Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Minus Antusiasme

Samsudin Adlawi • Rabu, 4 Desember 2024 | 16:09 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

PILKADA serempak 2024 sejatinya merupakan pesta demokrasi lokal. Karena rakyat berkesempatan memilih gubernur dan bupati/wali kotanya. Sebagian besar kandidat dekat dengan rakyat. Meski pencalonan mereka masih ada cawe-cawe dari pusat (baca: ketua umum parpol).

Namun, fakta berkata lain. Fakta tak selalu tegak lurus dengan prediksi. Harapan KPU sebagai penyelenggara pilkada mbeleset. Tingkat partisipasi pemilih tidak sampai 80 persen. Bahkan, di banyak daerah partisipasi pemilihnya di kisaran 50 persen lebih sedikit.

Di Jakarta, misalnya. Hasil hitung cepat mencatat tingkat partisipasi pemilih hanya mencapai 57,9 persen. Padahal, angka partisipasi pemilih di pileg/pilpres 2024 mencapai 78,3 persen. Begitu pula di pilkada Jakarta 2017, angka partisipasi pemilihnya masih di sekitar 78 persen. Pilkada Jakarta 2024 pun tercatat dalam sejarah sebagai pilkada paling minim partisipasi publiknya.

Fenomena yang sama juga terbaca di Banyuwangi. Angka partisipasi pemilih di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu juga nyungsep. Berdasar rilis hasil hitung cepat salah satu lembaga survei, partisipasi pemilih di pilkada Bumi Blambangan mencapai 57,9 persen!

Meski tinggi angka golput tidak berpengaruh pada hasil, tetap saja harus mendapatkan perhatian serius. Angkanya cukup tinggi. Yakni 42,1 persen. Sekadar informasi, dari hasil hitung cepat LSI Deny JA pasangan Ipuk Fiestiandani-Mujiono memperoleh suara 52,4 persen. Sedangkan seterunya Ali Makki Zaini-Ali Ruchi memperoleh 47,6 persen.

Para pengamat politik pemilu kini sedang sibuk. Sesibuk stasiun televisi. Yang terus menyuguhkan program khusus membahas hasil pilkada. Sejak sehari pascacoblosan pada 27 November 2024 hingga sekarang. Para pengamat saling mengutarakan analisisnya. Sesuai versinya masing-masing. Ada yang ilmiah, semi-ilmiah, dan gothak-gathuk mathuk.  

Para para pakar juga ”turun gunung”. Termasuk pakar luar negeri. Ikut nimbrung. Urun analisis. Salah satu mata pisau analisis mereka pada pilkada serentak Indonesia 2024 menemukan gejala voter fatigue. Kelelahan pemilih. ”Virus” itu menyebabkan pemilih merasa amat jenuh dan lelah dengan pemilu.

Seperti kita ketahui, pada tahun 2024 ada dua kali pemilu. Sebelum pilkada serentak yang baru terselenggara (27 November), rakyat sudah disibukkan dengan pilpres dan pileg. Pemilu memilih presiden dan anggota legislatif itu benar-benar menguras energi dan pikiran.

Selama berbulan-bulan isu pilpres dan pileg membekap pikiran dan perasaan rakyat. Sejak sebelum hingga setelah coblosan ketegangan masih terasa di tengah masyarakat. Terutama efek pilpres. Rakyat terbelah menjadi tiga kubu: pendukung setia Prabowo-Gibran, Anies-Muhaimin, dan Ganjar-Mahfud. Hingga kini, bekasnya masih terasa. Meski mulai berkurang.

Dalam dua pemilu itu, ada total tujuh surat suara yang harus dicoblos oleh pemilih. Yakni nyoblos presiden, DPR RI, DPD, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, gubernur, dan bupati/wali kota. Bahkan, di beberapa kabupaten rakyat masih harus nyoblos dalam pilkades. 

Bahkan, kalau diingat-ingat, otak masyarakat sudah dijejali informasi pemilu sejak dua tahun mutakhir. Mari kita tarik ingatan ke belakang sejenak. Sejak 2023 mata masyarakat dipaksa memelototi baliho pemilu. Baliho dengan gambar kandidat itu bertebaran di mana-mana. Mulai di kota sampai desa. Mulai tanah lapang hingga pinggir hutan.

Tidak berhenti di situ. Para kandidat juga menyerbu media sosial. Mereka mengerahkan tim buzzer. Dengan tugas khusus: melakukan perang konten. Saling serang di medsos. Seraya menabur ranjau-ranjau hoaks. Dampaknya sangat serius. Publik mengalami lelah berat. Jenuh. Bahkan, ada yang sampai marah-marah. Dari mulutnya meletup sumpah serapah: heng katik nyoblos-nyoblosan uwis. Mbededek.

Wa ba’du. Banyaknya pemilih yang tidak bertandang ke TPS perlu dikaji mendalam. Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak datang ke TPS. Sebab, pemerintah sudah menetapkan tanggal 27 November 2024 sebagai libur nasional. Memberi kesempatan para pegawai dan pekerja untuk nyoblos.

Yang repot memang pekerja informal. Seperti petani dan nelayan, misalnya. Mereka tidak terikat oleh hari libur pemerintah. Alias tidak mengenal tanggal merah. Kecuali tanggal libur versinya sendiri. Tapi, jumlah mereka kan tidak begitu banyak.

Lalu, kira-kira, apa penyebab pemilih tidak datang ke TPS—selain yang terjangkit voter fatigue. Bisa ada dua kemungkinan. Pertama, sebagian pemilih merasa tidak perlu pergi ke TPS karena yakin calon pilihan pasti menang. Perasaan semacam itu umumnya dirasakan oleh pemilih yang terafiliasi ke calon petahana.

Kemungkinan kedua adalah kebalikannya. Ada oknum dari salah satu tim khusus paslon yang sengaja mengembuskan isu, ”Gak usah datang ke TPS. Calon Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sudah pasti menang. Gak usah susah-susah ke TPS nggih. Percaya ke kami, calon Bapak dan Ibu dijamin menang. Karena suaranya sangat kuat”.

Lalu yang benar yang mana. Butuh penyelidikan khusus. Pastinya, paslon pemenang dan yang kalah harus bersyukur. Paslon pemenang bersyukur karena mendapat kepercayaan dan amanat dari rakyat untuk memimpin lima tahun ke depan. Bagi yang kalah syukurnya harus lebih kenceng, karena masih disayang oleh Tuhan. Perolehan suara pemilih yang lebih sedikit dari suara kompetitornya merupakan sebuah peringatan. Bahwa si paslon tersebut belum layak menerima amanat dari rakyat. Sebab, suara rakyat adalah suara Tuhan. 

Alhamdulillah, rasa syukur seperti itu dipraktikkan oleh Karna Suswandi. Paslon petahana pilbup Situbondo itu langsung memberi ucapan selamat kepada lawannya, Yusuf Rio Wahyu Prayogo. Ucapan selamat itu disampaikan Bung Karna sesaat setelah mengetahui pengumuman hasil hitung cepat. Tidak sampai menunggu pengumuman resmi dari KPU. Kebesaran hati Bung Karna patut diapresiasi. Sebab, versi hitung cepat Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang berpasangan dengan Ulfiyah hanya unggul sekitar 3,6 persen. Bung Karna telah mengamalkan slogan pemilu ”Siap Menang dan Siap Kalah”. Semoga kebesaran hati Bung Karna menginspirasi para paslon di daerah yang lain. Amin.

*) Pekolom Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin
#situbondo #pilkada #Parpol #bung karna #man nahnu #banyuwangi #samsudin adlawi