ASA itu mulai bersemi kembali. Meski baru secercah. Yakni, harapan akan bangkitnya sepak bola Banyuwangi. Bersama Persewangi. Persewangi baru, lebih tepatnya.
Harapan itu merekah seiring hadirnya PT Persewangi Banyuwangi Laskar Blambangan (PBLB). PBLB resmi menjadi pemilik klub Persewangi setelah membelinya dari pemilik lama. Prosesnya berlangsung beberapa waktu silam. Pemilik baru langsung membentuk pengurus baru. Tak menyisakan pengurus dari manajemen lama. Tak satu pun!
Manajemen Persewangi baru lebih profesional. Itu terlihat dari postur organisasinya. Yang dipimpin langsung oleh seorang presiden klub. Seperti halnya klub-klub sepak bola profesional Indonesia lainnya. Terutama klub Liga 1. Misalnya, sekadar contoh, klub Persebaya Surabaya, Arema FC, dan Persib Bandung.
Presiden Persewangi bernama Handoko. Ia sekaligus owner. Sosok pemilik PT PBLB bukan orang biasa. Melainkan seorang profesional muda. Putra asli Banyuwangi. Yang sukses di Jakarta. Kiprahnya di percaturan politik Indonesia tercatat sebagai Sekjen DPP Projo (relawan Pro-Jokowi).
Di tangan Handoko, Persewangi mulai tumbuh menjadi tim profesional. Meski kompetisi yang sedang diarunginya merupakan kasta terendah sepak bola Indonesia. Yakni Liga 4!
Meski berada di kasta liga amatir, Handoko menyiapkan Persewangi seperti klub papan atas. Ia menyiapkan timnya yang sedang mengarungi putaran II Grup AA Liga 4 Indonesia dengan serius. Yakni, membentuk tim lebih awal. Tepatnya, tiga bulan sebelum kompetisi resmi dimulai.
Langkahnya itu seolah menabrak tradisi. Biasanya, tim Liga 4 minder. Seperti pasukan yang kalah sebelum bertempur. Keminderan itu membuat persiapan tim dibuat apa adanya. Pembentukan tim tidak dilakukan tiga bulan sebelum kompetisi. Melainkan (cukup) beberapa pekan sebelum kompetisi diputar. Bahkan, ketika manager meeting (pertemuan para manajer) timnya masih pincang. Pemainnya belum lengkap. Masih sibuk mencari pemain. Ada juga yang masih belum punya pelatih definitif.
Alasannya sangat klasik. Karena subsidi dana dari penyelenggara kompetisi (PSSI: asprov dan sponsor) cekak. Donatur pun tidak banyak memberi bantuan. Maka, wajar jika hampir semua tim Divisi 4 tidak bisa menyiapkan timnya jauh-jauh haru sebelum kompetisi resmi dimulai.
Mereka memilih jalan aman. Yakni, mengontrak pemain per pertandingan. Pemain dibayar setiap selesai main. Jika dalam satu putaran di satu grup dengan empat tim, maka para pemain dikontrak untuk bermain tiga kali. Jika lolos ke putaran berikutnya, dikontrak lagi. Persis manajemen tarkaman. Tapi, mereka tidak mau disebut tarkam. Tetap minta disebut pemain di kompetisi Liga 4.
Banyak pemain di tim dalam manajemen tarkam yang tidak mau diajak bermain lagi. Alasannya macam-macam. Seperti dikontrak tim lain dengan harga lebih mahal. Atau, yang ini, bayaran selama bermain di putaran sebelumnya dilunasi. Ada juga yang minta bayarannya dinaikkan. Terpaksa, manajer tim mencari pemain baru sebagai penggantinya. Maka, jangan heran jika di putaran selanjutnya, kita melihat pemain sebuah tim berbeda dengan di putaran sebelumnya.
Di Persewangi baru tidak seperti itu. Handoko lebih dulu mengontrak pelatih. Bukan pelatih kaleng-kaleng. Melainkan pelatih berpengalaman. Pernah menukangi dan mengantarkan PSM Makassar beranjak dari keterpurukan. Yakni Syamsudin Batola. Benar saja. Legenda PSM Makassar itu menjadi magnet. Menarik banyak pemain top bergabung ke Persewangi. Salah satunya, mantan pemain timnas U-19 Maldini Pali.
Persiapan tim itu dilakukan selama tiga bulan. Sejak itu pula pemain dikontrak. Hingga kompetisi selesai. Tepatnya, selama perjalanan Persewangi mengarungi kompetisi Divisi 4. Misal, andai berlanjut sampai ke final, maka pemain akan menerima gaji sampai final. Itu sebabnya, pemain Persewangi tetap utuh. Sampai sekarang. Pemain happy. Gembira saat berlatih. Kompak saat bermain.
Lalu dari mana Handoko mendapatkan dana untuk membiayai timnya. Subsidi dari penyelenggara kompetisi jelas tidak bisa diandalkan. Jauh dari kata cukup. Untuk mengarungi kompetisi yang panjang. Dari bantuan pemkabkah? Salah. Handoko yang seorang profesional dengan tegas menolak dikaitkan dengan pemkab. ”Bahkan saya pesan kepada semua pengurus, jangan sampai menggantungkan bantuan dari pemkab. Seperti yang banyak dilakukan oleh tim Divisi 4,” katanya saat ngobrol santai bareng saya.
Lalu, naluri jiwa pengusaha Handoko muncul: ”Sepak bola itu industri. Banyak peluang bisa diambil dari sepak bola yang dikelola secara industri. Bisa menarik banyak investor dan sponsor,” tandasnya, seraya menyambung, kuncinya adalah bagaimana cara meyakinkan kepada para investor dan juga sponsor.
Investor dan sponsor akan melirik ketika manajemen Persewangi dijalankan secara profesional. Lalu prestasinya. Dengan prestasi yang bagus brand Persewangi otomatis akan naik. Di saat itulah, apa pun yang dilakukan oleh manajemen Persewangi akan menarik banyak pihak. Timnya makin dicintai rakyat Bumi Blambangan. Makin banyak penonton datang ke stadion. Menyaksikan secara langsung pertandingan tim kebanggaannya.
Kebanggaan itu akan menular ke bisnis yang lain. Seperti jersey tim dan pemain. Para suporter akan berebut mengoleksi kaus pemain Persewangi. Bangga mengenakannya. Saat berada di mana pun. Itu tidak mustahil.
Persewangi pernah memiliki puluhan ribu suporter fanatik. Mereka selalu memadati tribun stadion Diponegoro Banyuwangi. Tidak ada kursi kosong. Bahkan, penonton sampai meluber ke pagar dalam stadion. Berdesak-desakan. Dalam suasana seperti itu, kaus Persewangi laris manis. Aksesorinya tak kalah laris.
Wa ba’du. Kebetulan saya berada di dalam masa keemasan Persewangi itu. Bertiga bersama Iwan Rudiyanto (manajer Persewangi) dan Bambang Wahyudi (pejabat pemkab), saya berjibaku mengantarkan Persewangi hingga puncak prestasi. Hanya tinggal selangkah lagi promosi ke Divisi Utama. Jika tidak dikalahkan Persekapas Pasuruan pada perempat final Divisi 2 di stadion Deltras Sidoarjo, Persewangi sudah promosi dan bermain di kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia yang kini bernama Liga 1.
Meski masih panjang kompetisi yang harus dilalui (Divisi 4—Divisi3—Divisi2—Divisi 1), saya yakin dengan manajemen yang profesional, Handoko bisa membawa Persewangi sampai ke Divisi 1. Amin. (*)
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin