JANGAN lupa: 27 November 2024!
Meski hanya satu kalimat. Orang langsung mafhum. Maksud dari seruan itu. Harusnya begitu. Karena biaya sudah banyak dikeluarkan. Oleh KPU. Untuk menyosialisasikan pilkada serentak. Sekaligus menyukseskannya.
Sukses pemilihan umum kepada daerah juga tergantung kontestannya. Yakni, para paslon. Pasangan calon yang berkontestasi. Pasangan calon gubernur-wakil gubernur. Calon walikota-wakil walikota. Dan, calon bupati-wakil bupati.
Mengingatkan kembali, pilkada serentak 2024 digelar di 545 daerah. Diikuti 1.553 paslon. Rinciannya: sebanyak 103 paslon gubernur-wakil gubernur, walkot-wawalkot 284 paslon, dan 1.166 paslon bupati-wakil bupati. Lebih rinci lagi: 37 paslon akan melawan kotak kosong—karena tidak ada lawan. Sedangkan 53 paslon merupakan calon independen—tidak diusung partai politik atau gabungan partai politik.
Sebanyak 1.553 paslon itu punya tanggung jawab besar. Terhadap ketenteraman umum. Mereka boleh bersaing. Tapi kepala tetap harus dingin. Jangan sampai menjadi provokator. Jangan main kayu. Tidak boleh melakukan kampanye hitam. Berkampanyelah yang elegan. Tidak memaksakan kehendak. Biarkan rakyat memilih atas kemauannya sendiri. Hormati kehendak masyarakat.
Lalu paslon mana yang harus dipilih. Pilih paslon yang mau merangkul. Bukan yang (punya suka) memukul. Coblos paslon yang jujur. Bukan yang tak gemar mengingkari tuturnya. Pilih paslon yang gemar tampil apa adanya. Bukan yang mengada-adakan apa yang tidak ada. Yang pekerja keras. Pasang badan untuk masalah-masalah rakyat. Menginfaqkan seluruh hidupnya untuk daerah dan rakyatnya. Selanjutnya, pembaca budiman, silakan tentukan sendiri!
Bila ada pemimpin seperti itu (gubernur, walikota, dan bupati), rakyatnya patut bersyukur. Daerah yang dipimpinnya pasti akan terus berkembang. Maju. Dan, terus maju. Rakyatnya Makmur. Bermandikan keejahteraan. Tak sulit mencari pekerjaan. Pendapatannya naik.
Tapi paslon masih harus bekerja ekstra keras. Sebelum sampai di tahap itu. Terutama paslon yang melawan incumbent. Mereka harus ‘menjual’ program baru. Yang lebih menjanjikan dari program lawannya, tentunya. Sebaliknya, calon yang maju lagi lebih santai. Lebih diuntungkan. Ia tinggal memoles program-program yang sudah dijalankan selama masa bakti sebelumnya. Tinggal mempertajam dan memperluas cakupannya. Atau, menambah program-program baru. Yang sangat dibutuhkan oleh rakyat. Untuk meningkatkan kesejahteraannya. Yang dibutuhkan daerah. Untuk kian memajukannya.
Namun, kehati-hatian tetap harus dilakukan oleh para paslon. Petahana maupun yang baru maju. Bagi petahana harus tetap rendah hati. Tidak sampai over convidence. Percaya diri berlebih bisa menjadi senjata makan tuan. Seperti sigung menggali kuburnya sendiri.
Sekalipun hasil survei menyatakan elektabilitasnya tak tertandingi. Ikhtiar tetap harus dijalani. Jangan sampai mengimani hasil survei mengalahkan imannya kepada takdir Tuhan, Allah swt. Survei paling valid pun tak akan bisa mengalahkan qadarullah. Karenanya, keyakinan bahwa hasil survei, tak kurang dan tak lebih, harus disikpai sebagai penebal keyakinan kepada takdir Allah.
Juga tak kalah penting bagi paslon adalah menjaga kesolidan tim. Tim pemenang maupun tim-tim yang lain. Jangan biarkan tim-tim itu jalan sendiri-sendiri. ‘Main’ sendiri-sendiri. Tugas itu kelihatan sepele. Tapi ketika sampai menyepelekannya, dampak besar harus ditanggung. Misal, salah satu tim (sebut saja: tim pemenangan) keliling mendatangai donatur untuk biaya kampanye dll, sementara hasilnya tidak dilaporkan atau dilaporkan tapi tidak semua, itu bisa menjadi bom waktu.
Kelak, orang yang dimintai dana akan bengok. Terutama bila nama mereka tidak masuk dalam daftar donator resmi. Yang lazim dalam pemilihan umum. Sejumlah orang sengaja membantu dana kepada paslon, sebagai ‘bensin’ dalam perjuangan paslon.
Dalam pemilu umumnya, paslon seperti pengantin. Tapi bukan mempelai biasa. Banyak orang mendatanginya. Kenal baik atau kenal jauh dengan si mempelai. Bahkan, ada yang tidak kenal sama sekali. Yang terakhir itu sengaja mendatangi pengantin. Karena ingin mendapatkan sesuatu. Makan gratis sepuasnya, misalnya. Paslon harus berhati-hati terhadap kehadiran orang atau oknum yang tiba-tiba datang. Mereka sengaja terus berada di sekitar dirinya. Supaya terbingkai dalam foto bersama paslon. Kelak, ketika si paslon menang, sangat mungkin oknum seperti itu tak segan mengeklaim dirinya punya ‘saham’ atas kemenangan itu. Kalau ngeklaim saja sih tak masalah. Menjadi bermasalah besar ketika yang bersangkutan menagih ‘ongkos perjuangannya’. Kalau tidak dikasih ia ‘bernyanyi’ ke mana-mana.
Satu lagi. Paslon jangan suka obral janji. Sering kejadian, saat kampanye para paslon menebar angin surga. Janji muluk-muluk. Hanya untuk menarik simpati. Agar orang mau menyoblos gambarnya. Kelak saat di dalam bilik suara. Bahkan, kerap janji yang diucapkan tak terukur. Tak masuk masuk akal.
Janji seperti telontar, biasanya, sebagai refleks. Menjawab permintaan warga. Baik ketika kampanye maupun di momentum lainnya. Agar tampak seolah-olah sebagai pemimpin baik, apapun permintaan warga diiyai. Dengan janji-janji. ‘’Kalau, saya menang, saya berjanji akan mengabulkan permintaan bapak dan ibu. Maka pilihlah Saya,’’ kalimat itu sering keluar dari mulut paslon saat kampanye.
Tidak bolehkah paslon memberi janji saat kampanye? Boleh-boleh saja. Asal janjinya terukur. Tidak asal janji. Yang pada akhirnya menjadi pepesan kosong. Janji terukur maksudnya janji yang selaras dengan program-program yang sedang dikampanyekan. Di luar program yang ‘dijual’, seyogianya dihindari. Karena hanya akan menjadi beban tugas tambahan saat menjabat.
Wa ba’du. Janji terukur itu juga terkait dengan waktu. Sebisa mungkin hindari janji mememuhi permintaan calon pemilih sebelum sebelum coblosan. Karena bila tidak terealisasi, janji seperti itu sama halnya dengan menggali liang kubur sendiri. Karena merasa di-PHP, dipreng, para pemilih akan ramai-ramai pindah ke lain hati. Memilih paslon yang lain. Sambil mencak-mencak: ‘’Belum jadi saja sudah ingkar janji. Lupa pada janjinya sendiri. Apalagi kalau sudah jadi’’.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin