ASMOPSS ke-14 membawa berkah besar. Bagi Banyuwangi. Berkah itu berupa sukses ganda. Sukses sebagai tuan rumah. Sekaligus panen medali. Lima medali dipersembahkan oleh pelajar tuan rumah. Mereka bersaing ketat dengan 136 peserta dari beberapa negara di Asia.
ASMOPSS bukan event kaleng-kaleng. Tapi lomba kelas Asia. ASMOPSS ialah Asian Science & Mathematics Olympiad for Primary & Secondary Schools. Olimpiade Matematika dan Sains Asia untuk siswa SD dan SMP.
Kota The Sunrise of Java patut bangga. Dipercaya menjadi tuan rumah ASMOPSS ke-14. Dan, menyelenggarakannya dengan baik. Mulai 11 – 16 November 2024. Rasa bangga itu menjadi berlipat ganda.
Tersebab, pelajar Banyuwangi tidak hanya jadi penggembira. Mereka mampu bersaing dengan peserta dari 11 negara: Malaysia, Thailand, Vietnam, Philipina, Hongkong, Kamboja, Saudi Arabia, Tajikistan, Pakistan, Taiwan, dan Kazakhtan. Bahkan, bisa menjadi juara.
Total ada 12 pelajar Banyuwangi di ASMOPSS ke-14. Mereka tergabung dalam tim nasional Indonesia. Lima dari siswa pilihan itu berhasil menyabet medali. Mulai emas, perak, dan perunggu. Komplit. Luar biasa! Mereka menyabet medali untuk matematika ASMOPSS ke-14.
Apresiasi tinggi patut diberikan kepada Andrew Carnegei Tan. Siswa kelas 3 SMPK Santo Yusuf Banyuwangi. Ia menjadi satu-satunya wakil Banyuwangi. Yang berhasil merebut medali emas (Gold Medalist) untuk matematika tingkat SMP (Secondary School).
Masih di lomba matematika tingkat SMP. Ada nama Yusril Ihsan Adinatanegara. Siswa SMPN 1 Banyuwangi itu meraih Silver Medalist (Medali Perak). Ihsan langsung mendapat apresiasi dari sekolahnya. Apresiasi diberikan langsung oleh Kepala Sekolah SMPN 1 Banyuwangi M Shodiq. Di halaman sekolah setempat.
Sementara Nabila Zara dan Moses Markhesywan Ganda R meraih medali perunggu (Bronze Medalist). Nabila merupakan siswa SMP Bustanul Makmur Genteng. Dia tercatat sebagai juara nasional KSM (Kompetisi Sains Madrasah). Sedangkan Moses juara OSN (Olimpiade Sains Nasional).
Lalu masih ada Felicia Dahayu. Jagoan Banyuwangi itu menggenapi prestasi pelajar Banyuwangi. Dengan keluar sebagai 2nd Runner Up (Juara 3) beregu. Bersama David Maxwel Kwee, Joshua Mantan Kwee, dan Daniswara Ashraf Fachrian. Mereka tergabung dalam satu tim: Indonesia Sriwijaya.
Perjuangan anak-anak Bumi Blambangan itu sangat luar biasa. Sebelum sampai di ASMOPSS KE-14, mereka mengikuti beberapa seleksi ketat. Capaian mereka menjadi bukti. Bahwa anak-anak Kota Gandrung punya otak encer. Sekaligus bukti, bahwa pendidikan di kabupaten ujung paling timur Pulau Jawa cukup maju. Terutama di bidang matematika dan sains.
Maka, masuk akal bila apresiasi tinggi diberikan oleh para pihak. Termasuk Plt Bupati Banyuwangi Sugirah. ‘’Selamat kepada seluruh pelajar yang telah berlomba membawa nama baik Indonesia. Khususnya pelajar Banyuwangi,’’ ucapnya, saat menutup ASMOPSS ke-14. Di eL Hotel.
Sugirah menambahkan, berlomba di ASMOPSS merupakan pengalaman yang bagus. Sebab, bisa berkompetisi di level Asia. Dia pun mendoakan, semoga ke depan prestasi pelajar Banyuwangi lebih baik lagi. Lebih khusus lagi, ajang ASMOPSS menjadi inspirasi baik bagi seluruh pelajar Banyuwangi.
Capaian prestasi pelajar Banyuwangi di ajang ASMOPSS menjadi catatan sejarah penting. Bagi dunia pendidikan Banyuwangi. Menjadi tuan rumah bukan seperti durian runtuh dari langit.
Founder ASMOPSS Prof Yohanes Surya pasti punya pertimbangan matang. Kenapa ia dan timnya memilih Banyuwangi sebagai tuan rumah. Padahal, banyak kota besar yang prestasi pendidikannya jauh lebih maju dari Banyuwangi.
Mungkin, salah satu pertimbangannya adalah kesungguhan pengelola pendidikan di Banyuwangi. Seperti diketahui, Dinas Pendidikan Banyuwangi terus melakukan terobosan-terobosan dalam mengembangkan program pendidikan di Kota Welas Asih itu. Kerja sama dengan para pihak terus dibangun. Terutama para pihak yang punya kompetensi di bidang pembangunan dan pengembangan Pendidikan.
Salah satunya dengan Prof Yohanes Surya. Yang memperkenalkan metode GASING (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan) di Banyuwangi. Yakni, metode pembelajaran matematika selangkah demi selangkah. Metode itu membuat anak menguasai matematika secara gampang, asyik, dan menyenangkan. Sehingga matematika tidak lagi menakutkan bagi anak-anak.
Wa ba’du. Selama ini masih banyak anak enggan belajar menyukai matematika. Metode pengajaran matematika lama yang konvensional begitu menakutkan. Sebab, ini pengalaman penulis waktu kecil saat belajar matematika, dicecoki dengan hitungan, menghafal rumus, dan melihat angka-angka penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Itu benar-benar momok bagi pelajar. Meski ada sebagian pelajar yang mengatakan suka sama matematika. Tapi, saya kira, yang mengatakan seperti hanya sebagian kecil saja. Ha ha ha….
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin