PARA penyair Asia Tenggara akan berkumpul di Banyuwangi. Mereka mengikuti Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT). Selama tiga hari. Mulai 24–26 Oktober 2024. JSAT bagian dari 99 event Banyuwangi Festival.
Sekadar tahu, event Banyuwangi Festival terbagi dalam tiga klaster. Yakni, lokal, nasional, dan internasional. Jumlah event internasionalnya masih sangat sedikit. Bisa dihitung dengan jari di satu tangan. Sebelumnya sudah dihelat Banyuwangi Tour de Ijen (balap sepeda). Bulan ini ada JSAT.
Selain penyair dari seluruh nusantara, puluhan penyair Malaysia dan Singapura tercatat menjadi peserta JSAT. Mereka sangat antusias. Aktif berkomunikasi dengan panitia. Dalam hal apa saja. Terutama terkait persoalan teknis jambore. Juga, apa panitia menyiapkan jadwal khusus berwisata ke Ijen. Pertanyaan yang sama juga ditanyakan oleh banyak peserta daerah nusantara.
Pertanyaan itu sekaligus menjadi jawaban. Bahwa Pemerintah Daerah Banyuwangi, c.q bupati Banyuwangi, selalu menekankan bahwa event Banyuwangi Festival harus berdampak. Event apa pun. Dampak yang paling diutamakan adalah menumbuhkan angka kunjungan wisata. Berikutnya, sebagai ikutan, bisa memutar roda ekonomi masyarakat Bumi Blambangan.
Rumusnya sangat sederhana: makin banyak orang berwisata ke Kota Gandrung, semakin banter roda perekonomian Banyuwangi berputar. Mulai sektor penginapan, kuliner, destinasi wisata, hingga suvenir oleh-oleh. Makanya, pemerintah sangat senang terhadap event berkelas global. Tersebab dentuman yang ditimbulkannya sangat keras. Tersiar lebih luas.
Peserta JSAT 2024 bukan penyair tembre alias kaleng-kaleng. Mereka lolos kurasi. Menyingkirkan hampir seribu orang. Mekanisme kurasinya sangat ketat. Para calon peserta harus berkirim karya puisi. Boleh satu. Maksimal tiga. Temanya khusus. Tentang Banyuwangi. Yakni, ”Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu”.
Karya mereka selanjutnya dikurasi oleh I Wayan Jengki Sunarta (Bali), Mahwi Air Tawar (Redaktur Majalah Horison), dan Mutia Sukma (Jogjakarta). Kurasinya sangat ketat. Kurator hanya memilih 150 karya dari 150 penyair. Karya yang lolos kurasi menjadi dua golden ticket sekaligus. Pertama, dimasukkan ke dalam buku antologi JSAT. Bukunya eksklusif. Berjudul Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu. Kedua, penyair yang karyanya lolos berhak mengikuti jambore sastra di Bumi Blambangan. Selama tiga hari. Semua akomodasi ditanggung panitia.
Semua peserta sengaja diinapkan di Kemiren. Sebab, hanya di sana yang punya homestay paling banyak. Dengan tinggal di satu kawasan, memudahkan koordinasi. Baik antara panitia dengan peserta, maupun antarpeserta. Biasanya, peserta suka kumpul-kumpul. Membentuk forum-forum kecil. Saling bertukar informasi. Tentang perkembangan sastra di daerahnya sampai proses kreatif. Juga isu-isu terkini tentang sastra. Mumpung ketemu. Diskusinya bisa sampai Subuh.
Keuntungan lainnya, peserta bisa menangkap atmosfer Desa Adat Kemiren. Salah satu desa yang masih lestari budayanya. Mulai rumah adat, atraksi seni, ritual, hingga kulinernya. Di hari terakhir, Ahad pagi, peserta bisa menikmati pasar kuliner khas Kemiren. Tempatnya tidak jauh-jauh. Di sekitar tempat mereka menginap. Begitu membuka pintu homestay, mereka sudah bisa belanja dan menikmati penganan dan jajanan tradisional Kemiren.
Tapi, peserta datang tidak untuk bersenang-senang. Di hari kedua, mereka harus menjalankan ”tugas” kepenyairannya. Lewat program ”Penyair Goes to School”. Panitia menyebar mereka ke sekolah SMP/MTs dan SMA/MA se-Banyuwangi. Para kasek/atau perwakilan menjemput para penyair di Kemiren. Dibawa ke sekolahnya. Selama di sekolah, di hadapan siswa dan guru, para penyair menyampaikan materi tentang puisi. Mulai proses kreatif menulis puisi hingga bercerita tentang kehidupan sastra di kotanya. Selain itu, para penyair akan menunjukkan kebolehannya membaca puisi.
Diharapkan, sekolah (khususnya anak-anak Banyuwangi) ikut merasakan dampak dari pelaksanaan JSAT. Bahwa JSAT juga menjadi bagian dari mereka. Bukan milik panitia semata. Dengan begitu, gaung pelaksanaan JSAT juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Banyuwangi.
Di hari ketiga, peserta mengikuti seminar sastra. Narasumbernya beken-beken. Ada Prof Warsito SSi, DEA PhD, D. Zawawi Imron, Dr Riri Satria, dan Sofyan R.H. Zaid. Seminar mengangkat tema ”Revitalisasi Sastra Lokal, Memperkaya Sastra Nasional”. Dipandu oleh moderator penyair penggagas Putiba, Dr Tengsoe Tjahjono.
Seminar di Gedung Tua Marina Boom itu diakhiri dengan pembacaan Maklumat Lembah Ijen. Maklumat berisi sikap penyair terhadap perkembangan kehidupan sastra mutakhir. Setelahnya ditandatangani oleh seluruh penyair Asia Tenggara. Peserta JSAT.
Sebagai ”hadiah”, para penyair Asia Tenggara bergeser ke Pantai Boom. Menonton kehebohan pergelaran Gandrung Sewu. Salah satu event unggulan Banyuwangi Festival. Melibatkan 1.350 penari gandrung anak-anak dan remaja. Mereka menari di hampar pasir pantai yang panas.
Peserta juga punya kesempatan melengkapi ”hadiah spesial” itu dengan mendaki Gunung Ijen. Menyaksikan keindahan api surga ”blue flame”. Hanya itu yang bisa dilakukan DKB (Dewan Kesenian Blambangan) selaku panitia kepada pemkab Banyuwangi. Yakni, membantu syiar pariwisata kota the Sunrise of Java. Selebihnya adalah bonus. Yakni, ketika para peserta JSAT menuliskan pengalamannya selama di Banyuwangi. Lewat kata-kata indah. Promosi lewat puisi, konon, lebih menyentuh hati. Bisa menyokong tagline pemkab, ”Sekali ke Banyuwangi, Anda Pasti Selalu Ingin Kembali”.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin