MASIH ada saja yang bertanya. Mana yang benar: Gandrung Sewu atau Sewu Gandrung.
Sebenarnya, kedua frasa itu berterima. Tak peduli ”sewu”-nya di mana. Di depan atau belakang. Orang langsung mafhum maknanya. Yakni ada 1.000 (penari) gandrung.
Menjadi beda bila diteropong menggunakan kacamata bahasa. Tata bahasa Indonesia (Sutan Takdir Alisjahbana, 1936) menyebutkan, segala sesuatu yang menerangkan terletak di belakang yang diterangkan. Disebut hukum D-M (Diterangkan-Menerangkan).
Selain bahasa Indonesia, hukum D-M juga dipakai bahasa lain dalam rumpun Austronesia. Beda dengan bahasa dalam rumpun bahasa Indo-Eropa. Seperti bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Mereka menggunakan hukum M-D (Menerangkan-Diterangkan). Maka, ”gedung sekolah” menjadi school building (Inggris) dan ”kantor gubernur” menjadi gouverneur kantoor (Belanda).
Jadi, siapa pun, mulai sekarang biasakan menggunakan Gandrung Sewu. Jangan lagi Sewu Gandrung. Dalam ucapan maupun tulisan. Dalam berita di media maupun media promosi berupa baliho, spanduk, sampai flyer.
Selain bahasa (istilah/nama), ada beberapa catatan penting dari pentas spektakuler Gandrung Sewu (GS), 26 Oktober 2024 lalu. Catatan itu perlu digarisbawahi dengan tebal. Dengan harapan mendapat perhatian lebih. Dari para pihak terkait. Terutama panitia pelaksana dan tim GS.
Pertama, soal lokasi. Venue. Pantai Boom tak tergantikan. Sebab, sejarah GS lahir di hamparan panas Pantai Boom. Kalaupun berpindah tempatnya, hanya bergeser saja. Di awal-awalnya, GS digelar di timur pelabuhan rakyat. Seiring dengan pengembangan Pantai Boom, panggung GS bergeser ke arah selatan. Tepatnya, di timur amfiteater. Dulu, tenda undangan VVIP, VIP, dan reguler menghadap ke selatan. Kini berubah arah. Menghadap ke timur. Langsung memandang Pulau Dewata. Lebih eksotis. Rasanya.
Sayang, eksotisme itu terganggu backdrop GS. Sejak pindah ke selatan, backdrop GS selalu di tempat yang itu-itu saja. Sekaligus menjadi panggung para panjak. Juga pembawa acara. Bentuk backdrop GS kurang lebih sama. Tinggi dan lebarnya. Yang berubah hanya bentuknya. Menyesuaikan tema setiap tahunnya.
Lebar OK. Tingginya tidak OK. Terlalu tinggi. Cukup mengganggu pandangan mata. Menghalangi bola mata menangkap secara utuh lanskap Pulau Dewata yang sedang tidur pulas. Juga riak-riak ritmis ombak Selat Bali. Padahal, andai saja, backdrop GS dibuat agak rendah lagi, undangan dan penonton di sisi barat mendapat ketakjuban yang komplet. Menonton lenggak-lenggok seribu penari GS sambil menikmati indahnya Selat Bali. Berikut Pulau Dewata yang sedang telentang.
Kalau tidak percaya, silakan tim pembuat backdrop GS melihat kembali video GS 2024. Atau GS sebelum-sebelumnya. Terutama video dengan angle dari posisi undangan VVIP sampai reguler. Betapa mengganggu backdrop yang dibuatnya itu.
Masih di seputaran backdrop GS. Selain tingginya merusak lanskap, backdrop itu terasa aneh. Berdiri sendiri di hamparan ruang begitu luas. Hanya berteman tower sound di kanan-kirinya. Mengapa di kanan-kiri panggung panjak tidak dibuat pagar tertutup. Setinggi panggung panjak. Jangan lebih. Jangan kurang pula. Harus presisi. Pagar itu bertemu pagar di selatan dan utara arena menari GS.
Melihat panggung panjak, pagar itu tidak tinggi-tinggi amat kok. Hanya sepinggang orang dewasa. Pagar itu punya dua fungsi sekaligus. Pertama, menambah estetis panggung backdrop GS—tidak buntung. Fungsi kedua, membuat area sekitar backdrop tampak steril.
