Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengunduh Berkah Ekosistem Pariwisata Terbaik

Samsudin Adlawi • Rabu, 25 September 2024 | 17:07 WIB

Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

KALAU mau melihat ekosistem pariwisata terbaik di nusantara, datang ke Banyuwangi.

PERNYATAAN itu bukan dari saya. Bukan juga dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Tapi dari orang nomor satu di bidang pariwisata Indonesia. Penanggung jawab pemajuan pariwisata bangsa ini. Yaitu, Sandiaga Salahuddin Uno. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI. Saat berkunjung ke Kota Gandrung. Untuk kesekian kalinya!

Sandiaga tidak sedang ngecap. Ia menyampaikan apa adanya. Apa yang dilihat. Dan, bahkan, dirasakan secara langsung. Sudah lama ia mencitra apa yang dilakukan Banyuwangi. Seperti apa perkembangan pengelolaan pariwisata di ujung paling timur Pulau Jawa itu.

Sandi pun tahu betul. Bahwa aksesibilitas, amenitas, dan atraksi (3A) yang dimiliki Bumi Blambangan sangat lengkap. Bukan hanya itu. Kota the Sunrise of Java terus meningkatkan kualitas bagian paling penting (3A) dalam pengembangan pariwisata tersebut.

Salah satu contoh nyatanya, Sandiaga memberi contoh, Banyuwangi selalu menghadirkan event yang terus meningkat kualitasnya. Atraksinya selalu bertambah variasianya. Amenitasnya juga makin ciamik. Hotel, restoran, rumah makan, termasuk area terbuka untuk olahraga berkembang luar biasa.

Ke Banyuwangi sekarang juga sangat mudah. Aksesnya sangat mumpuni. Dari Jakarta orang bisa terbang langsung ke Banyuwangi. Setiap hari. Ogah naik pesawat. Ingin santai naik kereta boleh juga. Tersedia kereta api relasi Pasar Senen di Jakarta sampai Stasiun Ketapang, Banyuwangi. Juga melayani perjalanan kereta setiap hari.

Akses ke Banyuwangi makin komplet. Setelah, kelak, tol Probowangi tembus sampai Banyuwangi. Akhir 2024, pembangunan Seksi 1 dari Gending sampai Besuki sudah tuntas. Kemudian dilanjut tahun depan. Tahap 2 dari Besuki hingga Banyuwangi. Sepanjang 125,72 kilometer. Kepastian itu disampaikan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Saat melihat BEC (Banyuwangi Ethno Carnival), 14 Juli 2024 lalu.

Berkembang pesatnya Banyuwangi membuka peluang bisnis pariwisata. Yang terbaru, akan (kembali) beroperasi kapal cepat. Dari Bali ke Banyuwangi. Pun sebaliknya. Seperti dikabarkan Menparekraf. ”Yang baru saja kami launching. Maka semakin mantaplah,” kata Sandi, sesaat setelah membuka jalur wisata 3B di Pantai Marina Boom (21/9/24).

Sekadar tahu, beberapa waktu lalu dirintis kapal cepat Banyuwangi–Bali PP. Jalan beberapa kali. Lalu gagal. Tak berlanjut. Penyebabnya, barangkali ini: trayeknya terlalu jauh. Pantai Boom–Pengambengan, Denpasar. Dan sebaliknya. Ketika itu, harapan sempat muncul. Bakal menjadi pembuka akses laut baru. Selain penyeberangan Ketapang–Gilimanuk. Yang makan waktu lama bongkar-muatnya. Maklum. Trayeknya melayani angkutan umum. Bukan khusus pariwisata.

Selain jarak tempuh yang panjang, program itu tak punya fondasi yang kuat. Hanya berupa ide bisnis swasta. Murni nonpemerintah. Program 3B berbeda. 3B program pemerintah. Dikenalkan langsung oleh Menparekraf Sandiaga Uno. Jadi, punya pijakan kuat. Dapat sokongan penuh dari Kemenparekraf. Tentu, Kemenparekraf tidak asal membuat program. Pasti sudah melalui kajian mendalam.

Kalau programnya sampai tidak jalan, yang malu bukan pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Pemprov Bali, dalam hal ini Kabupaten Buleleng, juga nothing to lose.

Program 3B menawarkan perpaduan beberapa destinasi. Kekayaan potensi wisata di tiga daerah. Yakni Banyuwangi, Bali Barat, Bali Utara. Disingkat menjadi 3B. Akses menuju ke tiga lokasi dikoneksikan jalur laut. Menggunakan kapal cepat. Melahap rute Pantai Boom menuju Pantai Lovina di Buleleng.

Sandi yakin benar. 3B akan nge-hit. Menjadi magnet baru. Menawarkan keindahan alam dan budaya. Ditunjang kuliner-kuliner kaya rasa.

Destinasi unggulan Banyuwangi, tentu, akan menjadi suguhan utama paket 3B. Sebut saja Taman Wisata Alam Kawah Ijen dengan fenomena blue flame (api biru)-nya yang mendunia. Ditambah Pantai Teluk Ijo dan Pulau Merah yang memesona. Juga hutan langka De Djawatan dan Pantai Sukamade—rumah bertelur beragam jenis penyu. Pengalaman Banyuwangi mengelola atraksi wisata berkelas global juga menjadi daya tarik tersendiri.

Bagaimana dengan destinasi di 2B (Bali Barat dan Bali Utara)? Tak kalah memikat. Bali Barat punya spot surfing. Letaknya di Pantai Medewi. Lalu taman nasional dengan koleksi fauna endemik jalak Bali. Sementara Bali Utara menawarkan Desa Wisata Tembok, Desa Wisata Les, Pamutaran, dan Pantai Lovina.

Melihat potensi destinasi yang ditawarkan, Sandi optimistis. Paket wisata dalam program 3B bisa memikat wisatawan. Terutama wisatawan mancanegara (wisman). Di antaranya wisman asal Tiongkok dan Taiwan. ”Gunung Ijen masuk dalam top of mind wisatawan China,” ungkap Sandi.

Program 3B sangat strategis. Karena bisa mengurangi beban Bali Selatan. Wilayah Seminyak, Kuta, Legian, Jimbaran, Benoa, Nusa Dua, Uluwatu, dan Pecatu merupakan destinasi favorit wisatawan. Lokal maupun mancanegara. Kini, kondisinya sudah jenuh. Paket 3B menjadi strategi jitu untuk mengurangi kejenuhan itu.

Sebaliknya, bila 3B berjalan optimal bisa menjadi trigger bagi tumbuh-berkembangnya wisata dan ekonomi Banyuwangi. Bandara Banyuwangi sangat mungkin akan kembali mendapat status sebagai bandara internasional. Dengan membuka rute penerbangan internasional baru. Dari Tiongkok langsung ke Banyuwangi PP. Juga Taiwan langsung ke Banyuwangi PP.

Wa ba’du. Itu bukan hil yang mustahal (menirukan pelawak alm Asmuni). Itu menjadi kebutuhan jika wisman asal Tiongkok dan Taiwan memilih mendarat di Banyuwangi daripada di Bali. Dari Banyuwangi mereka baru menuju Bali Barat–Bali Utara dan dilanjut ke Bali Selatan. Semoga!

*) Pekolom Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin
#sandiaga uno #Menparekraf #pariwisata #man nahnu #banyuwangi #samsudin adlawi