keraguan tersebut.
STY yang melatih sejak November 2020 berhasil membawa timnas Indonesia U20 lolos ke Piala Asia U20 2023 untuk kali pertama dalam sembilan tahun terakhir. Timnas Indonesia lolos ke babak 16 Besar Piala Asia 2023. Prestasi itu merupakan yang pertama sepanjang sejarah sepakbola Indonesia. Timnas U23 yang baru pertama mengikuti Piala Asia pada 2024 langsung menempari peringkat keempat. Timnas Indonesia lolos ke Piala Asia 2027 secara beruntun sejak 2023.
Prestasi STY yang lain adalah mendongkrak rangking FIFA timnas senior Indonesia. Dari ranking 173 menjadi 125. Naik 48! Yang spektakuler, STY membawa timnas Garuda lolos putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Prestasi pertama dalam sejarah sepakbola tanah air. Indonesia pun menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Mengungguli Vietnam dan Thailand. Yang punya ranking FIFA lebih tinggi dari Indonesia.
Torehan prestasi itu melahirkan STY hit. STY jadi idola pencinta sepakbola Indoensia. Namanya selalu dielukan para suporter sestadion yang menyaksikan lpertandingan timnas. Sayang, PSSI tanpa alasan jelas tiba-tiba memecatnya di tengah jalan. Menggantinya dengan pelatih nirprestasi dari Belanda Patrick Kluivert. Ampun deh.
Wa ba’du. Kita tunggu. Kapan Mega hit atau STY hit hadir di Persewangi. Tapi melihat sekuad Persewangi saat ini, rasanya kok pesimis dalam waktu dekat akan muncul fenomena ke-hit-an dalam Persewangi. Kecuali menghadirkan darah segar. Entah pemain ataupun pelatihnya. (*)
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin