KESEMPURNAAN Stasiun Banyuwangi Kota tinggal selangkah lagi. Apa itu?
Sabar. Langkah pemungkas itu silakan baca di akhir tulisan saja ya. Hehehe….
Pastinya, dua langkah sudah dilaksanakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional 9 Jember—wilayah kerjanya sampai Banyuwangi. Langkah-langkah itu penting diketahui khalayak. Darinyalah sejarah Stasiun Banyuwangi Kota mulai terukir.
Langkah pertama terkait pergantian nama. Sebelumnya, stasiun di jantung kota Bumi Blambangan itu bernama Stasiun Karangasem. Berkode KNE. Nama itu merujuk pada lokasi stasiunnya. Terletak di lingkungan Karangasem. Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Nama stasiun Karangasem dinilai ”menyesatkan” penumpang. Terutama penumpang yang hendak turun di stasiun terdekat dengan kota Banyuwangi. Mereka sering bablas sampai Stasiun Banyuwangi Baru (BW). Itu bisa dimaklumi. Sebab, Karangasem terdengar sama sekali tidak kota. Dan, faktanya, Karangasem memang hanya nama sebuah lingkungan di Kelurahan Bakungan.
Penamaan Stasiun Karangasem tidak salah. Toponimi merupakan bagian dari tradisi lama. Di lingkungan PT KAI. Sejak dulu, nama-nama stasiun selalu merujuk ke lokasi yang ditempatinya. Sebut saja, sekadar contoh, Stasiun Argopuro, Stasiun Temuguruh, Stasiun Rogojampi, Stasiun Kali Setail, Stasiun Glenmore, dan Stasiun Kalibaru. Hingga kini, nama-nama stasiun itu masih abadi. Tetap dipertahankan. Sebab, memang tidak menimbulkan masalah. Tidak membingungkan penumpang kereta api.
Berbeda dengan Stasiun Karangasem. Yang sudah memakan banyak ”korban”. Salah turun. Alias kebablasan. Sampai Stasiun Ketapang. Kenapa bisa begitu? Karena sebelumnya, Stasiun Ketapang (KTG) bernama Stasiun Banyuwangi Baru (BW). Penumpang menganggap, Stasiun BW berada di tengah Kota Gandrung. Sesuai namanya.
Agar tidak membingungkan, PT KAI pun melakukan penggantian nama. Stasiun Karangasem (KNE) diganti menjadi Stasiun Banyuwangi Kota (BWI). Sementara Stasiun Banyuwangi Baru (BW) dikembalikan ke nama lokasi stasiunnya. Yakni Stasiun Ketapang (KTG).
Tujuannya, mungkin, agar tidak ada kemiripan nama. Antara stasiun Banyuwangi Kota dan Banyuwangi Baru. Sehingga, penumpang yang hendak ke Banyuwangi tidak ragu untuk memilih tujuan akhir perjalanannya di Stasiun Banyuwangi Kota. Sebaliknya, penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke Bali turunnya ya di Ketapang. Sebab, penyeberangan feri ke Gilimanuk berada di Ketapang.
Melihat dan mendengar langsung keluhan banyak penumpang yang bablas sampai Ketapang, pada 2019 saya sampaikan usul ke Pemkab Banyuwangi. Dan, Bupati Abdullah Azwar Anas ketika itu merespons dengan cepat. Segera berkirim surat ke PT KAI. ”Bupati Banyuwangi mengirimkan surat kepada kami, dan usulan tersebut kami terima dengan penggantian nama Stasiun Karangasem menjadi Banyuwangi Kota,” kata Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo saat meresmikan penataan stasiun Banyuwangi Kota (3/1).
Disetujui! Stasiun Karangsem berganti nama stasiun Banyuwangi Kota. Sejak itu, tidak ada lagi cerita penumpang salah turun. Stasiun Banyuwangi Kota bertambah ramai.
Peningkatan penumpang menjadi ”masalah” baru. Stasiun Banyuwangi Kota pun terasa sesak. Tak lagi memadai. Apalagi kondisi stasiunnya. Terlalu jadul. Kurang mencerminkan sebagai stasiun yang berada di kota yang sedang maju.