Pada GS 2024 kemarin area kanan dan kiri backdrop sangat kotor. Banyak orang berdiri di sekitar barong. Belum lagi yang wira-wiri. Seharusnya area itu bersih. Tidak boleh ada orang atau penonton. Dari panggung utama undangan, keberadaan banyak orang di sekitar backdrop sangat mengganggu pandangan mata. Ngeresek.
Akan menjadi berbeda jika, sekali lagi, di kanan-kiri backdrop ditambah pagar dicat hitam. Berapa pun orang di tempat itu tidak akan merusak pandangan mata. Kalau toh masih kelihatan, hanya kepala mereka yang tampak. Dan, itu bisa menambah keartistikan pentas GS. Menjadi foto mahal. Karena batas panggung GS menjadi jelas.
Pagar itu juga menutupi para penari gandrung yang sedang bergerombol. Leyeh-leyeh di kanan-kiri panggung backdrop. Sungguh tak elok, sekumpulan pementas sedang bercengkerama satu sama lain, hilir-mudik terlihat oleh penonton. Utamanya penonton undangan. Itu mengurangi surprise. Karena penonton sudah tahu lebih dulu beleger para penarinya.
Teori pertunjukan mengatakan, hingga menjelang pertunjukan dimulai, penonton tidak boleh tahu tontonan macam apa yang disaksikannya. Kita bisa belajar dari pertunjukan ludruk, Damarwulan, wayang orang, ketoprak, dan lain-lain. Pantang membuka layar sebelum pertunjukan dimulai. Kadang kita masih harus belajar manajemen pertunjukan pada kesenian tradisional. Yang sering dibilang kolot. Padahal, manajemen pertunjukannya sangat profesional.
Catatan berikutnya terkait materi pertunjukannya. Muncul pertanyaan, pertunjukan GS itu diperuntukkan kepada siapa. Untuk penonton baru atau penonton lama. Atau gabungan keduanya. Bagi penonton yang baru kali pertama menyaksikan, mereka dijamin akan bilang ”luar biasa”. Namun, tidak bagi yang beberapa kali menontonnya. Komen mereka beda lagi: ”Kok begini-begini saja ya. Hampir sama dengan tahun-tahun lalu”.
Komentar itu saya dengar langsung dari tim Kemenparekraf. Yang duduk di sekitar ya. Di deretan kursi tamu VVIP. Wajar mereka berkomentar seperti itu. Sebab, mereka ingin melihat dan mengevaluasi GS sebagai salah satu event dalam KEN (Karisma Event Nasional). Mereka memang wajib melakukan monev. Sebab, yang menentukan masuk tidaknya event dari seluruh tanah air dalam kalender KEN adalah tim Kemenparekraf.
Meski merasakan hal yang sama, saya memilih diam saja. Tak elok menyahutinya. Ada waktu dan forumnya sendiri. Untuk menyampaikan hal itu. Bila dibutuhkan, tentu saja. Kalau tidak diperlukan, ya tidak apa-apa. Cukup saya simpan sendiri. Sebagai bahan tulisan.
Yang sulit membedakan dengan GS sebelumnya adalah materi opening-nya. Masih menampilkan barong dengan pernak-pernik ikutannya. Entah apa alasan tim GS. Atau, tim GS malah tidak tahu soal suguhan tari pembuka itu. Entahlah. Sebenarnya, menyuguhkan materi yang sama dengan sebelumnya tidak apa-apa. Yang jadi masalah adalah pengulangan itu dilakukan apa adanya. Tak tampak menonjol tambahan (atau pengurangan) materinya. Penonton menjadi ilfeel. Boring. Menggerutu, ”Ya, itu lagi itu lagi”.
Wa ba’du. Catatan itu penting. Termasuk coretan-coretan pena untuk Festival Gandrung Sewu. Mestinya, GS yang dalam persiapannya diwarnai kontroversi adanya isu pungutan liar kepada peserta, dijawab dengan pertunjukan yang spektakuler. Tanpa cela dan cacat sedikit pun. Mulai dari tata panggung hingga tampilan GS.
Sedikit atau pun banyak, masukan dari siapa pun layak didengar. Dicatat dengan tinta tebal. Sebagai bahan evaluasi. Untuk perbaikan pelaksanaan GS tahun berikutnya. Apa pun masukannya—menyakitkan sekalipun, anggap sebagai vitamin. Suplemen terbaik untuk peningkatan kualitas diri.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin