Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pemilih Pokoke

Samsudin Adlawi • Rabu, 13 November 2024 | 17:02 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

TAK terasa. Pilkada makin dekat. Kurang setengah bulan. Per hari lagi (13/11)!

Para paslon (pasangan calon) gubernur-wakil gubernur, wali kota-wakil wali kota, dan bupati-wakil bupati makin sibuk. Mendekati rakyat. Menawarkan program. Mencari simpati rakyat. Yang punya hak pilih, tentunya.

Pendekatan itu dilakukan lewat kampanye. Tertutup (dan terselubung?). Juga kampanye terbuka. Sesuai tahapan dari KPU. Salah satu kampanye itu debat paslon. Sebanyak tiga kali. Disiarkan langsung lewat televisi. Agar masyarakat bisa ikut menyaksikan langsung. Dan, menjadikannya pertimbangan. Sebelum menjatuhkan pilihan. Untuk paslon pilihannya. Dalam bilik suara. Pada 27 November 2024 mendatang.

Benarkah debat paslon bisa memengaruhi calon pemilih? Iya. Hanya tidak terlalu pengaruhnya. Beberapa pengamat dan pakar mengatakan, dampak debat hanya sekitar 30 persen. Itu pun dalam kondisi, semua rakyat menonton. Faktanya banyak rakyat yang tidak menonton. Dengan berbagai alasan: tidak sempat, tidak ada waktu, sampai tidak tertarik.

Apa pun, debat tetap bisa memberi insentif bagi paslon. Debat paslon dibutuhkan oleh para pemilih rasional. Kelompok pemilih yang tidak asal pilih. Mereka membutuhkan informasi tentang profil paslon. Sebanyak-banyaknya. Sekomplet-kompletnya.

Bagi pemilih rasional, debat antarpaslon menjadi referensi. Dari debat, mereka bisa melihat paslon secara telanjang. Mulai gestur tubuhnya selama berdebat. Sampai kecerdasannya. Kapasitas paslon bisa diamati dari cara memaparkan program. Hingga saat menjawab pertanyaan lawan debatnya.

Pemilihan rasional selalu memakai takaran ilmiah. Setidaknya, ada tiga indikator yang digunakannya. Tidak tanggung-tanggung. Indikator mereka lazim dijadikan alat pemeringkatan hasil debat dalam forum ilmiah. Tiga indikator itu terangkum dalam rumus MMS. Yakni matter, manner, dan strategic.

Pemilih rasional akan melihat secara detail. Seperti apa matter atau isi debat yang dikemukakan paslon. Argumen macam apa yang dibangun paslon dalam forum debat. Mulai dari visi misi yang dijabarkan dalam program hingga argumen dalam menjawab dan bertanya. Jawaban dan atau pertanyaan yang diutarakan masuk akal atau asal jeplak.

Pemilih rasional juga sangat memperhatikan aspek manner. Seperti apa gaya paslon dalam menyampaikan argumentasi. Bagaimana cara berbicaranya. Sesuai etika menyampaikan pendapat. Pemilih rasional tidak suka pada paslon yang ofensif, tapi sebenarnya kosong. Ofensivitas itu sengaja dijadikan senjata untuk menutupi kekurangannya. Terutama kekurangan data. Atau, pengetahuan yang cekak. Daripada kelihatan tak menguasai materi, lebih baik tampil menyerang.

Strategi ofensif seperti itu bukan tak berdampak. Masih ada sebagian masyarakat—meski sedikit, yang suka pada figur paslon yang tampil menggebu-gebu. Berapi-api. Menyerang lawan lewat pertanyaan dan jawaban. Mereka tidak peduli pada isi dan bobot yang disampaikan paslon. Tak peduli pula apakah pertanyaan dan jawabannya sesuai tema atau di luar tema. Yang penting disampaikan dengan lantang dan memojokkan.

Ukuran ketiga yang dipakai kelompok pemilih ilmiah adalah strategi. Ketika berargumen, menggunakan metode atau cara seperti apa. Selain masuk akal, argumennya disampaikan secara runut atau mencolot-colot. Atau, mbulet koyok bolak rumet. Bukannya membuat orang menerima dengan jelas, melainkan malah membuat sesat pikir.

Dalam setiap pemilu, selain pemilih rasional juga ada pemilih irasional. Yakni, masyarakat yang menentukan pilihannya secara subjektif. Subjektivitasnya disebabkan oleh sikap pokoke. Pokoknya pilih paslon ini. Pokoknya paslon yang ini hebat. Lebih bagus dari paslon yang itu.

Sikap pokoke itu sebenarnya bisa rasional. Asal didasarkan pada kualitas memadai figur paslon. Bukan karena ada hubungan personal. Secara langsung maupun tidak. Berani tidak memilih paslon yang tidak cakap, misalnya. Sekalipun figur paslon itu masih kerabatnya. Gurunya. Pimpinannya. Satu alumni sekolah maupun pesantren. Atau satu partai dan organisasi.

Beda lagi dengan pemilih mengambang. Swing voters (SV). Mereka sejatinya pemilih rasional. Tapi, mereka dapat berubah pilihan. Setelah mengamati dalam waktu tertentu. Bahwa ide dan gagasan paslon pilihan sesuai yang diharapkan. Tapi SV beda dengan pemilih rasional yang sudah keukeuh pada pilihannya sejak awal. Sejak melihat dan merasakan langsung kelebihan figur pilihannya.

Wa ba’du. Anda termasuk kelompok pemilih yang mana? Kelompok pemilih mana pun, Anda tetap layak mendapat perhatian paslon. Para tim sukses paslon akan memperhatikan Anda. Bahkan, berusaha mati-matian mendekati Anda. Karena suara Anda—meski hanya satu suara, bisa menentukan kemenangan paslon.

*) Pekolom Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin
#pilgub #pilkada #mencoblos #pemilih #man nahnu #pilihan #pilbup #samsudin adlawi