Alhamdulillah, PT KAI tanggap sasmita. Sebagai langkah kedua, tidak hanya memperluas dan menata kembali. Tapi juga sekaligus memodernkan Stasiun Banyuwangi Kota. Proyeknya dikerjakan sejak pertengahan 2024. Diresmikan pada 3 Januari 2025. Ngebut, memang. Tapi, tak sampai mengurangi kualitas bangunannya. Apalagi nilai estetiknya.
Seperti bangunan-bangunan ikonik baru di kota the Sunrise of Java lainnya, Stasiun Banyuwangi Kota juga menjadi etalase budaya Banyuwangi. Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo menjelaskan, arsitektur bangunan baru Stasiun Banyuwangi Kota mengusung konsep etnik vernakular (ethnic vernacular). Vernakular berasal dari bahasa Latin: vernaculus. Artinya lokal, domestik, atau asli pribumi. Maka, di Stasiun Banyuwangi Kota yang etnik vernakular terasa sekali ekspresi budaya etnis Banyuwangi. Terutama bentuk atapnya yang khas Banyuwangi. Yakni atap rumah adat Osing. Juga ada ornamen batik Gajah Oling di bagian pilarnya. Pokoknya, terasa Banyuwangi banget. Penumpang, siapa pun orangnya, akan langsung tersadar kalau ia sedang berada di kota budaya Banyuwangi.
Saya meyakini nama adalah doa. Sama seperti tagline the Sunrise of Java yang saya buat untuk Banyuwangi, dan terbukti membuat daerah di ujung paling timur Jawa Timur ini menginspirasi Indonesia dengan kemajuannya yang pesat, nama Stasiun Banyuwangi Kota juga membawa berkah berlimpah. Pada 2024, okupansi penumpang di Stasiun Banyuwangi Kota dan Ketapang tumbuh 7 persen. Total penumpang mencapai 842 ribu orang. ”Bahkan, jumlah penumpang KA Blambangan Ekspres relasi Banyuwangi–Jakarta tumbuh 160 persen,” tandas Didik Hartantyo.
Sampailah kita pada langkah ketiga. Langkah pemungkas ini menjadi penyempurna dua langka sebelumnya. Alias tanpa langkah terakhir, Stasiun Banyuwangi Kota sebenarnya tetap bagus. Indah. Kental nuansa etniknya. Tapi, penumpang tidak ujug-ujug berada di dalam lingkungan stasiun, bukan.
Nah, wa ba’du, satu hal yang masih mengganjal bagi penumpang adalah akses menuju Stasiun Banyuwangi Kota. Pembenahan dan penataan di lingkungan stasiunnya sudah sangat bagus. Fasilitas parkirnya sudah bertambah luas. Fasilitas ruang tunggunya oke. Manajemen akses kedatangan dan keberangkatan penumpang juga sudah tertata. Tak terjadi lagi penyumbatan akses akibat penumpukan penumpang. Juga area parkir menginap kendaraan penumpang. Kini sudah tersedia.
Masalahnya tinggal akses menuju dan dari stasiun Banyuwangi Kota. Jalannya masih sempit. Maklum kan dulu hanya jalan lingkungan. Bukan jalan desa. Apalagi jalan kabupaten dan provinsi. Sudah saatnya akses jalan menuju Stasiun Banyuwangi Kota diperlebar. Apalagi panjangnya hanya sekitar 1,5–2 kilometer dari jalan besar. Jalan besar tepat di pertigaan Jembatan Sasak Perot itu merupakan akses utama menuju Kecamatan Glagah dan Licin. Dua kecamatan yang dilintasi para pengunjung Kawah Ijen.
Tentu, pelebaran jalan itu bukan wewenang PT KAI. Tapi, ada baiknya bila giliran PT KAI berkirim surat ke Pemkab Banyuwangi, mengusulkan pelebaran jalan itu. Lalu pemkab melanjutkannya ke Dinas Perhubungan Provinsi dan juga Kementerian Perhubungan. Secara khusus meminta kelas jalan menuju Stasiun Banyuwangi Kota. Alangkah sempurnanya jika hal itu terwujud. Lengkap sudah aksesibilitas berkualitas masuk ke Banyuwangi: stasiun, terminal, penyeberangan, dan bandara. (*)
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin